Designed by Freepik

HBH Masjid Salman ITB 2025
Pelataran Rumput Masjid Salman, 27 April 2025

Sehabis menikmati sarapan -bersama para olah ragawan Minggu pagi- di sebuah warteg, sisi pertigaan Jln. Ir. H. Djuanda – Jln. Dipati Ukur; saya menuju Jln. Ganeca.

Ada HBH Masjid Salman ITB.

Jauh sebelumnya, beberapa kawan yang dulu, 29 tahun lalu, waktu masih sebagai mahasiswa, melakukan kegiatan bersama di Masjid Salman ITB, menyatakan akan hadir.

Uda Edu Edward Abdurrahman, berangkat pagi sekali dari Pondok Bambu, Jakarta Timur, sehingga pk 08.00, ia sudah tiba di Salman – rumah ibadah yang menjadi model dalam pembinaan jamaah bagi banyak masjid kampus di seluruh Indonesia.

Sepanjang berjalan kaki, rentang Dago Simpang – Ganeca, di trotoar, saya berjumpa dengan banyak kelompok gowesers yang sedang beristirahat.

Sambil mengobrol dengan sesama pesepeda, mereka menikmati suasana udara segar dan rimbunnya pepohonan besar Bandung Utara, diselingi santapan makanan dan minuman yang mereka bawa sendiri -dari rumah atau membelinya di perjalanan.

Gender, usia, sepeda, dan busana mereka berbeda-beda.

Yang sama adalah semuanya terlihat santai, akrab, dan ceria.

Kursi-kursi dan meja-meja kecil yang difasilitasi Pemda, yang dipasang sepanjang trotoar, memberikan manfaat bagi banyak pesepeda dan para pejalan kaki –seperti saya, untuk sejenak melepas lelah.

Tepat di lurusan Jln. Dayang Sumbi, masih di kaki 5 Jln. Dago, belahan timur, seberang Bank CIMB, saya memotret pohon Afrika –yang dipercaya banyak orang sebagai obat herbal mujarab untuk mengatasi diabetes.

“Buat apa, moto-moto pohon segala?”

Dua hari sebelumnya, Kapten Awan, teman SMA, mem- posting hal keampuhan Daun Pucuk Merah untuk menurunkan kadar gula darah; sementara Kang AdeH -asli Cikajang, Garut, bilang, “Daun Afrika lebih bagus, cenah!”

“Tapi, hati-hati mengonsumsi herbal. Harus terukur. Ibu dari tetangga kami, minum obat herbal –mungkin tak pakai takaran, gula darahnya drop. Dikira anaknya sedang tidur, rupanya koma!” Jatty –asal Siti Munigar dan menetap di Margawangi, Cijawura, mengingatkan.

Nah, barangkali ada yang mau menanamnya, dari pohon yang tumbuh sangat subur di pinggir jalan ini, tinggal potong saja sebagian dahannya.

Dengan penyetekan, batang yang telah dipotong itu akan cepat mengeluarkan pucuk; sementara batang dari pohon utama, tak lama kemudian akan mengeluarkan dahan atau ranting baru.

Tanaman Afrika adalah salah satu flora yang paling mudah tumbuhnya, jauh lebih cepat mengeluarkan ranting dan daun dibanding tanaman lainnya.

“Kok, tahu?”

“Kebetulan; bersama anak-anak Ar-Rahmah, saya tukang nyetek aneka tanaman.

Ada tumbuhan yang mudah atau sangat mudah disetek. Ada yang sulit tumbuh, ada yang harus disungkup –ditutup plastik, dan banyak yang perlu dicangkok -tak bisa dengan penyetekan”

Setelah memotret itu pohon, ditambah dengan mengeplot lokasinya, saya kirim kepada kawan-kawan. Lalu, perjalanan kaki dilanjutkan.

Di pelataran rumput masjid, saya masuk ke kumpulan hadirin yang menghadap panggung, yang pada dinding belakangnya bertuliskan huruf-huruf besar:

HALAL BIHALAL SALMAN ITB –Membangun Jejaring, Mengikat Tali Persaudaraan .”

Pas mau duduk, ada suara menegur. “Kang, kenalkan ini mentor Aisyi.”

Nama yang disebut adalah anak bungsu dari Uda Edu –sahabat saya di Salman, sejak 29 tahun lalu.

Bersama keluarga, ia sering bersilaturahmi ke tempat kami. Saya pun beberapa kali ke rumahnya.

Di barisan paling belakang, saya duduk. Pak Suwarno –Guru Besar Elektro, Ketua Pengurus Masjid Salman, memberikan sambutan.

Prof. Dr. Ir. Suwarno, dalam sambutannya, berbicara mengenai para founding fathers Masjid Salman ITB.

Beliau, antara lain, menyebut nama-nama: Prof. T.M. Soelaiman, Achmad Sadali, Achmad Nu’man, Ajat Sudrajat, Bang Imad (Dr. Imaduddin Abdulrahim), Pak Rusyad Nurdin, Pak Mu’thi Nurdin, dan yang lainnya.

Kemudian, dalam takshow bertema: “ Dari Salman untuk Bangsa -sebuah refleksi sejarah ; bersama Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, Dr. Ahmad Husin Lubis, Bang Mus (Dr. Muslimin Nasution), berkisah tentang perjuangan para founding fathers Salman.

Untuk melengkapi apa yang disampaikan Bang Mus, dengan sedikit perubahan redaksional, saya kutip dari salmanitb.com dan sumber lainnya:

“Siapa itu shahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” sambil menoleh pada orang di sampingnya, Presiden Soekarno, bertanya,

Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI -waktu itu, menjawab, ”Salman.”

”Nah itu! Masjid ini saya namakan Salman.”

Rasa senang yang memuncak, bercampur haru yang menderu, menyelimuti wajah-wajah Prof. T.M. Soelaiman, Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat -yang sengaja datang dari Bandung.

Betapa tidak, saat itu, adalah masa-masa:

Ketika seorang mahasiswa meminta izin untuk salat Jumat, dianggap ganjil.

Apabila seorang laki-laki bersarung, dibilang, “Wah Arab, nich!

Kepada yang mau melaksanakan salat, “Eh, kamu mau salat, titip salam buat Tuhan, ya!”, menjadi sesuatu yang lumrah.

Saat para tokoh Islam ditangkap dan dipenjarakan di Madiun.

Waktu betapa sulitnya mendapatkan izin untuk membangun masjid di depan kampus ITB!

Sampai-sampai, Rektor ITB, saat itu, Prof. Ir. O. Kosasih, pun pada awalnya menolak rencana dibangunnya masjid di sekitar kompleks ITB.

Alasannya: “Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis juga minta Lapangan Merah di ITB!”

Tahun 1963, Ahad pagi, dari Istana Negara, sejarah Salman bermula.

Tahun 1960-an, apabila mahasiswa ITB hendak jumatan –melewati Balubur, mereka harus berjalan kaki ke Jln. Cihampelas, menempuh jarak yang tidak dekat.

Prof T.M. Soelaiman, Achmad Sadali, Imaduddin Abdulrachim, Mahmud Junus, dan beberapa rekan lainnya, tidak lantas menyerah.

Para perintis masjid ini, menggalang dukungan kepada ke mana-mana.
Dan, atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, usaha keras mereka, membuahkan hasil.

Untuk penyiapan lahan masjid, adalah seorang aktivis Dewan Mahasiswa (Dema), waktu itu, sangat berjasa, namanya Muslimin Nasution.

Seorang dosen Planologi beragama Kristen, Drs. Woworuntu, menyatakan dukungannya.

Prof. Roemond, seorang Belanda yang menjadi ketua Jurusan Arsitektur, pun ikut mendukung.

Akhirnya, setelah melobi ke sana-kemari, Presiden Soekarno, memberikan restu untuk dibangunnya Masjid Salman ITB.

Hal ini mendorong, Rektor ITB untuk memberikan izin.

Pada tanggal 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB, untuk pertama kalinya dipakai untuk Salat Jumat.

Sebelum talkshow, Rektor ITB, Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara, menyampaikan beberapa patah kata, di antaranya, beliau berkata, “Saya tahu, saya tak diharapkan berbicara lama …, “ yang disambut senyum hadirin.

“SALMAN itu kayak WANADRI, sekali ikut Pendidikan Dasar Wanadri, ya selamanya menjadi anggota Wanadri.

“Orang-orang Salman menjadi yang terdepan dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.”

Selanjutnya, Prof. Hermawan K.D., menyampaikan ceramah, berkisah tentang perjalanan menuju kesempurnaan.

Perjuangan para pendahulu dalam membangun Salman, berbagai penderitaan dan kesulitan, adalah proses menuju kesempurnaan.

Termasuk ke dalam proses menuju kemanusiaan adalah kepandaian memaafkan.

Memaaflkan kepada mereka yang telah berbuat salah kepada kita, sehingga kelak, ketika kita kembali ke dalam kasih dan sayang-Nya, diseru:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ
ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى
وَٱدْخُلِى جَنَّتِى

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku!”

Menjelang ceramah selesai, dengan teman-teman yang dahulu, 29 tahun lalu, bersama dalam kegiatan di Salman, duduk bareng sambil mengobrol sejenak, di Kantin Salman..

Tadinya, sih, mau mendinginkan mulut bersama ice cream atau menghangatkannya dengan teh panas. Tak jadi.

Speaker dari arah masjid mengumumkan bahwa azan Zuhur akan segera berkumandang.

Sesudah salat, Uda Edu mengajak makan bersama. Kaum Ibu yang lebih tahu di mana tempat yang enak untuk hal ini, mengajak ke Café 180, Jln, Ganeca 3, dekat masjid.

Kabarnya, kafe artistik ini, milik Pak Acmad Nu’man –arsitek Masjid Salman, adik dari Pak Sadali.

Menyantap makanan sedap, sembari mengobrol santai dengan kawan-kawan lama (lama sekaleee!), nikmatnya tiada dua! Thanks, Uda Edu atas traktirannya.

Pemda yang menyediakan kursi-kursi di trotoar; panitia, para pengisi acara, dan hadirin HBH, satu sama lain saling membahagiakan.

Kata pepatah, “Bahagiakanlah Dirimu dengan Membahagiakan Orang Lain!”

Bagaimana dengan yang mengajak teman-teman makan bersama, di tempat yang nyaman dan mengasyikan?

It goes without saying. Geus teu kudu dicaritakeun deui. Komo deui, eta mah!

Ciomas, 22 April 2025, menjelang Subuh. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar