“Mau tanya, Ustaz, hal doa yang boleh dibaca saat sujud. Takutnya, kalau sembarangan baca doa, akan membatalkan shalat,” seorang kawan dari kawasan Bogor Utara, 4 hari lalu, bertanya.
“Sementara ini, saya sedang menyiapkan bahan untuk materi sharing Jumat sore, di Jakarta. Nanti, selesai acara, di share, ya.”
Di antara variasi bacaan ketika kita sujud dalam shalat, ada 2 yang paling populer –yang semua orang Islam familier:
Subhaana robbiyal a’laa saja; dan yang tambah wa bihamdiHi : Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdiHi .
Di luar itu, kebanyakan orang, relatif jarang memperkenalkan atau mengajarkannya.
Paling tidak, sebagai info, di bawah ini diuraikan 1 per 1.
Bacaan ke-1:
Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa dia pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Ketika rukuk, beliau mengucapkan:
Subhaana robbiyal-‘azhiim(i). Mahasuci Rabb-ku Yang Mahaagung; dan ketika sujud, beliau mengucapkan
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
Subhaana robbiyal-a’laa
Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi. (HR. Muslim & Abu Daud).
Bacaan ke-2:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
Subhaana robbiyal-a’laa wa bihamdiH(i)
Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi dan pujian untuk-Nya.” (HR. Abu Daud).
Bacaan ke-3:#
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
Subhaanaka AllooHumma
Mahasuci Engkau, Ya Allah
رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ
robbanaa wa bihamdika
Rabb kami, pujian untuk-Mu
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
AllooHummagh-firlii
Ya Allah, ampunilah aku
(HR. Bukhari dan Muslim).
Bacaan ke-4:
Dari Abu Hurairah رَضِيَ ٱللَّٰهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ membaca ketika sujudnya,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ
AllooHummagh-firlii dzan-bii kulluHu
Ya Allah, ampunilah dosaku, seluruhnya
دِقَّهُ وَجِلَّهُ
diqqoHu wa jillaHu
yang kecilnya dan besarnya
وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
wa awwalaHu wa aakhiroHu
yang terdahulu dan yg terakhir
وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ
wa ‘alaaniyyataHu wa sirroHu
yang nampak dan yg tersembunyi
(HR. Muslim).
Bacaan ke-5:*
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ
Subbuuhun qudduusun
Mahasuci, Maha Qudus
رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
robbul-malaaikati war-ruuh(i)
Rabb-nya para malaikat dan ruh (Jibril)
(HR. Muslim).
Bacaan ke-6: ^
Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i berkata, “Saya berdiri bersama Rasulullah ﷺ.
Maka, beliau berdiri dan membaca surah Al-Baqarah. Tidak melewati ayat rahmat, kecuali berhenti dan memohonnya.
Dan, tidak melewati ayat siksa, kecuali berhenti dan berlindung (darinya).
Berkata, kemudian rukuk seperti waktu berdirinya dan membaca dalam rukuknya,
سُبْحَانَ ذِي الجَبَرُوْتِ
Subhaana dzil-jabaruut(i)
Mahasuci Allah -yang mempunyai keperkasaan
وَالملَكُوْتِ وَالكِبْرِيَاء ِوَالعَظَمَةِ
wal-malakuuti wal-kibriyaa-i wal ‘azhomaH
kerajaan, kebesaran,dan keagungan.
Lalu, sujud, seperti waktu berdirinya. Kemudian, mengatakan dalam sujudnya seperti itu.
Lantas, berdiri dan membaca Ali Imran. Kemudian, 1 surah, 1 surah. (HR. An-Nasai. Abu Daud).
Bacaan ke-7:
Dari Ali bin Abi Thalib رَضِيَ ٱللَّٰهُ عَنْهُ, ia berkata bahwa ketika sujud Rasulullah ﷺ membaca,
اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ
AllaaHumma laka sajadtu
Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud
وَبِكَ آمَنْتُ
wa bika aamantu
karena-Mu, aku beriman
وَلَكَ أَسْلَمْتُ
wa laka aslamtu
kepada-Mu, aku berserah diri
سَجَدَ وَجْهِي
sajada wajHii
Wajahku bersujud
لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ
lil-ladzii kholaqoHu wa showwaroHu
kepada Penciptanya, yang Membentuknya
وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ
wa syaqqo sam’aHu wa bashoroHu
yang membentuk pendengaran dan penglihatannya
تَبَارَكَ اللهُ
tabaarokalloHu
Mahasuci Allah
أَحْسَنُ الخَالِقِينَ
ahsanul-khooliqiin(a)
se-baik2 Pencipta
(HR. Muslim).
Bacaan ke-8:
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
AlloHumma a’uudzu bi ridhooka min sakhotika
Ya Allah, aku berlindung dg keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu
وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ
wa bi mu’aafaatika min ‘uquu batika
dan dengan pemberian maaf-Mu dari siksa-Mu
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ
wa a’uudzubika minka
dan aku berlindung dg-Mu dari murka-Mu
لا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ
Laa ahshii tsanaa-an ‘alaika
aku tidak mampu menghitung semua pujian pada-Mu
أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika
Engkau seperti yg Kau sanjung untuk diri-Mu sendiri
(HR. Muslim)
Bacaan ke-9
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ
SubḥaanakallaaHumma wa biḥamdika
Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji hanya bagi-Mu
لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Laa ilaaaHa illaa anta
Tidak ada Tuhan kecuali Engkau
(HR. Muslim)
Di samping 9 lafaz ini, masih ada beberapa redaksi yang suka dibaca saat sujud.
Catatan:
Bacaan ke-3 adalah sama dengan bacaan rukuk
*Bacaan ke-5 = bacaan setelah Shalat Witir. Pada bulan Ramadhan, sering dibacakan imam, saat ia selesai memimpin Shalat Witir, setelah Tarawih.
^Bacaan ke-6, juga adalah merupakan doa iftitah dalam Shalat Iftitah
Ada “H” (Ha Besar); ada “h” (ha kecil); pelafalannya berbeda.
“H” (Ha Besar), dalam huruf hijaiyyah, posisinya antara “wawu” dan “lam alif”; makhroj (tempat keluar hufur)-nya di pangkal tenggorokan.
“h” (ha kecil), dalam huruf hijaiyyah, posisinya antara “jim/ja” dan “kho”; makhroj (tempat keluar hufur)-nya di pertengahan tenggorokan.
Mengambil salah satu bacaan di atas, di dalam sujud, adalah pilihan.
Berbagai pendapat muncul, ketika kita mengambil selain yang redaksi2 tsb.
Apalagi, ketika membaca hadits:
Dari Abu Hurairah رَضِيَ ٱللَّٰهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ. bersabda: “Paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah berdoa. (HR. Muslim).
Bagian kalimat: “perbanyaklah berdoa”, dalam hadits di atas, menimbulkan multi penafsiran.
Apakah redaksinya bisa disusun sendiri, sesuai kebutuhan dalam doa; atau hanya diizinkan yang ada contohnya saja?
Apakah seseorang yg sedang bersujud, boleh berdoa dengan menggunakan bahasa selain Arab?
Apabila menggunakan bahasa sendiri, apakah doanya boleh terdengar, atau hanya diizinkan jika di dalam hati.
Mudah-mudahan dalam artikel berikutnya, tentang ini, bisa disampaikan.
Anjuran agar berdoa lebih intens ketika sujud, juga ada pada hadits dari Ibnu Abbas:
Dari Ibnu ‘Abbas رَضِيَ ٱللَّٰهُ عَنْهُ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Allah. Sedangkan saat sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.” (HR. Muslim).
Ciomas, 01/03/’26; bakda Ashar.
Salam, Jonih Rahmat -Pengasuh Anak2 Yatim/Duafa @ Yayasan Ar-Rahmah
Menerima titipan: zakat, infak, shodaqoh, zakat maal; fidyah; pakaian bekas/baru -ukuran bayi, anak, dewasa, orangtua, perlengkapan2 sekolah/shalat, dapur, tidur, dan sembako.
Bank : – Mandiri KC Patra Jasa, Jakarta; No. Rek. : 070 000 435 485-3; – BCA KCP Gatot Subroto, Jakarta No. Rek. : 145 122 1391
BNI Cabang Menteng, Jakarta No. Rek. : 00 107 368 88
Tinggalkan komentar