Bag. 2 dari: Banjir Besar Dan Longsor

Tinjauan Geohidrologi, Vegetasi Dataran Tinggi, dan Tanggung Jawab Sosio-Religi

Dinding Air -analisis banjir bandang

Jika banjir genangan adalah pembunuhan yang pelan, banjir bandang atau flash flood adalah pembunuhan berdarah dingin -yang bergerak secepat kilat.

Ini adalah fenomena paling mematikan dalam hidrologi. Banjir bandang biasanya terbentuk di daerah topografi curam.

Hujan ekstrem terjadi di satu titil spesifik, di hulu sungai kecil. Air terkumpul dengan cepat karena bentuk lembah yang sempit menyerupai huruf “V”.

Seringkali, aliran ini sempat tertahan sementara oleh bendungan alami: tumpukan kayu tumbang atau longsoran kecil yang menyumbat sungai di hulu.

Air menumbuk di belakang sumbatan ini membangun tekanan yang luar biasa. Ketika bendungan alami itu akhirnya jebol, air tidak mengalir, melainkan meledak keluar.

Ia turun sebagai satu kesatuan gelombang kejut sebuah dinding air. Gelombang ini bukan air bersih. Ia adalah adukan semen alami.

Air, lumpur, bongkahan batu, dan batang pohon utuh. Masa jenisnya yang tinggi memberinya momentum unutk menghancurkan apa pun: jembatan beton, rumah permanen, hingga menyeret kendaraan sejauh ukuran jarak kilometer.

Kecepatannya bisa mencapai puluhan km/jam; dan mengerikannya!

Di lokasi kejadian di hilir; langit, mungkin cerah dan tidak hujan. Korban, seringkali tidak menyadari bahaya telah sampai.

Mereka mendengar suara gemuruh. Suara gesekan ribuan batu yang terbawa arus, beberapa detik sebelum dinding air itu tiba.

Pendangkalan -sungai yang kehabisan napas

Banjir juga diperparah oleh apa yang dibawa air, yakni sedimen. Ketika erosi terjadi di hulu akibat longsor, tanah itu tidak hilang. Ia berpindah, masuk ke aliran sungai dan terbawa ke hilir.

Ketika aliran sungai melambat di dataran rendah, ia tidak lagi membawa beban sedimen ini. Tanah, pasir, dan lumpur di jatuhkan, mengendap di dasar sungai.

Sedimentasi adalah cara sungai memberitahu kita bahwa ia tersedak oleh tanah yang kita biarkan lepas.

Proses ini disebut agradasi atau pendangkalan dasar sungai. Tahun demi tahun, dasar sungai perlahan naik.

Jika, dulu sungai sedalam 5 m; kini, mungkin tinggal 2 m. Kondisi ini mengurangi penumpang basah sungai secara signifikan.

Kapasitas sungai untuk mengalirkan air berkurang drastis. Akibatnya, hujan dengan intensitas sedang pun -yang dulu sepertinya aman-aman saja; kini, bisa menyebabkan banjir besar!

Erosi di dataran tinggi menyebabkam banjir di darah rendah. Aktivitas manusia yang merusak tanah di satu tempat akan menjadi masalah air di tempat lain.

Ketika segelintir manusia serakah -atas restu penguasa- melakukan pembabatan pepohonan hutan di pegunungan; rakyat tak berdosa di area pemukiman yang mendapatkan dampaknya.

Longsor

Pemicu Kecil, Runtuhan Besar -kembali ke lereng bukit yang basah

Terkadang, air sudah menjenuhkan tanah; lereng sudah kritis. Namun, ia masih bertahan diam.

Ia berada dalam kondisi keseimbangan yang sangat genting -seperti gelas di ujung meja yang hanya butuh satu sentuhan jari untuk jatuh.

Di titik ini, longsor tidak lagi membutuhkan hujan deras. Ia hanya butuh pemicu. Triger ini, bisa berupa hal2 yang tidak kita sadari.

Gempa bumi mikro yg tidak terasa oleh manusia, bisa cukup untuk memutus ikatan tanah yang sudah lemah.

Getaran konstan dari lalu lintas kendaraan berat di jalan raya -yang dekat dengan tebing; atau, dentuman aktivitas pertambangan, bisa merambat melalui tanah dan merusak kohesi partikel.

Bahkan, pembebanan tambahan di atas lereng seperti pembangunan rumah atau kolam penampungan air, bisa menjadi “jerami” terakhir yang mematahkan punggung unta.

Ketika tanah sudah berada di ambang batas kestabilan, gangguan sekecil apa pun akan direspons dengan pelepasan energi potensial yang sangat dahsyat.

Tanah runtuh bukan karena getaran itu kuat, tapi karena tanah itu sudah siap untuk jatuh.

Pada akhirnya, banjir dan tanah longsor bukanlah dua bencana yang terpisah. Mereka adalah saudara kembar.

Dua wajah berbeda dari satu fenomena yang sama, banjir dan longsor. Itu terjadi, karena. ketidakseimbangan hidrologi. Keduanya berbagi akar masalah yang sama.

Air yang berlebih, tanah yang kehilangan struktur, vegetasi yang hilang, dan gravitasi yang tak kenal ampun.

Keduanya terjadi ketika sistem alam yang telah berevolusi selama jutaan tahun untuk mengelola air dan tanah, itu semua terganggu.

Banjir adalah tentang air yang agresif mencari ruang. Longsor adalah cerita tentang tanah yang lelah menahan beban.

Ketika kita melihat bukit runtuh atau jalanan tenggelam. Kita sedang menyaksikan bumi yang sedang mencoba mencari keseimbangan barunya.

Air akan selalu mengalir ke tempat rendah; dan tanah akan selalu jatuh, jika tidak ada yang menahannya.

Memahami proses ilmiah ini dari sekala seni bertahan hidup.

Karena, di planet yang bergerak dinamis ini, satu-satunya cara untuk hidup aman bukan dengan melawan air dan tanah, tetapi dengan memahami ke mana mereka akan bergerak dan memberi ruang yang mereka butuhkan.

Hujan akan berhenti, banjir akan surut, dan tanah akan merambat kembali. Namun, jejak yang ditinggalkan adalah pengingat abadi bahwa tanah di bawah kaki kita dan air yang jatuh dari langit adalah kekuatan yang jauh lebih besar dari apa yang sering kita sadari.

Vegetasi Dataran Tinggi -jasa hutan yang terlupakan

Kita sering mendengar: “Jagalah hutan untuk mencegah banjir!”

Tapi, bagaimana mekanismenya? Hutan adalah insinyur hidrologi terbaik yang pernah ada.

Pertama, lantai hutan. Tanah di hutan purba dilapisi oleh serasah, daun busuk, dan humus. Lapisan ini bisa menyerap air berkali-kali lipat dari beratnya sendiri. Ia menahan air agar tidak langsung lari ke sungai.

Kedua, proses transpirasi pohon yang merupakan pompa air alami. Akar menyerap air dari tanah dan daun melepaskannya kembali ke atmosfer sebagai uap air.

Satu pohon dewasa berukuran besar bisa memompa ratusan liter air per hari dari tanah, kembali ke udara.

Hutan secara aktif mengosongkan tangki air tanah sehingga ketika hujan berikutnya turun, tanah siap menampung air lagi.

Saat hutan hilang, kita kehilangan spons penyerap dan pompa penguras; sekaligus daya serap tanah turun drastis hingga 70%.

Air tidak memiliki tempat singgah. Ia langsung menuju ke sungai membawa serta tanah lapisan atas yang subur. Tanpa hutan, kita pada dasarnya sedang mempercepat siklus air menjadi siklus bencana.

Tempat Cadangan Air Tanah
Hutan menyediakan cadangan air melalui penyerapan air ke akar dan tanah.

Hutan yang terjaga akan menyerap, menyimpan, dan melepaskan air secara teratur untuk mempertahankan ketersediaan sumber daya air tetap stabil.

Hutan memiliki lapisan humus dan bahan organik yang tebal di permukaan tanah.

Air yang disimpan dalam tanah di hutan, akan mengalir melalui lapisan bawah tanah, menuju ke sungai, danau, serta sumur di sekitarnya.

Mengatur Siklus Air
Hutan juga berperan dalam mengatur siklus air di lingkungan. Melalui proses evapotranspirasi, hutan akan mengeluarkan uap air ke atmosfer.

Proses ini terjadi ketika pohon dan tumbuhan menyerap air dari tanah melalui akar dan mengangkutnya ke permukaan daun hingga menguap melalui stomata.

Selanjutnya, uap air yang dihasilkan melalui evapotranspirasi dari hutan berdifusi ke atmosfer dan bertemu dengan udara dingin di atmosfer atas.

Ini mengakibatkan terjadinya kondensasi uap air menjadi awan.

Awan-awan ini, kemudian membawa uap air dalam bentuk partikel kecil yang akan bergabung dan membentuk tetes air, yang akhirnya jatuh sebagai hujan.

Hutan yang luas dan lebat dapat menciptakan awan lebih banyak, sehingga akan meningkatkan peluang terjadinya hujan secara berkelanjutan.

Konservasi Tanah
Hutan pun memiliki peran penting dalam konservasi tanah.

Sistem akar pohon yang kuat dapat membantu menjaga kestabilan dan kepadatan tanah, sehingga mencegah terjadinya erosi akibat air dan angin.

Dedaunan yang jatuh juga dapat memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi tanah.

Selain itu, hasil uraian bahan organik dari hutan dapat menjadi humus untuk meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah.

Menahan Banjir dan Mencegah Longsor
Di antara fungsi hutan yang sangat krusial adalah mencegah bencana alam seperti banjir dan longsor.

Akar pohon membantu menjaga kestabilan tanah dan mengurangi risiko longsor, sementara dedaunan lebat akan menyerap dan menyimpan air hujan.

Selain itu, hutan juga berperan sebagai penyerap air sumber daya air berskala besar.

Hal ini dapat membantu mengurangi volume dan kecepatan aliran air di permukaan tanah saat hujan deras, sehingga mengurangi risiko banjir di wilayah sekitarnya.

Alih Fungsi Lahan, Terganggunya Biodiversity –hilangnya sabuk pengaman

Alam memiliki mekanisme pertahanan canggih untuk malawan semua proses destruktif yang menimpa hutan.kerak tipis

Mekanisme ini dilakukan oleh vegetasi. Pepohonan, semak, dan rumput bukan sekadar hiasan hijau; mereka adalah jangkar biomekanis.

Akar pohon bekerja seperti jaring baja yang ditanam ke dalam beton. Mereka memeluk tanah, dan mengikat butiran2 untuk tetap bersatu dan memberikan kekuatan tarik pada lereng.

Tanpa akar, tanah hanyalah tumpukan materinya lepas yang menunggu waktu untuk jatuh.

Selain itu, batang pohon, daun, dan ranting berfungsi sebagai payung raksasa yang menahan energi kinetik hujan, sebelum menyentuh tanah; mencegah splash erosion .

Namun, ketika deforesisasi terjadi, manusia melakukan alih fungsi lahan dengan a.l. pembalakan pohon2 besar yang beraneka jenis; dan menggantinya dengan tanaman satu jenis; pada dasarnya, kita sedang melepas sabuk pengaman bumi.

Tanah menjadi terbuka tanpa perlindungan kanopi; hujan menghantam langsung tanpa cengkeraman akar. Struktur tanah menjadi longgar.

Pada awalnya, tanah mungkin menyerap air dengan cepat. Namun, karena struktur organiknya rusak dan memadat, ia jenuh.

Air menjadi mengalir jauh lebih cepat. terjadi limpasan air dilahan gundul, kecepatannya bisa 10 hingga 20 kali lebih besar dibandingkan dilahan berhutan.

Air yang mengalir tanpa hambatan vegetasi, memiliki energi kinetik penuh untuk menggerus permukaan.

Hasil akhirnya, bukan hanya erosi, tetapi membentuk bubur tanah, campuran air dan senimen yang diangkutnya. Kekuatan gaya alirnya, jauh lebih tinggi dari pada air biasa.

Ia memiliki daya hancur yang mampu merobohkan tembok beton, sekalipun!.

Hutan Aneka Ragam Hayati (biodiversity) versus Tanaman Monokultur

Hutan Aneka Ragam Hayati tersusun oleh unsur biotik dan abiotik.

Unsur biotik (makhluk hidup), meliputi, a.l.: berbagai jenis pohon asli, semak, lumut, fungi, serangga, hewan (mamalia, burung, reptil), mikroorganisme.

Tanaman pada hutan ini merupakan pohon-pohon asli (berdaun lebar atau jarum), tumbuhan bawah (semak, rumput, tanaman merambat), lumut, dan tumbuhan non-kayu lainnya.

Di lingkungan ini, hidup berbagai jenis binatang, seperti: serangga, mamalia (rusa, monyet), burung, reptil, dan amfibi.

Mikroorganisme pun berkembang dengan baik. Bakteri dan fungi berperan penting dalam dekomposisi dan siklus nutrisi.

Unsur abiotik (tak hidup), terdiri atas: tanah, air, udara, dan cahaya matahari, yang semuanya berinteraksi membentuk ekosistem yang kompleks dan tumbuh secara alami tanpa banyak campur tangan manusia.

Struktur utamanya terdiri dari lapisan vegetasi yang bervariasi, dari kanopi hingga lantai hutan, serta keanekaragaman spesies yang menjadikannya habitat penting.

Hutan jenis ini mempunyai sistem keamananan berlapis untuk -menjaga kesuburan tanah dan tanaman, serta menjaga kesimbangan biotik dan abiotik..

Hutan dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) menjaga kelestarian hutan dengan menciptakan ekosistem yang seimbang.

Setiap spesies memiliki peran penting dalam siklus alami, penyerapan air, kesuburan tanah, dan pencegahan bencana.

Dalam kaitannya dengan bahaya banjir dan longsor, biodiversity berperan dalam siklus air dan tanah.

Tumbuhan di hutan membantu penyerapan air hujan, mencegah erosi dan longsor, sementara daun gugur mengurai menjadi pupuk alami, menjaga kesuburan tanah.

Kesemuanya itu, pada akhirnya, menjaga tanah dari terbawa longsor dan melimpahnya air secara besar-besaran dan dalam waktu yang singkat.

Hutan Monokultur

Adapun tanah hutan yang terkena deforisasi; lalu, ditanami pohon-pohon monokultur, satu jenis saja, seperti sawit, sangat berpotensi mengakibatkan banyak musibah.

Kemampuan sawit untuk mencegah banjir, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan hutan alam. Mengapa?

  1. Nilai infiltrasi di kebun sawit – 30ml/jam, sedangkan pada hutan alam
    100 – 200ml/ jam.

Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan tanah ke dalam tanah ke dalam tanah

Di kebun sawit infiltrasi menjadi turun drastis, karena terjadi pemadatan tanah (soil compaction) yang disebabkan oleh penggunaan alat berat saat pembukaan lahan dan pemeliharaan.

  1. Akar sawit dangkal dan terkonsentrasi pada kedalaman kurang lebih 0 – 60 cm; pohon hutan bisa 1 hingga 2 m.

Hal ini menyebabkan tanah di sekitarnya terpecah dan pemeabilitasnya rendah, sehingga air sulit untuk meresap.

  1. Sawit adalah tanaman monokultur, ditanam di lahan yang luas, tanpa campuran vegetasi lain.

Tumpukan sisa organik sawit jauh lebih sedikit dibanding pohon hutan membuat tanah di sekitarnya, miskin nutrisi, tidak gembur, dan lebih cepat memadat.

  1. Kanopi sawit tidak memiliki lapisan vegetasi beragam, menyebabkan hujan langsung menghantam tanah yang daya pukulnya bisa meningkatkan kemungkinan erosi dan mempercepat aliran permukaan yang dapat memicu banjir.
  2. Koefisien limpasan (run-off) permukaan sawit 0,4 – 0,6. Ini artinya, 2x lebih tinggi dari koefisien run-off hutan alam.

Koefisien run-off mengindikasikan bagian dari air hujan yang tidak masuk ke dalam tanah dan langsung mengalir di permukaan.

Semakin tinggi runoff, semakin besar potensi banjir dan erosi.

—-Bersambung

Tinggalkan komentar