Puasa dan Sabar

Abu Yazid Al-Busthomi, seorang sufi besar, suatu ketika bermunajat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.: “Ya Allah bagaimana caranya berjalan menuju ke arah-Mu?”

Ketika itu, jiwanya mendengar suatu bisikan:

“Ketahuilah bahwa nafsu adalah gunung yang tinggi dan besar.

Dialah yang merintangi perjalanan menuju Allah; dan, tak ada jalan lain yang dapat ditelusur, kecuali mendaki itu gunung, terlebih dahulu.

Di gunung itu terdapat beberapa lereng yang curam, belukar yang lebat, banyak duri dan perampok lalu-lalang. menakut-nakuti, mengganggu, dan menghambat para musafir.

Di balik belukar, ada pula iblis yang selalu merayu atau menakut-nakuti agar si musafir kembali saja.

Bertambah tinggi gunung yang didaki, bertambah hebat pula rayuan dan ancaman, sehingga bila tekad tak dibulatkan, pasti si pejalan mundur teratur.

Akan tetapi, apabila perjalanan tetap dipertahankan; maka, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang.

Pada saat itu, akan nampak bahwa ternyata sepanjang jalan, ada rambu2 yang memberi petunjuk tentang tempat2 aman yang jauh dari ancaman dan bahaya.

Ada pula tempat berteduh dan telaga air yang jernih -untuk beristirahat dan melepaskan dahaga.

Jika perjalanan diteruskan, akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman yang mengantarkan sang musafir bertemu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, guna menerima imbalan yang telah disiapkan-Nya.”

Berpuasa, pada dasarnya, ialah perjalanan mendaki gunung nafsu.

Puasa adalah menahan nafsu dari makan, minum dan seks untuk periode tertentu.

Sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari.

Inilah puasa yang lazim kita kenal sebagai puasa orang awam.

Perjuangan melawan nafsu, kata Nabi ﷺ, adalah merupakan jihad akbar.

Di sinilah setiap muslim dituntut untuk berperang melawan hawa nafsunya.

Jihad akbar bukan hanya menggunakan kekuatan akal, pikiran, dan kesadaran; tetapi juga kebijakan.

Upaya itulah yang harus kita lakukan dalam berpuasa.

Sejak dini, kita harus mempersiapkan pelbagai amal saleh, agar gunung nafsu yang tinggi itu bisa ditaklukan. Bahkan, dikendalikan dan dimanfaatkan.

Untuk itulah, seorang muslim -dengan berpuasa- belajar untuk membiasakan berbuat baik.

Berbuat baik dalam menyembah Allah dan berbuat baik kepada makhluk Allah.

Dibiasakannya memperbanyak sedekah, menolong orang lain, menggembirakan yang susah, dan meringankan beban yang berat.

Pada saat yang sama, digerakkannya bibir dan lidahnya, untuk berzikir dan membaca Al- Quran, ditegakkan kakinya untuk salat malam, dipenuhinya waktu sahur dengan istighfar.

Matanya sayu karena kurang tidur. Bibirnya kering karena menahan lapar dan dahaga.

Tubuhnya lemah karena kehabisan energi. Namun, pandangan qalbu -nya cemerlang dengan sinar Rabbani.

Seperti kata Al-Busthami, shaum adalah juga merupakan latihan bersabar.

Bersabar menerima berbagai ujian dan cobaan hidup, dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Bersabar bahwa apa yang hendak kita capai, tidak bisa begitu saja didapatkan, melainkan berproses melalui tahapan demi tahapan.

Bila tahapan2 itu telah dilalui, maka puncak gunung yang tinggi -pada saatnya nanti, akan berada di bawah telapak kaki kita.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
Wasta’iinuu bish-shabri wash-shalaah

“Bermohonlah dg sabar dan salat.” (QS, Al-Baqarah: 45)

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Innallaaha ma’ash-shaabiriin(a)

“Sesungguhnya Allah bersama orang2 yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153).

Semoga Allah karuniakan kepada kita, kekuatan untuk menjadi orang yang sabar; sehingga nilai tattaquun bisa diraih. Aamiin.

Dituliskan kembali @ Ciomas, 21/02/’26, waktu Dhuha.

Salam, Jonih Rahmat, Yayasan Yatim Ar-Rahmah

Menerima titipan: zakat, infak, shodaqoh, fidyah; pakaian bekas/baru -ukuran bayi, anak, dewasa, orangtua, perlengkapan2 sekolah/shalat, dapur, tidur, dan sembako dll.

Bank : – Mandiri KC Patra Jasa, Jakarta; No. Rek. : 070 000 435 485-3; – BCA KCP Gatot Subroto, Jakarta No. Rek. : 145 122 1391

  • BNI Cabang Menteng, Jakarta No. Rek. : 00 107 368 88

Tinggalkan komentar