“Kang Jonih, udara panas sekali di sini, 44 0C. Selepas Subuh, pembimbing kami, Ust.. Luthfi, menyampaikan taushiah, termasuk tentang Air Zamzam.
Kata beliau, ‘Mengapa Air Zamzam tak habis-habis, tanyalah orang geologi!”
“Jadi teringat buku Malaikat Cinta. Kalau masih ada, punten, artikel tentang Air Zamzam, dikirim, untuk saya _share_ kepada ustaz dan teman-teman jamaah satu grup,” dari tanah suci, Bang Iswan Kadir, berkirim WA.
Supaya bisa dinikmati oleh khalayak, saya kirimkan juga ini tulisan, kepada kawan-kawan.
Hajar, ketika berada di atas bukit Marwah, mendengar ada suara. Dia berkata kepada dirinya sendiri, “Diam!”
Setelah ia berusaha mengosentrasikan pendengarannya, ternyata memang benar ia mendengar suara.
Dia pun berkata, “Aku telah mendengar, apakah di sana ada pertolongan?”
Tiba-tiba Hajar melihat Malaikat Jibril mengais tanah dengan kakinya (atau dengan sayapnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang lain).
Jibril memukulkan kakinya pada tanah itu. Keluarlah air dari dalam tanah. Dan…memancarlah Zamzam.
Hajar pun bergegas mengambil dan menampungnya. Ia ciduk air itu dengan kedua tangan. Lalau, memasukkannya ke dalam tempat air.
Setelah diambil, air tersebut malah semakin memancar.
Dia pun minum air itu dan memberikan kepada putranya, Ismail.
Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Jangan takut telantar. Sesungguhnya, di sinilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini (Ismail) bersama ayahnya.
Dan, sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan hambanya.”
Beberapa waktu kemudian, datanglah orang-orang dari kabilah Jurhum turun ke lembah Makkah. Kafilah itu berhenti karena melihat burung-burung yang berputar-putar.
Mereka berkata, “Burung-burung itu berputar-putar di sekitar air. Kami yakin di lembah sana ada air.”
Rombongan itu mengirim utusan. Ternyata benar mereka mendapatkan air. Utusan itu pun kembali dan memberitahukan kepada orang-orang yang mengutusnya tentang adanya air.
Kaum Jurhum itu, kemudian, mendatanginya, dan meminta izin dari Hajar bahwa mereka akan mampir ke sana.
Hajar mempersilakan dengan syarat bahwa mereka tidak berhak memiliki sumber air tersebut. Kabilah Jurhum setuju.
Waktu pun berlalu, kabilah Jurhum meninggalkan tempat itu dan menutup mata air Zamzam.
Terkuburlah ia selama bertahun-tahun. Setelah itu, sumur tersebut tidak banyak atau bahkan tidak ada ceritanya dan dikabarkan hilang.
*Penemuan Kembali Air Zamzam*
Ketika Abdul Muthalib sedang tidur di Hijir Ismail, dia mendengar suara yang menyuruhnya menggali tanah.
“Galilah _thayyibah!”_
“Yang baik yang mana?” tanyanya.
Hari berikutnya, ketika tidur di tempat yang sama, dia mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali barrah (yang baik).
Dia bertanya, “Benda yang baik yang mana?” Lalu dia pergi.
Keesokan harinya, ketika tidur di tempat yang sama di Hijir Ismail, dia mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali madhmunah (sesuatu yang berharga).
Dia bertanya, “Benda yang baik yang mana?”
Akhirnya pada hari yang keempat dikatakan kepadanya, “Galilah Zamzam!”
Dia bertanya, “Apa itu Zamzam?”
Dia mendapat jawaban, “Air yang tidak kering dan tidak meluap, yang dengannya engkau memberi minum para haji.
Dia terletak di antara tahi binatang dan darah. Berada di patukan gagak yang hitam, berada di sarang semut.”
Sesaat Abdul Muthalib bingung dengan tempat tersebut, sampai akhirnya ada kejelasan dengan melihat kejadian yang diisyaratkan kepadanya. Kemudian ia pun bergegas menggalinya.
Orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, “Apa yang engkau kerjakan, hai Abdul Muthalib?”
Dia menjawab, “Aku diperintahkan menggali Zamzam.”
Bersama anaknya, Harits, Abdul Muthalib terus menggali untuk mendapatkan apa yang diisyaratkan dalam mimpinya.
Mereka menggali kembali sumur Zamzam yang telah lama dikubur dengan sengaja oleh Suku Jurhum, tatkala mereka terusir dari kota Makkah. Akhirnya, keluarlah kembali air itu.
*Mengapa Perlu Minum Air Zamzam?*
Dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw. bersabda, “Air Zamzam, tergantung niat orang yang meminumnya.”
Dari Ibnu ‘Abbas r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Air Zamzam sesuai dengan niat ketika meminumnya.
Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. jika kamu meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya.
Air Zamzam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail.”
Disebutkan dalam _Silsilah Shahihah_, “Adalah Rasululllah ﷺ membawa air Zamzam di dalam kantong-kantong air yang terbuat dari kulit. Beliau menuangkan dan membasuhkannya kepada orang yang sedang sakit.”
Tatkala Jibril memukul Zamzam dengan tumit kakinya, Hajar segera mengumpulkan luapan air. Nabi berkata:
“Semoga Allah merahmati Hajar dan Ummu Ismail. Andai ia membiarkannya, maka akan menjadi mata air yang menggenangi (seluruh permukaan tanah).”
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah Zamzam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.”
Abu Dzar al Ghifari berkata, “Selama 30 hari, aku tidak mempunyai makanan kecuali air Zamzam. Aku menjadi gemuk dan lemak perutku menjadi sirna. Aku tidak mendapatkan dalam hatiku kelemahan lapar.”
Dari Hammam, dari Abi Jamrah ad-Duba`i, ia berkata,
“Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu Abbas mengatakan, dinginkanlah dengan air Zamzam, karena Rasulullah ﷺ mengatakan:
‘Sesungguhnya demam adalah dari panas Neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zamzam.”
Ibnul Qayyim berkata,”Aku dan selain diriku telah mengalami perkara yang ajaib tatkala berobat dengan air Zamzam. Dengan izin Allah, aku telah sembuh dari beberapa penyakit yang menimpaku.
Aku juga menyaksikan seseorang yang telah menjadikan Air Zamzam sebagai makanan selama beberapa hari, sekitar setengah bulan atau lebih.
Ia tidak mendapatkan rasa lapar, ia melaksanakan tawaf sebagaimana manusia yang lain. Ia telah memberitahukan kepadaku bahwa ia terkadang seperti itu selama empat puluh hari.
Ia juga mempunyai kekuatan untuk berjima’, berpuasa, dan melaksanakan thawaf.
*Hidrogeologi Zamzam*
Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30,5 meter. Hingga kedalaman 13,5 meter menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim.
Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Batupasir ini hasil transportasi dari tempat lain yang lebih tinggi, kemudian diendapkan di tempat ini.
Di bawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim terdapat 0,5 m lapisan batuan yang sangat lulus air (permeabel). Lapisan batuan inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air.
Pada kedalaman 17 meter ke bawah dari lapisan permeabel ini, dijumpai lapisan batuan keras berupa batuan beku diorit.
Pada bagian atas batuan ini terdapat rekahan-rekahan yang juga mengandung air.
Dulu, ada yang menduga retakan ini menuju Laut Merah. Tetapi, belum ada laporan geologi yang menunjukkan hal itu.
Dari uji pemompaan, sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11-18,5 liter/detik. Per menit dapat mencapai 660 liter, dan per jam 40.000 liter. Rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air yang banyak.
Ada rekahan yang memanjang ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm, juga beberapa rekahan kecil ke arah Safa dan Marwah.
Diameter bibir sumur 1,68 m. Di bagian dalam, diameter sumur ada yang menyempit hingga 1,46 m; ada yang melebar hingga 1,93 m. Kedalaman akhir sumur, dari permukaan, 30 meter.
Tinggi muka air berada pada kedalaman 4 meter. Sedangkan titik-titik tempat keluarnya air atau mata air 13 meter.
Kota Makkah terletak di lembah. Menurut ¬_Saudi Geological Survey_, luas cekungan yang menyuplai daerah tangkapan (_catchment area_) ini seluas 60 km2 saja.
Tentunya, tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air sumur Zamzam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Makkah.
Badan Riset Pemerintah Arab Saudi membentuk sebuah badan khusus yang mengurusi sumur Zamzam ini. Namanya Badan Riset Sumur Zamzam dan bekerja di bawah Direktorat Geologi Saudi, _Saudi Geological Survey._
Sumur ini secara hidrologi adalah sumur biasa, sehingga sangat memerlukan perawatan.
Perawatan sumur ini termasuk menjaga kualitas higienis air dan lingkungan sumur serta menjaga pasokan air supaya mampu memenuhi kebutuhan para jamaah haji di Makkah.
Pembukaan lahan untuk pemukiman di seputar Makkah sangat ditata rapi untuk menghindari berkurangnya kapasitas sumur ini.
Masjidilharam berada di bagian tengah di antara perbukitan-perbukitan di sekitarnya.
Luas area tangkapan yang hanya 60 km2 ini tentunya relatif kecil untuk menangkap air hujan yang sangat langka terjadi di Makkah, sehingga memerlukan pengawasan dan pemeliharaan yang sangat khusus.
Tariq Hussain dan Muin Uddin Ahmed, dua ahli hidrologi dari Pakistan, pada tahun 1971 melakukan penelitian hidrologi Zamzam.
Penelitian ini dipicu oleh pernyataan seorang peneliti di Mesir yang menyatakan air Zamzam tercemar air limbah dan berbahaya untuk dikonsumsi.
Tariq Hussain juga meragukan spekulasi adanya rekahan panjang yang menghubungkan Laut Merah dengan sumur Zamzam, karena Makkah terletak 75 km dari pinggir pantai.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pernyataan itu tidak benar. Akan tetapi, ada hal penting, yaitu penelitian Tariq Hussain ini memicu pemerintah Arab Saudi untuk memerhatikan sumur Zamzam secara modern.
*Apakah Air Zamzam Akan Habis?*
Pertanyaan sejenis banyak diajukan masyarakat kepada teman-teman di Pertamina Geothermal. Apakah panas bumi akan habis?
Dilakukan uji pemompaan sumur Zamzam selama kurang lebih 24 jam, dan dihasilkan debit air 8000 liter/detik.
Hasilnya, tinggi permukaan air menurun dari 3,23 m di bawah tanah hingga 12,79 m. Lalu, menjadi 13,39 meter.
Sementara itu, tinggi air bertahan di 13,39 m. Muka Air kembali naik ke 3,9 m di bawah tanah, hanya 11 menit setelah pemompaan dihentikan.
Ketersediaan cadangan Air Zamzam di dalam reservoir adalah persis seperti energi geothermal, yakni berasal dari air hujan yang meresap di dalam lapisan batuan permeabel.
*Kesimpulannya, seperti energi panas bumi, Zamzam pun demikian; yakni selama ada suplei air hujan, insya Allah, air Zamzam tak akan pernah habis.*
*Doa Minum Air Zamzam*
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا
_AllaaHumma innii as-aluka ’ilman naafi’an wa rizqon waasi’an_
*Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan rezeki yang luas*
وَشِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَسَقَمِ
_wa syifaa-an min kulli daa-in wa tsaqomin_
*dan kesembuhan dari setiap sakit dan penyakit*
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
_birohmatika, yaa ar-hamar-roohimin_
*dengan rahmat-Mu, wahai Yang Mahakasih dan Mahasayang.*
Dituliskan kembali di Ciomas, @ 3 Juni 2025, bakda Subuh. Salam, Jr.
Note: Agar Ibu2/Bpk2 mendapat gambaran lebih jelas hal posisi dan situasi Sumur Zamzam, dibawah ini, dilampirkan 3 gambar penampang Zamzam.
Tinggalkan komentar