Aku Tak Puasa. Siapakah Yang Pantas Berdosa?

“Ada orang datang,” Mbak Eva, “…di Jakarta Utara, di pelabuhan tradisonal…. Kejadian, mungkin 15 tahun yang lalu,” Kiai Faiz memulai ceritanya kepada pewawancara.

“Setelah saya selesai ngaji, dia datang. Dia enggak mau ada orang lain dengar.”

‘Pak Faiz, saya mau betul-betul tanya sama Bapak.’

“Kenapa?”

‘Begini, Pak, saya enggak puasa.’

“Kaget saya, ada orang ngaku langsung nggak puasa! Itu habis pengajian Zuhur.’

‘Kalau saya puasa, yang nggak puasa jadi 5 orang; kalau saya nggak puasa, yang 5 orang puasa,’

“Ternyata apa?”

“Dia hanya kuli pikul di pelabuhan tradisional, mengangkat beban semen ke kapal; hanya menggunakan kayu saja, bukan tangga!”

“Saya bisa merasakan betapa beban yang berat luar biasa; ia melakukan pekerjaan tsb., dari pagi sampai sore.

“Sambil perut kosong, dia tak mampu bekerja seperti itu. Makanya, dia tak puasa.

Dengan bekerja itu, ia bisa bawa uang. Dia larang anak-anaknya bekerja ngojek payung dan jualan koran. ‘Nanti kamu kepanasan, nggak puasa.’

‘Sudah, Bapak yang tanggung, Bapak kuat,’ dia berbohong, menyelamatkan 5 orang: istri dan keempat anak-anaknya. Dia sendiri tak berpuasa.”

Fiqih itu, tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Menjadi mufti, menjadi guru agama, menjadi kiai, itu tidak soal hitam putih!

“Ada realita di masyarakat yang mungkin harus kita sikapi dengan kebijaksanaan.”

“Maka. saya meniru guru-guru saya. Orang itu saya peluk.”

“Saya merasa, hari itu ditempeleng oleh Allah ta’alaa. Kenapa?”

“Di saku saya ada amplop, habis ngaji. Saya hari itu, merasa menjadi ustaz masuk neraka!”

“Kok, bisa ya, saya ceramah di mesjid ini bertahun-tahun, tidak tahu, ada jemaah yang hidupnya sulit seperti itu; sementara saya pakai jas, seperti ini!”

“Hari itu, saya mengatakan, ‘Ini ada kezaliman yang terjadi pada diri saya! Maka, sebelum saya nasihati orang itu, saya katakan: “Bapak selamatkan dulu surga saya!”

“Saya kasih uang, ‘Bapak pulang. Ini uang cukup untuk beberapa hari. Bapak jangan kerja.”

“Dia katakana, ‘Terima kasih.’

“Itu menyelamatkan saya. Nah, soal orang tadi, dia tidak puasa pada hari selanjutnya, itu saya serahkan kepada Allah.”

“Kita jangan mudah menghakimi dan menghukumi orang, kalau kita tidak tahu latar belakang apa yang membuat orang itu melakukan hal tersebut!”

“Kita tidak tahu juga, peran apa yang sedang dia mainkan.”

“Apa peran dia sedang mencari kenikmatan hidup di dunia; atau, peran sekadar menyelamatkan nyawa anak-anaknya, dengan makan.”

Saya sering enggak mau jawab, pertanyaan seperti ini:

“Apa hukumnya pedagang kecil yang berdagang di bulan ramadhan?”

“Saya lebih senang membahas, ‘Apa hukumnya orang kaya yang hanya merasa kewajiban hidupnya itu zakat saja.”

“Dia sudah bayar zakat, tapi ada orang seperti itu, dia diamkan! Apa nanti tidak ada pertanggung jawaban secara kolektif di hadapan Allah!”

Sumber: wawancara K.H. Muhammad Faiz Syukron Makmun (Gus Faiz), di podcast.

Agar bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, pun tanpa ada bunyi yg –dlm situasi tertentu- berpotensi mengganggu, sy share wawancara penuh makna ini, dlm bentuk tulisan.

Ciomas, 20/10/26, bakda Ashar. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar