Notes on Jonih Rahmat's life journey

Menangislah kamu

Jumat, 20/2/26, saya kirim tulisan berjudul ”Aku Tak Puasa”.

Artikel itu menceritakan seorang sangat miskin, kuli angkut semen di pelabuhan, yang tak puasa -agar istri dan keempat anaknya bisa berpuasa, mendapat banyak respons.

Seorang ustaz rendah hati, hidup sederhana di tengah masyarakat, dekat sebuah kompleks perumahan, di perbatasan Bogor kota, mengomentari:

“Masya Allah, luar biasa! Terenyuh banget, terenyuh banget, membaca ceritanya!”

“Membaca Resah dan Gelisah, serasa nasihat ini ditujukan untuk saya. Saya terharu, tidak bisa menahan tetes-tetes air mata…”

Seorang sahabat di kota kecil, di Jawa Tengah, yang sudah lama tak jumpa, mengomentari artikel berjudul Resah dan gelisah -yang saya kirim @ 23 Februari.

Di atas kapal, di tengah lautan, di Raja Ampat, beberapa tahun lalu; Pak Tata -insinyur perminyakan- bekerja pada sebuah perusahan minyak internasional yg beroperasi di Papua, berbicara kepada Otniel -geolog asli Papua:

“Saya sering membaca tulisan2 Pak Jonih; kadang, sy menangis sendirian. Yang mana orangnya, ya?”

(Bukan) kebetulan, saya berada di kapal yg sama. Otniel menunjuk, “Itu Pak Jonih!”

Insinyur Teknik Perminyakan itu merangkul saya.

“Saya Ibu Dede, dari Bandung. Barusan selesai membaca buku Ustaz. Tak henti air mata ini menetes. Ingin rasanya, suatu saat nanti, bertemu Ustaz dan Ibu.”

Membaca buku Malaikat Cinta –sisi lain ibadah haji yang menyentuh hati, buku pertama saya, ribuan orang meneteskan air mata.

Seorang ibu di Jakarta Utara, menulis, “Membaca Kata Pengantarnya saja, saya sudah menangis.”

Suami-istri, di ibu kota, berebut kertas tissue, menyeka air mata; sambil bergantian membaca buku itu.

Satu rombongan ibu2 pengajian dari Bekasi, naik bus ke Ciomas, ingin bertemu penulis buku yg mereka baca, yang membuat sangat tersentuh, hingga mengeluarkan air mata..

A’isyah رضي الله عنها bercerita tentang peristiwa yang disebutnya sebagai “yang paling mempesona dari kehidupan Nabi ﷺ”.

Nabi bangun di tengah malam, mengambil wudhu, melakukan shalat malam.

Baru saja sampai pada bacaan Al-Quran, Rasulullah ﷺ terisak-isak.

Sepanjang shalatnya, Nabi menangis.

Aisyah ra. melaporkan, “Beliau menangis sampai janggutnya basah oleh air mata.”

Pada kesempatan lain, Nabi ﷺ. membacakan akhir surat Az-Zumar ayat ke-71 ke hadapan sekelompok orang Anshar:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

Orang2 kafir digiring ke neraka Jahannam, ber-bondong2. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu, dibukakanlah pintu2-nya; dan berkatalah kepada mereka penjaga2-nya:

“Apakah belum pernah datang kepadamu rasul2 di antaramu yang membacakan kepadamu ayat2 Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dg hari ini?”

Mereka menjawab: “Benar (telah datang).”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

Semuanya menangis, kecuali seorang pemuda di antara mereka.

Ia berkata, “Saya berusaha untuk menangis, tapi air mataku tak keluar.”

Nabi bersabda, “Siapa yang menangis, tetapi air matanya tak keluar, baginya surga.”

Kepada Abu Dzar dan shahabat* yang lain, Nabi berkata:

“Kalau kamu mampu menangis, menangislah. Jika tidak, rasakan dalam hatimu kesedihan.

Berusahalah untuk menangis, karena hati yang keras jauh dari Allah.”

Menangis, dianjurkan oleh Nabi. Allah menggambarkan orang-orang saleh dengan menyebutkan:

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا …

… apabila dibacakan kepada mereka ayat2 Yang Maha Pengasih, mereka rebah, bersujud, dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Menangis bukan lambang keputusasaan. Menangis mengungkapkan kelembutan hati untuk menerima petunjuk Tuhan.

Tangisan juga menunjukan kasih sayang pada sesama manusia dan kepekaan kepada penderitaan orang lain.

Ketika Ibrahim, putra Nabi ﷺ meninggal, terlihat Nabi meneteskan air mata.

Melihat air mata Nabi yang tak terbendung, Abdurahman bin Auf, tercengang dan berkata:

”Engkau juga menangis, wahai Rasul?”

Rasulullah menjawab, ”Ini adalah rahmat.”

Lalu beliau bersabda, “Air mata berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diridai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sunggguh kami sedih atas perpisahan ini.”

Ketika Ja’far gugur sebagai syahid dengan tubuh yang tercabik-cabik, Rasulullah memerintahkan:

“Buat orang seperti Ja’far, hendaklah orang-orang menangis.”

Menangis untuk melibatkan diri dalam perjuangan membela kebenaran.

Ketika Sa’ad bin Mua’adz Al-Anshari memperlihatkan tangannya yang melepuh karena memecah batu sebagai mata pencahariannya, Nabi ﷺ meneteskan air matanya.

Rasul yang mulia mengambil tangan kasar itu dan menciumnya, seraya berkata:

“Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.”

Nabi menangis karena kepekaannya terhadap penderitaan orang lain.

Saat gadis kecil Sulis bersama Hadad Alwi, belasan tahun lalu, di Gedung Wanita Simprug, Jakarta; melantunkan shalawat Nabi, seribu hadirin tak mampu manahan tetesan air mata. Air mata kerinduan kepada Rasul tercinta, Muhammad ﷺ

Memang, banyak ulama yang, untuk mengekspresikan kerinduannya kepada sang kekasih -yang telah membukakan jalan kebenaran, menggubah syair2 shalawat.

Syekh Bu’syiri – dengan diiringi tetesan air mata- menggubah Shalawat Burdah -yang kesohor itu; dan pada malam harinya, dalam mimpi dia, Rasulullah ﷺ. datang menemuinya.

Salami, pedagang gorengan di Manggarai –pada zaman pemerintahan Gus Dur, dikunjungi Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Ketika Ibu Negara menyalaminya, Salami meneteskan air mata. Ia haru, orang besar, istri seorang presiden, mau menyempatkan diri mengunjungi orang kecil seperti dia.

Kita juga menangis ketika membaca dalam tarikh betapa derita yang dialami Rasul, para shahabat, Banu Hasyim, dan Banu Abdul Muthalib.

Ketika itu mereka semua diembargo oleh Masyarakat Makkah dari segala aktivitas ekonomi dan sosial, sehingga banyak di antara shahabat hanya memakan daun2 kering.

Disusul kemudian, dengan kematian orang terdekat yang selama ini memberikan dorongan dan perlindungan dalam berdakwah, sementara kebanyakan orang mendustakan dan bahkan mau membunuhnya: meninggalnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib.

Kita pun menangis ketika membaca Rasul sujud di pasir Badar mencemaskan pasukannya yang sedikit.

Waktu itu Rasul berdoa, ”Ya Allah, kalau pasukan Badar ini gugur, Engkau tak akan disembah lagi di dunia ini.”

Dan, tetesan air mata tak mungkin terbendung kalau kita membaca bagaimana Husen, cucu kinasih Rasulullah, beserta 70 sahabatnya, dibantai di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. (Baca: Abul A’la Al-Maududi: Khilafah wal Mulk . Khilafah dan Kerajaan).

Air mata yang tercurah akibat penyesalan atas dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan, atau kekhawatiran akan nasib di hari kemudian, …

…di samping kebahagiaan atas penemuan kebenaran dan kehampiran kepada Tuhan, kesemuanya mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci.

Dalam dunia tasawuf, dikenal istilah al-bakka’un yang berarti penangis atau yang suka menangis.

Kelompok ini dipelopori oleh Hasan Al-Basri, di mana setiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Quran mereka menangis tersedu-sedu.

Ketika surga dibahas, mereka mencucurkan air mata sambil berharap dapat memasukinya; dan saat neraka disebutkan, mereka menangis takut terjerumus ke dalamnya.

Di depan makam Kanjeng Nabi ﷺ di Madinah, para jamaah haji tak mungkin mampu menahan tangis. Tangisan kerinduan kepada sang kekasih: Rasulullah ﷺ.

Al-Quran, seperti disinggung di atas, mengisahkan orang-orang yang telah diberi nikmat Allah:

“ …apabila dibacakan ayat2 Yang Maha Pemurah kepada mereka, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (Q.S. Maryam: 58).

Ketika berceritera tentang orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman, Al-Quran menuturkan:

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ

“Dan, apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau lihat air mata mereka bercucuran … “ (QS. Al-Maidah: 83).

Melihat tayangan dalam berita-berita, bagaimana Israel tak henti membombardir Palestina, menyebabkan jutaan rakyat sangat menderita;…

… sementara negara2 Arab kaya raya -tetangga negeri para Nabi itu, tidak terlihat membela; hati ini menangis sedih.

Dalam skala Nasional, tak jarang air mata menghampiri. Selain kesulitan ekonomi, bencana demi bencana, hadir silih berganti. Berbagai penderitaan melanda rakyat Indonesia.

Di saat-saat rakyat sedang sangat prihatin dan tak berdaya dengan bermacam rekayasa pemerintah mengutak-atik otak, mempermainkan aturan demi kepentingannya pribadi, …

…keluarga, pejabat, pengusaha, dan orang2 terdekat; penguasa dan kroni-kroninya pun memaperkan kekuasaan dan kekayaan.

Ketika rakyat hidup dalam garis kemiskinan, ketika para guru dan murid di desa2, untuk mencapai sekolah harus melewati jembatan usang atau tali-tali yang diikat sangat sederhana; orang2 kaya berpesta-pora.

Masih hangat dalam ingatan, gempa bumi yang melanda Cianjur Selatan. Ratusan bangunan hancur. Sebanyak 10.000 orang terluka, dan lebih dari 500 jiwa meninggal dunia. Kita semua berduka.

Tangisan itu, datang kembali. 2 tahun lalu; saudara2 kita di Bandung Selatan, Bandung Barat, dan di sebagian wilayah Garut diguncang gempa pula.

Sebanyak 3.601 bangunan rusak dan 79 orang terluka. Kerugian finansial mencapai 298 miliar!

Seorang kawan yang perkasa, naik-turun gunung sudah biasa; Himalaya pun ditapakinya.

Tapi, saat menyaksikan atlet2 Asean Paragames berlomba di Jakarta, hatinya terenyuh; sudut-sudut penglihatannya menghangat, matanya membasah.

Air mata tertumpah lagi, menyaksikan banjir besar di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat. Lebih dari 1000 orang meninggal dunia & puluhan ribu orang lainnya menderita.

Yang punya cerita, para pejabat –pengambil keputusan/pemberi izin & pengusaha, tetap nyaman dan tertawa lebar di Jakarta; rakyat di Sumatra sangat menderita, menangis sedih.

Para pejabat dan pengusaha2, semoga mereka lekas berbuat sesuatu yg nyata bagi alam & rakyat -yg menjadi sengsara itu, sehingga kondisi lingkungan dan manusia berproses menuju pemulihan.

Jika tidak, mereka akan berhadapan dg azab yg berat; tak hanya di akhirat tapi akan dimulai sejak dari dunia ini!

Pun, pemerintah dan pengusaha menjadikan bencana besar ini sebagai pelajaran mahal; jangan sampai membuat rakyat menderita lagi.

Tentang menagis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada 2 mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis di waktu malam hari, karena takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. dan mata yang menjaga pasukan fii sabilillaah, di malam hari.”

Rasulullah juga menyebutkan bahwa di antara 7 golongan manusia yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah ”…seseorang yang berzikir dan berkhalwat kepada Allah; lalu, ia mengucurkan air mata.”

Menangis juga merupakan salah satu tanda kekhusyukan dalam beribadah -walau tidak semua tangisan seperti itu.

Orang2 tertindas atau yang sedang menerima cobaan yang berat, bermohon kepada Tuhan dengan penuh harap, diiringi tetesan air mata. Allah mendengarkannya.

Jalaluddin Rumi – sufi besar, kelahiran Balkh, Afganistan, menggambarkan suasana itu:

Bunga-bunga mawar di taman takkan pernah merekah
Sebelum langit menurunkan air matanya

Bayi-bayi itu takkan pernah diberi susu
Sebelum mereka menangis terlebih dahulu

Maka menangislah kamu

Supaya Sang perawat Agung memberikan padamu
Limpahan susu kasih sayang-Nya.

Catatan:

Kata shababat dalam pengertian syariat, apalagi dalam Ilmu Hadits, adalah orang Islam -siapa pun dia- yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw. dan pernah bertemu Nabi Muhammad ﷺ .

Ia berbeda pengertian dengan sahabat dalam bahasa Indonesia yang berarti teman dekat.

Diperbaharui @ 05 Maret 2026, menjelang Zuhur.

Salam, Jonih Rahmat -Pengasuh Anak2 Yatim/Duafa @ Yayasan Ar-Rahmah, Ciomas, Bogor & penulis buku2 best seller.

Menerima titipan: zakat, infak, shodaqoh, zakat maal; fidyah; pakaian bekas/baru -ukuran bayi, anak, dewasa, orangtua, perlengkapan2 sekolah/shalat, dapur, tidur, dan sembako.

Bank : – Mandiri KC Patra Jasa, Jakarta; No. Rek. : 070 000 435 485-3; – BCA KCP Gatot Subroto, Jakarta No. Rek. : 145 122 1391
BNI Cabang Menteng, Jakarta No. Rek. : 00 107 368 88

Tinggalkan komentar