Notes on Jonih Rahmat's life journey

Nikmatnya Hidup di Kampung

Dahulu, waktu masih sekolah, bercita-cita, kelak kalau punya rumah, ingin di kampung –di tengah2 masyarakat, rumahnya besar, berhalaman luas, dan dekat masjid.

“Mengapa pilih di kampung, bukan di kota?”

Sebab, saya lahir dan besar di lingkungan perkampungan –yang hubungan dengan teman2 main dan tetangga sangat dekat.

Karena hidup daerah pinggiran, zaman dahulu pula, kami mendapatkan kenangan2 indah yg anak2 masa kini –sangat mungkin- luput darinya. Apalagi setelah ada hp!

Sering main dg teman2, berbanyakan, pergi ke sawah, kebun, atau area perbukitan.

Sepulang sekolah atau menjelang berangkat ke madrasah, bersama teman2 sebaya, bermain lompat tali karet, main kelereng, ular naga panjang, dam-daman, atau berpetak umpet.

Di waktu lainnya, dengan membuat sendiri dari bahan bambu, bermain egrang –langkah menjadi jauh lebih panjang. Dg teman2 perempuan, main bola bekel atau congklak.

Bila hari cerah, dan liburan sekolah, saya pintar main layang2. Kami pun bermain engklek, gangsing, boi-boian, kucing2an, atau berbakiak panjang, dipakai bertiga sampai berlima.

Ada permainan yg memang sebaiknya tidak diteruskan, sebab merusak lingkungan, membunuh burung2: main ketapel.

Permainan2 tradisional itu, saat ini, terutama di perkotaan, hampir mustahil ditemui.

Di lingkungan kampung, permainan murah dan menyehatkan itu, walau sudah jarang, masih suka terlihat.

Menyaksikan aneka permainan tsb., mengenang masa kanak2, menyenangkan hati, dan menenangkan pikiran.

Dengan hidup di kampung pun, tiap Subuh mendengar suara ayam jantan yang berkukuruyuk. Kalau ayamnya jenis pelung, suara mereka panjang dan indah.

Pagi dan sore hari, burung2 berkicauan di pepohonan, di halaman kita atau dari pohon tetangga.

Kalau sewaktu-waktu ada yg bertengkar, hingga teriak2, baik sesama anak2 maupun orang dewasa dengan kawannya; itu mah hal biasa.

Di Kampung pun rutin bekerja bakti, membersihkan saluran air, membangun langgar, atau sekadar membersihkan pekarangan2.

Paling seru adalah agustusan. Banyak perlombaan yg menawan, dari balap karung, makan kerupuk yg digantung, tarik tambang, hingga lari maraton.

Di RW sebelah, mungkin karena wilayahnya luas; juga, warganya banyak yg makmur; malam hiburan agustusan berlangsung 1 minggu!

Panggung besar digelar di pinggir jalan utama, jalan besar; sehingga, siapa pun, warga mana pun, pada menonton.

Kakak saya, suka nonton wayang golek. Apabila ada pertunjukan wayang, ia tak pernah absen. Saya suka diajak serta. Kalau kantuk datang, acara masih berjalan, pernah tidur di bawah panggung.

“Mengapa perlu rumah yang besar dan halaman yg luas?”

“Saya kan banyak teman bermain; banyak saudara juga dari desa. Nah, jika mereka bepergian ke tempat saya berada, silakan mampir ke rumah.”

“Dulu, waktu kecil, Bapak saya pelihara ayam, sangat banyak. Lebih dari seratus ekor! Ayam2 itu, pagi dilepas; sore mereka kembali.

Kalau mau sarapan tak ada ikan –yg menemani nasi, ke halaman belakang kita datang. Ada saja ayam yg sedang bertelur.”

Saya juga suka tanaman. Kalau tak punya halaman, bagaimana memelihara ayam atau bertanam?”

“Dekat masjid sih, jelas; biar mau shalat berjamaah, mudah.”

Di kampung pun, orang lebih suka berbagi. Kalau ada tetangga habis bepergian dan pulang dg oleh2; kami suka kebagian.

Apabila ada yg memasak dg menu agak beda, kiriman menghampiri, agar ikut mencicipi.

….bersambung.

Ciomas, bakda Ashar, 07/03/’26.

Salam, Jonih Rahmat -Pengasuh Anak2 Yatim/Duafa @ Yayasan Ar-Rahmah, Ciomas, Bogor & penulis buku2 best seller , pengelola sekolah alam.

Menerima titipan: zakat, infak, shodaqoh, zakat maal; fidyah; pakaian bekas/baru -ukuran bayi, anak, dewasa, orangtua, perlengkapan2 sekolah/shalat, dapur, tidur, dan sembako.

Bank : – Mandiri KC Patra Jasa, Jakarta; No. Rek. : 070 000 435 485-3; – BCA KCP Gatot Subroto, Jakarta No. Rek. : 145 122 1391
BNI Cabang Menteng, Jakarta No. Rek. : 00 107 368 88

Tinggalkan komentar