Notes on Jonih Rahmat's life journey

Diingatkan

Biasanya, saya mulai buka hp setelah selesai “paket Subuh”: shalat bersama anak2 Ar-Rahmah, diikuti dengan pembacaan asma-ul-husna, belasan shalawat, dan doa untuk banyak orang.

Setelah itu, beberapa halaman dari Al-Quran, saya baca. Baru, kemudian, membuka telepon genggam, melihat pesan2 via WA.

Tapi, tadi pagi, sebelum pergi ke masjid, ada rasa ingin menyalakan ponsel , barangkali ada berita yg perlu segera dibaca.

“Kang, adikku meninggal… akan dimakamkan pk. 07.30, di Jeruk Purut.” Pesan itu masuk tadi petang; tapi, saya baru membacanya setelah azan Subuh.

Dengan diantar seorang kawan, segera sesudah shalat Subuh -tanpa baca wirid yang panjang itu, kami menuju Jakarta.

Pukul 07.00, sudah tiba di Jln. Rawa Bambu I, kediaman almarhumah. “Tapi, kok, sepi. Pagar pun tertutup.”

“Kita ke Jeruk Purut!”

Maih pagi, hujan turun rintik2. Pada posisi di atas makam dan tempat duduk keluarga, sudah terpasang tenda yang kokoh.

Dari area pemakaman di tengah kota itu, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yg dekat: Kompleks POLRI, Jln. Ampera Raya. Masih di Jakarta Selatan.

Seorang senior kami di Pertamina EP, terbaring di tempat tidur. Tidak bisa diajak komunikasi. Sehabis mendoakannya, bersama istri dan putri pasien, kami mengobrol di ruang tamu.

“Bapak, Ibu, dan mertua Bapak, dulu, pernah ke tempat kami, di Ciomas,” saya memulai kata.

“Mertua Bapak, maksudnya orangtua saya?” sahut Ibu.

“Iya.”

“Saat kami mempersilakan duduk, Bapak dan Keluarga bingung; mau duduk di mana?”

“Istri saya menyodorkan tikar, untuk alas selonjoran. Ketika itu, kursi belum masuk ke rumah kami.”

“Saat di Dinas Bang Usaha EP, Divisi JIAN, Bapak pernah mau menghajikan saya. Tapi, saya belum bersedia, karena ingin konsentrasi dulu di kegiatan sosial.”

Kami mengobrol mengenai banyak hal. Tuan rumah sempat berkata, “Alhamdulillah, saya dapat banyak ilmu, nich!”

Selesai bincang2 ringan, dari Ampera Raya, kami ke RSPP, menjenguk senior lainnya yg dirawat sejak beberapa hari lalu.

“Dengar Bapak masuk RS, saya kaget. Kan, malamnya WA saya, menanyakan hal Shalat Iftitah!”

“Iya, pagi-pagi, saya jatuh di rumah. Terus dibawa ke sini.” Beliau terserang stroke

Pasien ditemani seorang putranya –yang arsitek. Kepada yg sakit dan anaknya, sy bilang, “Ibu (istri pasien), dulu, pernah ke rumah kami, di Bandung pinggiran.”

Waktu anak pertama kami, Bila, dilahirkan; istri atasan langsung ketika berdinas di Pertamina UEP III, Cirebon, itu datang ke rumah panggung kami, di Cibolerang.

Dari RSPP, kembali ke Bogor, lewat Depok. Ada yang perlu ditemui di kota bekas salah satu kecamatan milik Kabupaten Bogor itu.

Dalam kendaraan, di perjalanan yang mulai macet oleh orang2 yg pulang dari kantor menuju rumah masing2; pedagang aneka hidangan berbuka di pinggir jalan; dan para insan yg sejak pagi menahan lapar, berbelanja makanan; saya merenung.

Pagi dan siang; dipertemukan dengan orang2 yg tertimpa musibah: yg wafat dan yg sakit. Berjumpa dg yg terbaring, berbicara kurang lancar hingga yg tak mampu bersuara.

Merasa diingatkan: musibah bisa datang kapan saja, di mana saja, dan bisa menimpa siapa saja.

Kepada keluarga yg terbaring, saya sampaikan, “Kalau Allah berkehendak, separah apa pun sakitnya; mudah Ia menyembuhkannya.”

Saya ceritakan 2 kejadian: orang yg fungsi ginjalnya tinggal 5 %, setelah pembacaan shalawat oleh tetangga sekampung; dan orang yg kena kanker otak stadium-4, sesudah mendawamkan tahajud; keduanya sehat kembali.

Terhadap keluarga yg ditinggal pergi, menghadap ilahi, “Semoga sakitnya yg lama itu, menjadi penggugur dosa2nya, sehinga ia pulang dalam keadaan lapang.”

Pada kedua pihak yg berduka, keluarga yg sakit dan yg pergi –setelah sekian tahun sakit, “Orang sakit, setiap hari, dosanya berguguran. Tanpa istigfar, sekalipun!”

Jika Allah menghendaki, apa pun bisa terjadi. Termasuk menyembuhkan orang2 yg sakit parah.

Atau, sebaliknya: orang sehat, sehabis olah raga, tertidur; dan tak bangun lagi. Saya sampaikan contoh2 kasus keduanya.

Pesan Moral:

Dengan musibah2 di atas, kita diingatkan agar -dalam segala hal- perlu lebih berhati-hati; dan, jangan lupa, senantiasa memohon perlindungan-Nya.

Ciomas, 03/03/’26; menjelang tengah malam.

Salam, Jonih Rahmat -Pengasuh Anak2 Yatim/Duafa @ Yayasan Ar-Rahmah

Menerima titipan: zakat, infak, shodaqoh, zakat maal; fidyah; pakaian bekas/baru -ukuran bayi, anak, dewasa, orangtua, perlengkapan2 sekolah/shalat, dapur, tidur, dan sembako.

Bank : – Mandiri KC Patra Jasa, Jakarta; No. Rek. : 070 000 435 485-3; – BCA KCP Gatot Subroto, Jakarta No. Rek. : 145 122 1391
BNI Cabang Menteng, Jakarta No. Rek. : 00 107 368 88

Tinggalkan komentar