Bagian II: Baduy dan Kampung Naga

Tina, mempelai wanita dalam pernikahan kemarin, berpendidikan SMA dan pernah belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri.

Pemudi ini pintar berbahasa Inggris. Karenanya, ia suka menjadi pemandu untuk tamu dari LN yang berkunjung ke Kampung Naga. Ini info untuk Bang Ridwan, juga kawan-kawan lainnya.

Kemungkinan Menikah dengan Orang Luar.

Walau para gadis Baduy terkenal cantik-cantik, kesempatan untuk meminangnya sangat sulit.

Seandainya Saudara menaksir dan berniat meminang salah seorang dari mereka, kendatipun Anda ganteng mirip Jefri Nichol dan kaya raya seperti Raffi Ahmad; gadis Baduy kemungkinan besar, akan menolaknya.

Apa sebab?

Lantaran, kalau menikah dengan orang luar, berarti gadis itu harus meninggalkan Baduy dan berpisah dengan keluarga besar.

“Bagaimana dengan dara Kampung Naga?”

“Nah, di sini, Anda beruntung! Meskipun seorang warganya, kemudian, tinggal di luar Kampung Naga, mereka tetap disebut masyarakat Kampung Naga.”

“Caranya?”

“Tanya Hari, pemuda Bogor –yang minggu lalu menikahi Tina, gadis Kampung Naga.”

Tanpa Listrik

Istri saya, kalau bepergian agak jauh dan menginap, untuk memanfaatkan waktu, suka merajut.

Kalau saya merajut cerita, lalu menjadi tulisan; dia merajut benang menjadi tas atau buah tangan lainnya.

Saat ke Baduy, ia bawa peralatan untuk rajut-merajut. Dalam hatinya, malam-malam, saat orang-orang tertidur, mau merajut. Ia baru sadar, ketika malam tiba, tak ada listrik di sana.

Minggu lalu, saat akan akad nikah Hari & Tina, di dalam masjid, mata ibu anak-anak kami ini, mengarah ke dinding-dinding, mencari-cari posisi sakelar.

Ia ingin menghidupkan lampu. Padahal, jangankan sakelar, lampunya pun tak ada.

Walhasil, acara dilakukan agak bergelap-gelapan. Untung saja, jendela terbuka. Ada lah secercah cahaya yang masuk ke ruangan.

Sentuhan Modernitas

Di Baduy, selain tak ada listrik, semua alat elektronika dilarang masuk. Seluruh perlengkapan modern tak boleh datang.

Bahkan, segala hal tidak diperkenankan diubah, dibiarkan apa adanya.

Ada pepatah “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”. Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung.

Dari sisi pelestarian lingkungan, ini bagus. Tapi, untuk kemajuan penduduk dan kampungnya, segala hal menjadi sangat lambat.

Kampung Naga lebih terbuka. Meski tak ada listrik, anak-anak muda bisa menggunakan telepon seluler. Mereka ngecas di atas, di luar kampung.

Pengelompokan Masyarakat

Masyarakat Kampung Naga dibagi menjadi 2 kelompok:

  1. Yang hidup di pemukimanm Kampung Naga
    1. Yang bermukim di luar Kampung Naga. Kelompok ini dikenal dengan Sanaga.

Suku kata “sa” dalam bahasa Sunda sama dengan se” dalam bahasa Indonesia; berarti sama atau sama-sama satu…. Salembur/sakampung: sama-sama satu kampung, sasakola: sama2 1 sekolahan, Saumur: seusia, sakaresep: sama2 punya hobi yang sama.

Boleh jadi, arti “Sanaga” adalah, walaupun hidup di luar Kampung Naga, tetap masih satu asal, satu kampung, satu Kampung Naga.

Baduy dibagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Dalam

Pakaian

Orang Baduy Dalam berbusana tradisional yang sederhana. Pria biasanya memakai baju berwarna putih dengan celana hitam dan ikat kepala putih.

Wanita mengenakan kain tenun tradisional yang disebut “sarung Baduy”. Warna pakaian mereka yang dominan putih dan hitam melambangkan kesucian dan kesederhanaan.

Baduy Luar lebih pakaiannya bisa beragam. Pria memakai baju hitam dan celana hitam, ikat kepala biru.

Wanita menggunakan kain tradisional, tetapi dengan variasi warna yang lebih bebas. Perbedaan warna ini mencerminkan fleksibilitas mereka dalam menerima perubahan.

Sikap dalam Menerima Tamu

Baduy Dalam cenderung menjaga jarak dari dunia luar. Mereka menolak pengaruh modern seperti teknologi, kendaraan, bahkan sabun kimia. Prinsip mereka adalah menjaga kemurnian adat dan alam. Orang asing dari LN dilarang masuk.

Baduy Luar menerima tamu dengan mudah.. Walau tetap mereka tetap berpegang teguh dengan adat, barang modern boleh masuk.

Itu tentang Masyarakat Baduy dan Kampung Naga.

Kapan-kapan, saya share tentang WAE REBO –Masyarakat yang Hidup pada Perkampungan di atas Awan, di puncak pegunungan, di Flores, NTT –yang ternyata, aslinya, Orang Minang!.

Ditulis di Ciomas, Bakda Zhuhur, 22/10/25. Salam, Jr

Tinggalkan komentar