Apa Bedanya?
Bagian I
Kemarin, saya kirim kepada teman2, tulisan hal Kampung Naga.
Banyak pembaca artikel itu bertanya, “Apakah masyarakat Kampung Naga sama seperti Orang Baduy?”
Senior saya di Pertamina EP, Bang Ridwan Nyak Baik –geofisikawan, pakar kehumasan, dan penyair, berkaitan dengan penduduk Kampung Naga, merespons:
“Hatur nuhun Kang Jonih atas reportasenya.”
“Hal yang menarik dan menggelitik hati saya adalah pernikahan gadis Kampung Naga dengan pemuda luar (Bogor), dilaksanakan secara Islam dan di masjid.”
“Tolong saya di- update tentang kondisi masyarakat Kampung Naga, yang sependek saya tahu masih beragama Sunda Wiwitan.”
Sastrawan -yang piawai membuat syair berisi dan kontekstual dengan isu-isu hangat dalam hitungan menit ini- pun bertanya hal tingkat pendidikan masyarakat dan sentuhan modernitas di Kampung Naga.
Kembali ke pertanyaan banyak pembaca, jadi, “Apa bedanya masyarakat Kampung Naga dengan penduduk Baduy?”
“Ada samanya, juga bedanya.”
Di bawah ini, disajikan, apa yang saya tahu dan masih ingat –paling tidak dari kunjungan Jumat sore, 10/10/25 & Sabtu pagi-siang, 11/10/25 di Kampung Naga, dan silaturahmi –hampir seharian, beberapa tahun lalu.
Adapun ke Baduy Dalam; bersama istri, anak, adik, dan keponakan, sekitar 7 tahun lalu, pernah menginap 1 malam.
Asal-Usul Nama
Kata Naga berasal dari kata “Na Gawir”. “Na” kependekan dari kata “dina”, kata penunjuk tempat dalam bahasa Sunda; bahasa Inggrisnya “at/in/on”; bahasa Indonesianya “di/pada”.
“Gawir”, meski sudah menjadi bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Sunda, digunakan untuk menyebut “dinding terjal, lereng gunung, atau tebing”.
Atau, dinding antara tempat yang tinggi (gunung/bukit) dengan tempat rendah di bawahnya (lembah/sungai).
Dina gawir atau na gawir berarti pada tebing. Ini menunjukan posisi Kampung Naga berada pada atau dekat tebing atau gawir.
Orang geologi bilang, area ini adalah zona sesar (lihat tulisan saya kemarin: Kampung Naga – _Hidup Tenteram di Zona Sesar)
Kata Naga di sini, sama sekali tidak ada hubungan dengan nama hewan –yang suka muncul dalam film2 Mandarin; apalagi dengan 9 Naga!
Adapun nama Baduy, kabarnya, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang membandingkan mereka dengan kelompok Arab Badawi (sering dieja juga sebagai Badui), masyarakat yang nomaden.
Kemungkinan lain adalah, seperti kata para orangtua di sana, karena dahulu, di bagian utara dari wilayah tersebut, ada Sungai Baduy dan Gunung Baduy.
Lokasi.
Kampung Naga berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
Jarak dari Kampung Naga ke Garut kota 25 km; dengan kendaraan roda-4, ditempuh, lebih kurang, dalam 45 menit.
Jarak dari Kampung Naga ke Tasikmalaya kota 30 km; kalau naik mobil, diperlukan waktu sekitar 1 jam.
Akses ke area parkir menyambung ke jalan raya Tasik-Garut. Dari parkiran ke rumah penduduk berjalan kaki 5-10 menit saja, menuruni jalan berundak yang dipasangi batu-batu, rapi.
Orang Baduy menempati Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Perkampungan Baduy Luar sangat dekat dari area parkir kendaraan. Dengan berjalan kaki, hanya perlu 10-15 menit saja untuk mencapainya.
Untuk ke Baduy Dalam, jarak tempuhnya jauh dan makan waktu berjam-jam, naik-turun bukit dan lembah. Sangat melelahkan!
Suku dan Bahasa. Keduanya Suku dan berbahasa Sunda.
Agama.
Dasar keagamaan Orang Baduy adalah penghormatan pada ruh nenek moyang dan kepercayaan kepada satu kuasa, Batara Tunggal.
Orang Baduy menganut Sunda Wiwitan. Atau, kata sebagian mereka, Islam Nabi Adam.
Sedangkan masyarakat Kampung Naga beragama Islam dan tidak pernah menganut Sunda Wiwitan.
Arsitekstur Bangunan.
Menunjukan kesamaan, berupa rumah panggung, berpondasi batu, dinding bilik –bambu yang dianyam, lantai kayu papan, atap dari ijuk.
Mata Pencaharian.
Kedua Subsuku Sunda ini dalam kesehariannya, sebagian besar, bertani.
Orang-orang Baduy juga suka berjualan madu, hasil tani, kerajinan tas terbuat dari akar tanaman, atau golok/pisau; diedarkan di kota-kota terdekat. Mereka, dari kampungnya ke kota, berjalan kaki.
Dahulu, waktu kami tinggal di Gg. H. Lasim, Kp. Kreteg, sekitar 300 m dari lokasi Yayasan Ar-Rahmah sekarang, teman-teman dari Baduy ini, kalau kemalaman, sehabis berjualan di Bogor; secara rutin, bergantian, pada menginap di tempat kami.
Kampung Naga, karena letaknya sangat dekat dengan jalan raya, tak jauh dari area kota, dan banyak yang berpendidikan, selain bertani, banyak juga yang bekerja di luar kampung.
Ada yang berdagang, bekerja di perusahaan, atau menjadi pegawai negeri.
Sikap terhadap Alam Sekitar. Keduanya bersahabat dengan alam.
Tempat Kegiatan Bersihkan Badan.
Di Baduy, orang-orang mandi di sungai tapi tak boleh pakai sabun; di Kampung Naga, ada kamar mandi sangat sederhana, dari bahan bambu atau kayu dengan pancuran di dalamnya, di bawahnya ada kolam ikan.
Pendidikan Masyarakat.
Orang Baduy tidak mengenal pendidikan formal. Anak-anak belajar etika dari orangtua. Mereka tidak belajar tulis-baca. Anak-anak Kampung Naga bersekolah, dari SD hingga SLTA, ada juga yang sarjana.
Tina, mempelai wanita dalam pernikahan kemarin, berpendidikan SMA dan pernah belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri.
Agar tak kepanjangan dan supaya tak lelah dalam membacanya, saya bagi menjadi2 tulisan.
…bersambung
Tinggalkan komentar