Angel’s Crew Change


حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ

_haafizhuu ‘alaash-shalawaati wash-shalaatil-wustha wa quumuu lillaaHi qaanitiin_

“Peliharalah oleh kamu semua shalat, *dan shalat wusthaa*. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.”(QS. Al-Baqarah: 238).

Surah Al-Baqarah ayat 238 di atas mengatakan agar kita memelihara dan menjaga shalat-shalat. Semua shalat; tapi *ditekankan lagi pada shalat wustha*: peliharalah shalat2 itu, dan shalat wustha.

Dari ayat ini, paling tidak ada 2 hal yang perlu kita pahami.

Pertama, apa yang dimaksud dengan shalat wustha?

Kedua, dalam kalimat induk “peliharalah shalat2, semua shalat; tentu shalat wustha sudah termasuk di dalamnya. Tapi, *mengapa shalat wustha disebut lagi secara tersendiri*? Mesti ada sesuatu dengannya.

*Tentang Shalat Wustha*

Wustha artinya tengah.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا…

“Dan demikianlah, Kami jadikan kamu umat pertengahan …”(QS. Al-Baqarah:143).

Kata “wasathan” dalam ayat di atas berasal dari kata “wasathun”, artinya tengah.

Orang yang berada di tengah, antara 2 pihak yang bertanding dan ia harus bersikap adil, disebut *_wasiith_*; di-Indonesiakan menjadi *wasit*.

Sebagian ahli Fikih menyebutkan bahwa shalat pertengahan adalah Zuhur; ada juga yang mengatakan ia adalah shalat Subuh; tapi jumhur ulama berpendapat sebagai shalat Ashar.

Ashar diapit oleh 2 waktu shalat siang: Subuh & Zuhur dan 2 shalat malam hari: Magrib & Isya.

Dalam peristiwa Perang Ahzab, Rasulullah saw. bersabda:

“Mereka telah membuat kita lupa shalat wustha, yaitu shalat Ashar. Semoga Allah memenuhi hati dan rumah mereka dengan api. Kemudian beliau melakukannya di antara shalat Magrib dan Isya.” (HR. Ahmad).

“Peliharalah segala shalat dan shalat wustha. Dia mengistilahkannya demikian bagi kita. Ia adalah shalat Ashar.” (HR. Ahmad).

Ibnu Jarir mengatakan dengan sanadnya dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Shalat wustha ialah shalat Ashar.”


Kita tinggalkan sejenak tentang shalat Wustha; dan beralih sejenak ke *shalat Fajar* (Subuh).

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

“Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) Fajar! *Sesungguhnya shalat Fajar itu disaksikan*” (QS. Al-Isra: 78).

Lagi, ada pernyataan penekanan khusus! Kalau sebelumnya pada *shalat Wustha (Ashar)*; di sini pada *shalat Fajar (Subuh)*

Bahwa shalat Subuh itu disaksikan. *Apa shalat lain tidak disaksikan?*

Tentu saja, disaksikan juga. Jangankan shalat, seluruh aktivitas manusia –sejak bangun pagi hingga tidur lagi di malam hari- tanpa kecuali, semuanya disaksikan oleh para malaikat.

Lantas, mengapa pada surah Al-Isra ayat 78 tersebut tersirat ada pesan khusus untuk shalat Subuh, seperti juga pada shalat Ashar -yang disinggung dalam Al-Baqarah 238.

Ada keistimewaan  apakah dengan shalat Subuh dan  Ashar, sehingga Quran memberikan perhatian demikian?

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَفِي صَلَاةِ الْعَصْرِ، فَيَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ -وَهُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ -كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: أَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Malaikat malam hari dan malaikat siang hari silih berganti ke¬pada kalian, dan mereka bertemu di dalam shalat Subuh dan shalat Ashar.

Kemudian, para malaikat yang bertugas pada kalian di malam hari naik (ke langit). Lalu, Tuhan mereka yang lebih menge¬tahui menanyai mereka tentang kalian,

‘Bagaimanakah keada¬an hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?’

Mereka menja¬wab, ‘Kami datangi mereka sedang mengerjakan shalat, dan kami tinggalkan mereka sedang melakukan shalat.’” (HR. Bukhari – Muslim).


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَار،ِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ فَيَقُولُ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di tengah2 kalian ada malaikat yang silih berganti bertugas mengiringi kalian di waktu malam dan siang hari.

Mereka bertemu ketika waktu shalat Ashar dan waktu shalat Subuh. Malaikat yang mengawasi kalian di malam hari naik ke langit, lantas Allah bertanya kepada mereka,

‘Bagaimana kalian tinggalkan hamba2-Ku? Para malaikat menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka ketika mereka tengah mendirikan shalat, dan kami datangi mereka saat mereka sedang shalat.’” (HR. Bukhari).

Dahulu, waktu masih muda dan bekerja di eksplorasi migas, saat bertugas di sumur pengeboran, seorang geolog (_well site geologist_) atau _petroleum engineer_, waktu pergantian tugas, adalah per 2 minggu.

Beda bagian, beda perusahaan; bisa beda pula pengaturan pergantian petugas (_crew change_) lapangannya.

Di tambang emas, batubara, dan sebangsanya, misalnya, ada yang 6-2: 6 minggu kerja, 2 minggu libur.

Rupanya, sistem pergantian pekerja ini, terjadi pula pada para malaikat. Mereka yang dinas siang, bekerja mulai Subuh hingga Ashar.

Petugas malam, berdinas dari Ashar sampai Subuh.

Saat pergantian pekerja (_crew change_) tersebut, dilakukan serah terima pekerjaan dari petugas lama ke yang baru menggantikan.

Orang2 dicatat amalnya, pada waktu Subuh dan Ashar, oleh yang dinas siang dan yang tugas malam.

Karenanya:

“Peliharalah shalat2 itu; dan shalat Ashar!” Sebab, Ashar jatuh saat pergantian “supervisor”.

“Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan.” Disaksikan oleh malaikat yang dinas siang dan yang tugas malam.

Jadi, waktu Ashar dan Subuh adalah jadwal piket malaikat: _Angels’s Crew Change._



Ciomas, 28 November 2024; malam hari. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar