“Terima kasih, Ustaz, ” seorang bapak senior, menghampiri dan menyalami saya.
Ia berpindah tempat duduk -yang semula di pojok kanan depan barisan tamu- ke sebelah sy, di depan panggung, segera sesudah penyampaian taushiah dalam Nasihat Perkawinan.
“Karena Bapak berbicara dengan hati, sampai juga ke dalam hati, ” ia melanjutkan.
“Waktu Bapak ceramah tadi, saya menangis,” beliau melengkapi.
Pagi ini, Sabtu, 19 April, saya mendapat tugas, menyampaikan *Nasihat Perkawinan* dalam pernikahan Atika Siti Aminah, SE, MBA dengan Ahmad Saeful Azhari, SPd MPd, di Gedung SBS PREMIER VENUE, Lingkar Leuwiliang, Bogor.
Beliau, yang menyalami saya adalah Pak Sartiono, asal Cimahi, dari ayah Semarang dan ibu Cepu.
Dulu, bersama orangtuannya, Bapak rendah hati ini tinggal di Cimahi; sekarang, ia menetap di Leuwiliang.
Sehari-hari, Pak Sar adalah dosen di UMBARA -Universitas Muhamadiyah Bogor Raya dan di UT- Universitas Terbuka.
Ia merasa terkesan dengan materi ceramah, cara menyampaikan taushiah, dan pemilihan kata-kata dalam berbicara.
Berkali-kali ia memuji pembicara. Ia sampaikan itu pada orang-orang yang mendekati kami.
“Hal pengambilan kata, itu ada ilmunya. Kata para ahli, namanya *diksi*, ” saya menimpali.
“Saya tak menyengaja belajar tata bahasa atau sastra, tidak juga belajar khusus diksi; tapi saya sering bersilaturahmi dengan praktisi: penulis-penulis senior, para wartatawan, serta kepada banyak ustaz dan kiai.” saya menerangkan.
“Malah, dari para kiai, tak hanya diksi dan ilmu agama yang saya dapat.”
“Apalagi?”
“Keberkahan.”
“Wah, betul itu!”
“Berkaitan dengan tadi, Bapak menangis. Saya pernah memimpin pembacaan doa di Menara 165, Jakarta. Ballroom-nya menampug 600 undangan.”
Kata seorang kawan yang hadir di situ:
“Tadi saya lihat, semua yang hadir menangis.”
Namun, sebenarnya, bukan hal menangis atau tidak mengeluarkan air mata.
Yang lebih penting adalah pesan yang ingin kita sampaikan, tidak berhenti di telinga saja; tapi terus masuk, menyusup ke dalam qalbu.
Kepada beberapa kenalan yang pas lewat depan kami, beliau terus bilang, “Saya banyak dapat ilmu, nich! Alhamdulillah, saya beruntung sekali bertemu Pak Jonih.”
“Saya pun sangat senang bisa berkenalan dan bersilaturahmi dengan Pak Dosen.”
“Saya termasuk orang yang sangat menghormati guru. Waktu seorang guru SD kami wafat, sengaja saya ke rumahnya, di Bandung Selatan. Dari pk 10 -an hingga Ashar, saya berada di rumah Almarhumah dan berbicara banyak hal mengenai Bu Guru. Lalu, kami ke makam.”
“Salah seorang dosen kami meninggal, saya mengantarkan ke pemakaman beliau di Sumedang.”
“Dari para gurulah, kita bisa tahu ini dan itu.”
“Di akhirat nanti, Pak; saat manusia diproses verbal, jari-jari tangan kita -karena malu dan merasa banyak dosa, sedangkan amal saleh minimalis- menutupi wajah.”
“Terus?”
“Tapi, kemudian Allah tunjukan pahala sangat besar. Kita tak merasa punya amal segede itu.”
“Ini adalah pahala dari kamu mengajarkan ilmu, dan ilmu itu bermanfaat. Karena ilmu itu, ‘Aku kasih kamu ganjaran ini!”‘
“Allahu Akbar!” terima kasih, Pak.
“Tambah ilmu lagi saya.”
Karena harus mengajar, ditunggu para mahasiswa; Pak Dosen berpamitan.
Tak lama kemudian, ada pesan via WA masuk:
“Jazakallahu khairan, sehat berkah slamet dunia akhirat, Pak Haji yang baik hati. Terima kasih hari ini saya dapat ilmu dari Allah melalui hamba-NYA yang salih.”
Pesan itu datang dari Pak Sartiono.
Leuwiliang, 19 April 2025. Sambil antre untuk dapat jatah makan siang. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar