9-9-89

Pada tanggal 8 bulan 8 tahun 1988, ribuan lulusan peguruan tinggi dari seluruh Indonesia, dari berbagai jurusan; memenuhi teras, halaman gedung, hingga tempat parkir Kantor Pertamina Pusat di Jakarta .

Riuh rendah suara para sarjana yang bertemu teman-teman yang sudah lama tak jumpa -sejak lulus dari universitas- melebihi hiruk-pikuk rombongan  emak-emak yang menawar harga belanjaan di pasar-pasar tradisional atau melewai ramainya ibu-ibu dalam arisan.

Di antara mereka, selain berbicara dengan sesama waktu mahasiwa, ada yang berjumpa kawan SMP atau teman SMA. Selama usia atau masa kuliah tak pernah tampak, eh…di gedung Pertamina bersua, saat sama-sama mau tes masuk kerja.

Ada yang masih sangat segar-bugar sebab belum lama lulus dari kampus; banyak yang telah 5-10 hingga belasan tahun bekerja di perusahaan lain, tapi ingin mendapatkan suasana berbeda di Pertamina.

Semua menunjukan wajah ceria, mata berbinar, telinga siap mendengar -ketika seorang kawan bercerita pengalamannya.

Sebab bukan sedang berdemo, kendatipun sangat berisik, tapi tertib. Tak ada yel-yel yang diteriakkan. Pakaiannya pun, semuanya rapi. Mungkin, yang mereka kenakan adalah kemeja terbaiknya. Kan, mau tes ke Pertamina!

Hari itu, di Gedung Pertamina Pusat, Jln. Merdeka Timur 1A, akan diselenggarakan tes masuk Pertamina Direktorat Eksplorasi-Produksi.

Orang banyak itu memasuki ruangan besar untuk mengikuti psikotes, menjawab ratusan pertanyaan, menjumlah atau mengurang angka-angka yang memenuhi kertas A0, kertas ukuran koran.

Jumlah yang harus dikerjakan sangat banyak, waktu sangat terbatas. Ini harus dilakukan panitia, sebab jumlah yang ikut tes berlimpah, sedangkan yang akan diterima -dibanding pelamar-saaangat sedikit!

Singkat cerita, setelah sekitar 2 bulan kemudian, para peserta mendapatkan pemberitahuan bahwa mereka bisa melanjutkan ke tes tahap kedua atau cukup sampai di situ saja; dan meneruskan bekerja atau mencari pekerjan di tempat lain. Demikian juga dengan tes-tes tahap berikutnya.

Sesudah dinyatakan berhasil dalam semua tahapan, para peserta dikirim ke Cepu untuk mengikuti program pelatihan ditambah OJT – _On The Job Training-_ pada bulan-bulan terakhir, di perusahaan-perusahaan minyak.

PPT Migas – Pusat Pengembangan Tenaga Minyak dan Gas Bumi, Cepu, Kabupaten Blora; sejak puluhan tahun lalu, adalah pusat pelatihan untuk para pekerja migas di Indonesia.

Pertamina dan seluruh perusahaan minyak yang beroperasi di negeri ini, secara rutin, setiap tahun mengirim karyawannya untuk menambah ilmu di sini.

Mereka kuliah di lembaga pendidikan yang disebut AKAMIGAS -Akademi Minyak dan Gas Bumi. Ada AKA-1,AKA-2, AKA-3; angka-angka itu menunjukan tahapan dan lamanya belajar di sana.

Lulusan AKA adalah orang-orang profesional. Selesai pendidikan, mereka kembali ke kantornya masing-masing. Banyak yang kemudian mendapatkan promosi.

Semua orang Cepu sangat familier dengan nama AKA atau AKAMIGAS, top markotoplah! Pada bulan puasa, masjid-masjid kampung di Cepu mengundang penceramah AKA untuk memberikan taushiah di daerah mereka.

Bersama seorang  sohib yang jago ngaji, Tubagus Nasiruddin -asli Banten, saya sering dipinjam AKA untuk memenuhi permintaan tersebut. Saya menyampaikan kultum, kawan ini yang menjadi imam shalat.

Di PPT Migas, kami ditempatkan di 3 kompleks wisma/perumahan: Vyatra V, Ngareng, dan Mentul.

Untuk keperluan membeli sesuatu di luar wisma, Vytra dan Ngareng berada di area kota; lebih enak.

Mentul berjarak dari area kota, perlu kendaraan kalau belanja. Tapi, ia berada di kontur yang agak tinggi, rumahnya bagus-bagus (1 rumah, sesuai ukuran, dihuni 2-4 orang); untuk tinggal dan belajar, lebih nyaman.

Program pendidikan Pertamina Direktorat Eksplorasi- Produksi, ini dinamai Bimbingan Profesi Sarjana Teknik, angkatan ke-1; disingkat BPST I EP.

Total training 7 bulan, berlangsung dari pagi hingga sore; dan malam hari mengerjakan tugas-tugas yang tak sedikit. Kayaknya sih, 6-7 bulan masa pendidikan ini; bobotnya, tidak kurang dari 5-6 tahun kuliah.

Seperti saat mahasiswa, kami menyusun tugas akhir dan menjalani sidang di depan dewan penguji.

Sebab mengejar waktu, untuk mengerjakan karya tulis dan mempersiapkan ujian akhir, banyak peserta -dalam beberapa hari, tidak  sempat tidur. Ini masalah jadi tidaknya  menjadi pekerja Perramina. Seluruh kemampuan ditumpahkan.

Waktu yang ditunggu-tunggu itu, tiba. Pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1989, Bapak G.A.S Nayoan, Direktur Eksplorasi-Produksi Pertamina, menyengaja datang ke Cepu, untuk mewisuda sekaligus mengangkat para peserta menjadi pekerja Pertamina Direktorat EP.

Hitung punya hitung; sejak pertama kali mengikuti tes pada *8-8-1988* , hingga diangkat menjadi pekerja Pertamina di *9-9-1989;* sebelum resmi menjadi pekerja perusahaan bergengsi ini, *1 tahun 1 bulan 1 hari, kami diuji!*

Kami, kemudian, mendapatkan penugasan di kota, pulau, atau lapangan minyak yang tersebar di Nusantara. Ada yang di atau dekat ibu kota, banyak yang ditempatkan di luar Jawa, bahkan di pulau-pulau terpencil.

Di antara kami, akan meninggalkan rumah, menuju lapangan: menantang buasnya hutan rimba dan hempasan gelombang samudera, untuk mencari dan menemukan sumber-sumber minyak dan gas bumi -penggerak roda-roda pembangunan.

Pada malam terakhir kami berada di Cepu, semua berkumpul. Sejenak kami merenung tentang kebersamaan dalam kekompakan dan kemesraan, selama 7 bulan, dalam kegiatan yang sangat padat selama pelatihan. Namun, karena tugas sudah menanti, kemesraan itu akan segera berlalu.

Rasanya, peristiwa ini, baru terjadi kemarin: kami bersama menyanyikan lagu itu; lagu yang menyentuh qalbu.

Dalam malam yang terang, cuaca yang cerah, bintang-bintang tertawa riang; di lapangan tenis, di halaman Vyatra V, membentuk lingkaran, hati kami bersatu.

Pun, rasa pilu akan perpisahan ini, semakin menjadi. Tetes-tetes air mata, mulai membasahi pipi


Suatu hari
Dikala kita duduk di tepi pantai
Dan memandang ombak di lautan yang kian menepi

Burung camar terbang
Bermain di derunya air

Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita

Sementara,
Sinar surya perlahan mulai tenggelam

Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta

Ada hati
Membara erat bersatu

Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu

Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tenteram di samping mu

Hatiku damai
Jiwa ku tentram bersamamu



Kini, 35 tahun sudah berlalu. Melalui Pertamina, sangat banyak kenikmatan Tuhan berikan kepada kami, BPST I EP.

“Jadikan kami semua, ya Allah, orang-orang yang pandai bersyukur atas nikmat-Mu.
Bantulah kami dalam berzikir kepada-Mu, dan dalam kebaikan beribadah kepada-Mu.

Di antara kami, ada yang sakit, sembuhkan mereka
Ada juga yang sedang didekap banyak masalah, berikan jalan keluar

Beberapa kawan, telah Kau panggil ke pangkuan-Mu
Peluk cium mereka dengan kasih dan sayang-Mu

Curahkan kesabaran berlimpah kepada keluarganya
Jadikan anak/istri/suami- nya saleh-salehah, sehat-sejahtera, penuh berkah

Kelak, jika waktunya tiba; pertemukan mereka dengan seluruh keluarganya  -dalam rida, ampunan. & kasih-Mu.

Gusti, sayangilah kami dengan kuasa-Mu
Jangan binasakan kami. Karena Kau saja harapan kami.”



Ciomas, 9-9-2024; bakda Zuhur. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar