Dalam perjalanan Tangerang-Bogor, sehabis melayat istri seorang kawan di Pondok Aren, bersama Om Teguh Wibowo dan Mas Indra Prasetya, dalam rangka memenuhi tuntunan hak perut yang meminta diberi asupan, kami berhenti di rest area.
Rupanya, bukan hanya para pekerja kantor atau pedagang aneka barang yang mengambil cuti Lebaran, di warung-warung nasi, juga sama, karyawannya pada pulang ke kampung halaman..
Hanya toko-toko pakaian dan salon kecantikan yang setia melayani para pelanggan.
Malah, di sebuah tempat merias wajah, tak begitu jauh dari tempat keluarga kami tinggal, kata seorang kawan, salon itu, begitu selesai waktu shalat Subuh, 1 Syawal, dipenuhi banyak wanita -calon ibu dan para ratu rumah tangga
“Buat apa?”
“Demi membuat hari raya tambah ceria; dan tentu saja: supaya mata, hidung, dahi, dan pipi tampak lebih berseri dan glowing!”
Kembali ke laptop. Di beberapa tempat istirahat itu, restoran dan rumah makannya sih, ada; tapi orang di dalam bangunan-bangunan itu tidak terlihat; pun pintu-pintunya tertutup.
Walhasil, kami meminta maaf kepada bagian badan yang merasa aga perih, lantaran telat dikasih makan.
Trio Jumbo, di dekat Terminal Barangsiang, menjadi tempat kami berlabuh.
Barangkali, karena lapar yang agak kuat, nasi panas ditemani ayam bakar, daun singkong, dan sambal hijau;
didahului teh kental yang panasnya pas, terasa amat nikmat di tenggorokan dan kerongkongan.
Teman satu meja, melirik piring saya yang sudah mau bersih.
“Kayaknya, perlu nambah, tuh!”
“Kalu menurut nafsu, saya bisa tambo tak hanya ciek, duo juo, bisa! Tapi, direm, dech.”
Kawan ini, dahulu kala, waktu baru-baru kerja, di rumah kontrakannya, di Jalan Pancuran, Cirebon; mengajak saya makan.
Setelah saya menyelesaikan piring pertama, ia berkata:
“Aku tahu porsimu. Ayo tambah!”
Sekarang mah, suplei karbo, agak dikurangi, dah!
Menjelang mau selesai menunaikan tugas, memenuhi hak badan yang kelaparan, dan bersiap-siap hendak ke luar Rumah Makan Padang langganan kawan-kawan itu, hujan turun dengan derasnya.
Kepada teman-teman, saya bilang, “Kalau lagi di rumah, tiba-tiba hujan deras, seperti ini; saya langsung mengambil wudhu.
Lalu, shalat tasbih dan shalat hajat.
Saat turun hujan adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa.
Urutannya, saya shalat tasbih dulu; kemudian, disambung shalat hajat.
Selesai baca doa shalat hajat, agar lebih mujarab… , eh, mustajab, sambung dengan ismul-‘azham, nama2 Allah yang Agung; kemudian, tambahkan shalawat. Setelah itu, panjatkan hajat.
Kalau diperlukan, nanti saya share tata caranya?”
“Mau, dong!”
Mudah-mudahah tak lupa, akan saya kirim setelah tulisan ini, dan sepulang dari Bandung. Insya Allah.
Dalam perjalanan Ciomas-Bandung; 3 April 2025, bakda Subuh. Salam, Jr
Tinggalkan komentar