“Ketika kita semua menyaksikan duka yang begitu mendalam di Sumatera, para pejabat bergantian berdatangan.
Bahkan, ada yang menggunakan momentum itu untuk ikut membersihkan rumah masyarakat dari lumpur.
Ya, tapi sekadar beberapa detik, supaya tertangkap oleh kamera. Ada juga yang memikul beras sekarung.
Anda percaya, sehari-hari hidup pejabat2 tsb., seperti itu?
Apakah kalau ada bencana kecil mereka juga datang?
Apakah ketika ada kedukaan mereka datang?
Ini semua, menjadi pertanyaan besar.
Bukankah apa yang terjadi belakangan ini adalah cerminan dari apa yang kita lakukan di masa lalu?
Saya jadi teringat apa yang dikatakan Bear Brian:
’Jangan menyembunyikan apa pun dalam setiap krisis, karena siapa pun juga, bagaimana pun juga; mereka akan menemukannya!’
Percakapan seorang pejabat, ketika ia menjadi Menteri Kehutanan yang memberikan izin membalak hutan atau membuka hutan begitu besar, tersebar di media.
Dia ditegur keras oleh Harrison Ford –bintang film kawakan Amerika. Hal itu, akhirnya dibuka ke publik.
Jangan mencoba menutupi apa pun, karena dalam krisis, semuanya akan terbongkar.
Video tentang Menteri Kehutanan, waktu itu, dimarahi Harrison Ford, beredar di Youtube.
Hari-hari ini, kita juga menyaksikan pejabat satu per satu datang ke Medan, Silangit, Nias, Aceh, ke Sumatera Barat, dan sebagainya.
Mereka berebut ke sana untuk menunjukkan empati.
Tapi pesan saya: ‘Jangan sembunyikan apa pun. Lakukan pekerjaan dengan benar!’”
Demikian pakar manajemen dari UI, Rhenald Kasali memperingatkan.
Di antara para petinggi negeri yang datang ke lokasi; ada yang memang –dalam kesehariannya- biasa memberi; pun, boleh jadi, sebagiannya, untuk memperbaiki citra diri.
Tapi, semuanya itu, apa pun yang ada dalam hati itu para petinggi; menurut saya pribadi, lebih bagus daripada mereka yang tidak berbuat sama sekali!
Lebih baik riya –tidak ikhlas, ingin dipuji, atau melakukan pencitraan diri; tetapi orang lain -para korban- mendapatkan manfaat yang berarti …
… daripada orang2 yang hatinya ikhlas, banyak rezeki, mungkin rajin berzikir & pintar mengaji; tapi kerjanya lebih banyak hanya mengkritisi hingga mencaci, …
… sulit memberi, & keberadaannya tidak mendatangkan manfaat kepada yang tertimpa musibah!
Akan halnya bencana besar ini, dahulu, Iwan Fals membuat lagu Hutanku dan Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi; bersesuaian sangat dengan keadaan apa yang terjadi saat ini!
Perhatikan bait-bait syair kedua lagu itu! Kini, menjadi kenyataan –yang menyengsarakan rakyat Sumatra!
Hutanku
Hutan ditebang, kering kerontang
Hutan ditebang, banjir datang
Hutan ditebang, penyakit meradang
Hutan-hutanku hilang, anak negeri bernasib malang
Hutan-hutanku hilang, bangsa ini tenggelam
Adakah engkau tahu ini adalah hukuman
Adakah engkau tahu ini adalah peringatan
Adakah engkau tahu ini adalah ancaman
Adakah engkau tahu ini adalah ujian Tuhan
Sadar dan sadarlah, hei, anak negeri!
Sadar dan sadarlah, para pemimpin!
Hentikan, hentikan!
Hentikan, semua duka ini!
Kembalikan kesuburan negeri ini
Kembalikan keindahan hutanku
Kembalikan, ketenangan bangsa ini
Kembalikan, kembalikan hutanku
Biarkan, biarkan hutanku bangkit lagi
Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi
Raung bulldozer, gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar, badut-badut serakah
Tanpa HPH, berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu?
Ooo, mengapa?
O-ho-o-o, jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini, tinggal cerita
Pengantar lelap si buyung
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering-kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja?
O-ho-o-o jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rezeki generasi nanti
Video terlampir, di atas artikel ini -diiringi lagu Ibu Pertiwi, memperlihatkan:
Pembabatan hutan besar2an; gunung2 menjadi gundul, burung2 kabur, gajah2 berhijrah, …
… hilir mudik puluhan truk2 bermuatan penuh gelondongan kayu2 besar …,
… tanah longsor, air sungai kotor, …
… rumah2 tenggelam, …
…mobil2 mengambang, …
… orang2 –berdiri di atap rumah –melambai-lambaikan tangan, meminta pertolongan
sungguh menyayat hati!
Tuhan, selamatkan hamba2-Mu ini
Selamatkan saudara-saudara kami…
di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Selamatkan masyarakat Sumatra
Selamatkan penduduk negeri ini
Sadarkan para pemimpin kami
Insafkan para pembabat hutan itu
Dengan cara apa pun
hijaukan kembali hutan kami
Untuk yang telah Kau panggil ke haribaan-Mu, karena bencana ini
Peluk cium mereka dengan kasih dan sayang-Mu
Masukkan mereka ke surga-Mu
Bagi yang ditinggal pergi, tabahkan dan anugerahkan kesabaran berlimpah kepada mereka
Sehat-sejahterakan semua keluarganya
Kelak, ketika waktunya tiba, pertemukan kembali mereka dengan seluruh anggota keluarganya…
—dalam rida, ampunan, dan kasih-sayang-Mu.
Aamiin.
Note:
Untuk para korban bencana alam -akibat ulah manusia2 serakah itu, anak2 yatim/duafa kami, tiap bakda Isya, setiap hari, melakukan Shalat Ghaib.
Ciomas, 6/12/25; bakda Subuh. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar