Jumat sore kemarin, pk 16.30; saya masuk masjid. Selesai mengerjakan salat Asar –biasa, salat telat; tidak langsung pulang ke rumah.
Masih ada aktivitas yang harus saya lakukan. Menjelang pk. 17.30, saat kembali ke saung, hendak curat-coret bikin tulisan.
Telepon (yang sedang tidak di-) genggam, yang lagi di-charge, berbunyi.
Tidak biasanya, saya meninggalkan _hp_ tanpa ditunggui. Tadi, angka di alat komunikasi itu menunjukan, baterenya, tinggal 4 %.
Perangkat dicolokkan ke seterum; lalu, saya tinggal salat. Pikir hati, tak lama ini.
“Bapak di mana?” suara Bila, anak kami, bertanya.
“Barusan masuk ruang komputer.”
“Ada tamu, teman Bapak SMA, sudah lama menunggu!”
“Katanya, dari Kalimantan.”.
“Wah…wah…wah….siapa, ya?”
Ada kawan di Banjar Baru, juragan batubara. Tapi, kalau ia mau datang, mesti kirim kabar dulu, via pesan WA atau telepon. Ini siapa, ya.”
“Laki atau perempuan?”
“Ibu-ibu dengan seorang anaknya, laki-laki.” Ooo, bukan dia, berarti.
“Bapak ke sana sekarang.”
“Assalamu’alaikum,” ia mendahului.
“Ini teman SMA Bapak,” istri saya berkata.
“Iya, tapi saya angkatan ’85. Kang Jonih, ’81, kan!”
Saya mengangguk. “Waduh, senang sekali saya kedatangan teman SMA!”
“Maaf, siapa namanya?”
“Saya Lia. Lia Yulia, lulusan tahun 1985. Saya suka baca postingan-postingan Akang di grup Pengajian Alumni SMA 7.”
“Ya…ya, saya suka nulis.”
“Tinggal di mana?” saya bertanya.
“Sudah 30 tahun, kami menetap di Banjarmasin.”
“Saya kira rumahnya di Bogor. Ternyata, jauh banget!”
“Kebetulan sedang ke Jakarta, jenguk anak. Ini, Ali, anak tunggal kami, belum lama lulus dari FISIP UI.”
“Tadi saya, bilang ke Ali, ‘Nak, tolong antar ibu ke Bogor. Ada teman SMA di sana.”’
“Lia sendiri, sehari-hari, di Banjar sana, maaf, aktivitasnya apa?”
“Saya dosen, Kang.”
“Di?”
“Di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Mangkurat.”
“Lia dokter?”
“Bukan. Saya dari Biologi. Di FK saya mengajar mata kuliah Mikro Biologi.”
“Waaah, hebat!”
Kepada Ali, saya bercerita,“ SMA 7, tempat kami dulu sekolah, di sebelah kirinya adalah pabrik kue.”
“Kue marie,” Lia melengkapi.
“Jadi, kalau sedang belajar, asap yang membawa wangi kue, hinggap di hidung kami.”
“Di kanannya adalah kantor redaksi majalah musik paling terkenal, kala itu: AKTUIL.”
“Betul” Lia menguatkan.
“Di situlah ada, antara lain, Bens Leo, Toto Rahardjo, Sam Bimbo, Jelly Tobing; juga Deni sabri dan Remy Sylado.”
“Banyak penyanyinya juga,” Lia menambahkan.
“Ada Nicky Astria, Rita Mustamsikin, Emma Ratna Fury, dll.”
SMA 7 pun terkenal sebagai sekolah yang agak-agak brutal. Sering berantem.”
“Tawuran, maksudnya?” Ali menimpal.
“Iya, sebelum anak-anak sekolah tawuran di Jakarta, sekolah kami sudah lebih dulu.”
“Tapi, sekarang, SMA itu bertransformasi. Jika di banyak sekolah ada musalanya; saat ini, SMA 7, punya masjid! Ukurannya pun, tidak kecil.”
“Tiap bulan ada acara pengajian. Saya pernah juga mengisi acara tersebut.”
Menjelang azan Magrib, Lia dan Ali berpamitan.
Lantaran suka pura-pura sibuk, kayak yang banyak pekerjaan saja; padahal, hanya mulut dan telunjuk yang bekerja; baru tadi siang, saya lihat ibu dari anak-anak kami sedang membongkar dus.
“Apa, tuh?“
“Oleh-oleh dari Bu Lia, teman Bapak yang kemarin datang.”
Sri, istri saya, memanggil Nur, pengurus kebersihan masjid.
“Nur, tolong, ini Amplang, bagikan kepada anak-anak. Bisa langsung dimakan. Terus, godok air dan bikin teh manis, buat anak-anak juga. Biar mereka mencicipi oleh-oleh dari Banjarmasin.”
Saya sendiri, langsung hidupkan kompor, mengggodok air dan menyeduh Teh Gunung Satria. Diiringi banyak suapan Amplang yang gurih itu, teh itu terasa nikmat sekali. Sampai 3 cangkir, saya sikat!
Terima kasih, Bu Dosen Lia dan Ali (nama ibu dan anak, tukar-tukar posisi 3 huruf saja, ya!). Jazakumallahu khairan.
Ciomas, 26 Januari 2025; bakda Magrib. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar