Ini bukan tentang film komedi yang agak-agak horor, tapi box office itu, melainkan mengenai jenis pertanyaan yang muncul dan sampai kepada saya.
Saya, kan, rutin menulis dan mengirimkan artikel2 itu ke banyak grup WA dan pribadi2.
Tema artikel yang saya tulis, umumnya, berkaitan dg hal2 keagamaan, sesuatu bernuansa sosial, atau mengenai keluarga.
Membaca sharing2 itu, banyak pembaca mengajukan pertanyaan.
Tidak setiap sharing mendatangkan pertanyaan. Sebaliknya, tak jarang, dari satu judul artikel yg saya kirimkan; muncul belasan pertanyaan.
Satu per satu, saya usahakan jawab. Ada yg dijawab langsung, begitu selesai dibaca; ada yg perlu bbrp jam atau hari untuk meresponsnya; beberapa, malah, ada yg makan waktu ber-bulan2.
Untuk pertanyaan hal fikih yg ikhtilafi, menghindari ada yg tak berkenan, sehingga berpotensi mengganggu silaturahmi, jawaban disampaikan via telepon.
Sebagian dari pertanyaan2 itu, setelah saya pikir, ada baiknya kalau teman2 lain mengetahuinya juga; diskusi itu sy jadikan bahan tulisan.
Tentu saja, dg menjaga privasi penanya.
Untuk artikel dari hasil ngobrol2 atau pembicaraan santai mengenai pengalaman hidup atau hal2 ringan lainnya; atas seizin yg bersangkutan, saya cantumkan nama. Kalau perlu, dg alamatnya.
Sebagian besar, yang ditanyakan adalah hal yg berkaitan dg isi tulisan2 itu; lainnya, walau masih lingkup fikih, misalnya; tapi yg ditanyakan hal yang berbeda.
Tidak sedikit juga, teman2 bertanya masalah yg sangat berbeda dari pokok pembicaraan dalam tulisan.
Kalau diibaratkan nama sebuah film –yg judulnya agak nyeleneh tapi sangat banyak penontonnya; pertanyaan2 jenis ini bisa disebut “agak laen”.
Akan, tetapi, apa dan bagaimanapun tipe pertanyaan itu; berkaitan atau tidak ada hubungan dg tulisan yg dikirimkan; sebagai apresiasi kepada penanya, tetap saya jawab.
Ketika bersama istri, saya baru masuk Sukabumi kota, setelah perjalanan di area hutan/pegunungan, sinyal hidup. Waktu itu, belum ada WA; pesan SMS masuk:
“Saya, Ibu…., berusis 56 tahun, dari Padalarang, Bandung Barat. Sudah beberapa tahun terakhir, saya monopause .
Tapi, kemarin, keluar darah. Apakah saya harus shalat atau tidak? Saya sangat berharap Ustaz menjawabnya.”
Sebenarnya, yang kompeten menjawab pertanyaan ini adalah dokter yang muslim; atau, ustaz yang mengerti masalah kesehatan.
Saya bukan kedua-duanya.
Tapi, ibarat kita sedang berjalan kaki di trotoar; tiba2, ada orang jatuh dari motornya. Kan, tidak usah menunggu dokter datang. Kita, tolong dulu, sebisanya.
Saya jawab saja:
“Pendarahan bisa disebabkan oleh bakteri, infeksi, atau iritasi. Ibu segera mandi, bersih2 diri, lalu shalat.
Setelah itu, segera Ibu datang ke dokter ahli kandungan dan kebidanan.”
“Ustaz, terima kasih sekali atas penjelasannya. Akan saya laksanakan sarannya.”
Menerima pertanyaan yg bukan bidang kita, sebaiknya tidak dilakukan sikap yang sok tahu; atau menolak dg kata2 yg tertalu direct : “Nggak tahu, saya!”
Jadi, kita lakukan P3K. Selanjutnya, “pasien” dibawa kepada yg berwenang cq. dokter ahli di bidangnya.
Pertanyaan lain, dari sebiah kota kecil, di Jawa tengah, sebelum Yoygakarta:
“Saya sedang ada problem hal saluran got air sama tetangga.
Tetangga, punya tanah hanya pas bangunan rumahnya. Ia menamam pohon pakai polybag ukuran besar, di pinggir selokan.
Kalau hujan deras, air terhalangi mengalirnya; sehingga jalanan tergenang. Sudah ditegur, tapi dia tidak melakukan apa2.
Mohon pencerahan.”
Ini juga bukan tentang fikih atau masalah keluarga. Tapi, harus saya jawab.
“Mbak … bisa lakukan melalui 3 cara:
- Silaturahmi kepada tetangga tsb. dg menjelaskan apa yg membuat mengganggu dg cara sebaik-baiknya; dan mohon utk diperbaiki.
- Lapor ke RT -tapi ini berpotensi tetangga menjadi marah
- Berdoa agar Allah balikkan hatinya dari suka mengganggu menjadi senang membantu.
Ada kasus mirip2 dg ini.
Bu Neneng, ibu dari 3 anak yatim –yang pernah tinggal di Yayasan Ar-Rahmah, punya rumah di gang kecil.
Air hujan dari rumah tetangga depan, seberang gang, jatuh ke tembok dan teras kediaman Bu Neneng.
Disampaikan masalah itu kepada itu tetangga; dia malah marah2.
Bu Neneng menyikapinya dg sabar dan doa.
Tak lama kemudian, rumah Bu Neneng ada yg beli. Ia pindah ke tempat baru, tak jauh dari situ.
Bu Neneng dapat rumah lebih besar dari yg terjual itu; dan letaknya menjadi di pinggir jalan aspal.
Rumah lebih luas, lebih bagus. Pun –yang semula di dalam gang kecil & menghadap rumah tetangga- menjadi di pinggir jalan mobil, di seberangnya lapangan terbuka.
Dari ujung timur P. Jawa, seorang istri tentara – yang di seragam suaminya ada bintang 2 buah, mengajak diskusi:
“Boleh enggak, seorang istri membalas sikap suami yg se-wenang2, sok berkuasa, merasa segala miliknya, paling pintar, sok hebat, dan suka merendahkan?”
“Seorang istri, melaksanakan shalat 5 waktu, shaum pada bln Ramadhan, dan taat suami; baginya surga.
Kalau seorang istri mencuci pakaian; lalu, menjemurnya; sepanjang cucian itu terjemur, ia memintakan ampun bagi si istri.
Mengapa demikian hebat keutamaan seorang istri?
Sebab, ia tugas dan pekerjaannya tak pernah selesai; ada terus; ujiannya berat.
Di antara ujian paling berat bagi seorang istri adalah dlm menghadapi suami.
Kalau ia berhasil menahan diri, bersabar , selamatlah dia dan anak2nya. Jika tidak, anak-cucunya akan terbawa menerima akibatnya.
“Jadi, istri enggak boleh membalas atas kezaliman suaminya?”
“Sakit mana kaki kesandung batu atau disakiti suami? Tentu, yg kedua lbh menyakitkan!
Jika seorang muslim tersandung batu, gugur 1 dosanya; maka, istri yg hatinya tersakiti dosa2nya, scr otomatis, berguguran.
Kami dulu, sblm di Jln. Kopo, Bandung ada pompa bensin, di rmh jualan bensin (bbm).
Pernah 3 x kebakaran.
Kalau ada rmh kebakaran disiram bensin; atau jika kios/warung bbm kebakaran karena bensin tumpah, disiram air; kebakaran semakin besar.
Seharusnya, rmh yg kebakaran (bukan karena bbm), disiran air; kios bensin kebakaran, disiram pasir atau ditutupi kain basah.
“Yaa Allah , astagfirullah…bgtu yaa bapak …. Tapi, sy blm faham ttg crt kebakaran itu bapak , maksud nya bgmn?”
“Kalau seorang suami hatinya lagi panas, kerjanya marah2, selalu menyalahkan istri, & mau menang sendiri; itu bagai rmh yg kebakaran.
Apabila si istri melawannya -walaupun ia benar, suami akan makin besar marahnya, sprt rmh terbakar disiram bensin.
Salah 1 orang paling jahat sepanjang sejarah adalah Firaun. Ia membunuh ribuan bayi laki2.
Pasti, istrinya tidak setuju dan protes berat. Dan, sangat mungkin istrinya dimarahi habis2an.
Tapi, Asiah, istri Firaun super sabar. Allah anugerahkan kepadanya istana di surga.
“Rasanya, pengen tahu kisah lebih jelasnya ttg Asiah.”
“Surat At-Tahrim ayat 11.”
“Siaaap, Bapak. Terima kasih sekali!”
Ciomas, 26/01/’26; bakda Ashar. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar