Pagi tadi, saat bersiap berangkat ke Bandung, hp berbunyi.
Seorang sahabat dari sekitar Jakarta Timur mengajak bicara.
“Kang, Tsaniyah ada yang membisik-bisiki. Apa yang harus dibacakan?”
Putri kedua itu, sejak beberapa bulan terakhir, sering ada yang “mendatangi”.
Juni, tahun lalu, dalam kendaraan ketika mau masuk Kota Kembang, untuk menghadiri undangan pernikahan di Gadobangkong, Padalarang, Bandung Barat, telepon genggam bersuara,
“Kang, minta tolooong sekali, Tsani kambuh lagi. Bisa ke sini, sekarang?”
“Saya sdg menuju Bandung, ada saudara menikahkan anaknya. Nanti, sesampainya di tempat acara, akan salaman saja; terus, langsung pamitan untuk ke Jakarta.”
Kami memarkir mobil di halaman rumah seorang kerabat, walking distance ke lokasi resepsi.
“Bapak sampai di sini saja, tak usah hadir ke pernikahan. Cukup ibu yg ke sana. Bpk segera ke Jakarta. Kasihan, keluarga teman itu!” istri saya mendesak.
Dengan ojek motor, ke stasiun kereta sy diantar.
Bersama whoosh -kereta cepat, 2 jam kemudian, sudah berada di kota yg berbeda.
Di kediaman itu kawan, saya diminta melakukan searching pada setiap ruangan yg berpotensi dihuni atau dikunjungi tamu tak diundang dan suka usil, mengganggu pemilik rumah.
Menjelang pulang, kembali ke kota hujan, saya titipkan beberapa teks doa yg perlu di dawam kan.
Dahulu, awal tahun 2000, dg menyewa angkot, anak2 yatim-duafa kami menjenguk seorang teman mereka, anggota yayasan juga -yg sakit dan dirawat di rumahnya
Dalam perjalanan kembali ke yayasan, katanya, mereka melewati pohon besar.
Lima anak perempuan kerasukan setan. Ada yg mengoceh dg kalimat2 enggak jelas, ada yg nangis, dan yg teriak2 histeris.
Kelima anak itu, diarahkan ke ruang tengah rumah yg relatif luas. Oleh teman2nya yg sehat, mereka ditelentangkan badannya. Posisi paling aman kalau menangani orang kesurupan.
Nina, tetangga yg rumahnya dipisahkan gang 1 m dari tempat kami, ikut panik.
Ia bergegas, mau minta tolong tetangga lainnya, Pak Mar -yg paranormal, untuk membantu.
“Jangan!” istri saya berteriak. “…biar sama Bapak saja.”
Setelah beberapa ayat saya bacakan, 4 anak siuman. Mereka sadar, berada dalam dirinya kembali.
Tapi, Wani terus menjerit-jerit.
Macam-macam redaksi doa saya tujukan ke arahnya. Tak mempan.
Teringat redaksi doa menyambut atau mengunjungi bayi yg berisi permintaan perlindungan dari yg jahat2.
Saya tatap mata Wani sambil membaca:
U’iidzuki (aku perlindungkan engkau) bi kalimaatillaahit- tammati (dg kalimah Allah yg sempurna) minasy-syaithaani wa hammah (dari gangguan syetan & racun) wa min kulli a’inin lammah (dan dari setiap pandangan mata yg jahat), berulang kali.
Makhluk itu keluar dari badan Wani, pergi entah ke mana. Wani menangis dan sadarkan diri.
Nah, ketika tadi pagi, kawan dari ibu kota itu menyampaikan kondisi putrinya, saya bilang, “Bacakan ayat kursi, berkali-kali!”
Saya baca untuk Tsani: “U’iidzuha (aku perlindungkan dia -sebab, sy tak berada di dekatnya; di hadapan Tsani, baca: “U’iidzuki …
Tak lama kemudian, “Alhamdulillah, Kang, ini saya bacakan saat dia tidur; seperti Kang Jonih ajarkan beberapa waktu lalu.”
Just landed @ Pagerwangi, Lembang, 24/2/26; bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar