“Tadi, Bapak yang baca doa?” seorang berpakain rapi, di sela-sela menikmati hidangan makan siang, dalam resepsi pernikahan Mutiara – Faris, 5 Oktober 2025, di Mandiri Assembly, Menara Mandiri Sudirman, Jakarta, bertanya.
“Betul, Pak,” saya menjawab.
“Doanya bagus sekali! Sangat menyentuh. Sayang, saat pembacaan doa, banyak yang mengobrol.”
“Saya Pria, Notaris,” bapak ini menyodorkan kartu nama.
Kami, kemudian, saling berkenalan.
“Saya pengasuh anak-anak yatim dan dhuafa, di Ciomas, Bogor.”
“Saya juga penulis buku. Sudah 6 buku saya diterbitkan Gramedia. Buku kesatu, kedua, dan ketiga National Best Sellers.
“Apa saja judul bukunya?”
“Buku ke-1 Malaikat Cinta –Sisi Lain Ibadah Haji yang Menyentuh Hati; ke-2 Buku tentang Kebaikan; ke-3 Bahagiakan Dirimu dengan Membahagiakan Orang Lain.
Kemudian; buku ke-4 Sayangi yang di Bumi Engkau akan Dikasihi oleh yang di Langit; ke-5 Bahagia dalam Tiada; ke-6 Bertahan di Daerah Rawan, Berhadapan dengan para Penghalang.”
“Wah, dari judul-judulnya saja kelihatan, bukunya pasti menarik!”
“Buku pertama terbit tahun 2011. Membaca buku itu, ribuan orang meneteskan air mata.”
Banyak orang berkirim SMS atau menelepon; pun yang datang dari mana-mana, dari berbagai tempat. Katanya, ingin bertemu penulisnya.”
Dari sebuah perjalanan di area pegunungan, saya baru mendapat sinyal. Sebuah pesan masuk ke dalam hp,” Saya Ibu Dede dari Bandung. Barusan selesai membaca buku Malaikat Cinta. Tak henti air mata ini menetes. Ingin rasanya, saya bertemu Ustaz dan Ibu.”
“Saya Ibu Dewi dari Kendari. Sudah 3x saya menyelesaikan membaca buku Malaikat Cinta. Ke mana pun saya pergi, buku itu selalu dibawa.”
Dari Cirebon, sambil terisak-isak, seorang ibu menelepon. Ia sedang membaca Malaikat Cinta.
Malaikat Cinta terbit juga di Malaysia dalam bahasa Melayu,” saya berpromosi.
“Buku-bukunya bisa dibeli di toko, Pak?”
“Saat ini, sulit didapat. Kalau memerlukannya, saya suka pesan via on-line.”
Beberapa teman lama, pensiunan Pertamina EP lewat, sebagian dari mereka bergabung mengobrol dengan kami. Saya kenalkan Pak Pri kepada teman-teman.
“Mendengarkan doa yang Pak Jonih bacakan, saya merinding,” Bapak yang enak diajak berbicara ini, menambahkan.
Kepada kawan-kawan, Pak Pri berkali-kali berkata, “Saya sangat beruntung bisa bertemu Pak Jonih,”
“Pernah saya mendapat tugas membaca doa, tanpa kata-kata sambutan, khusus berdoa, pada sebuah acara pernikahan di Menara 165, Jakarta Selatan.
Seorang kawan yang hadir di situ, tak lama dari selesainya acara, menyapaikan:
“Saya lihat tadi, semua hadirin menangis.”
Yang penting sih, bukan hal menangis atau tidak menangis, tapi pembacaan doa –selain pembaca melakukannya dengan perasaan penuh, para tamu pun perlu memerhatikannya secara saksama.
Dengan demikian, apa yang disampaikan dalam doa akan meresap ke diri hadirin.
Pembacaan doa dengan konsentrasi, diiringi suara yang keluar dari hati, disertaii tamu undangan yang mengikutinya dengan khusuk, akan menyusup ke dalam qalbu.
Suatu hari, beberapa tahun lalu; seorang ayah dari mempelai wanita, pada sebuah pernikahan di Bumi Samami, Bandung Utara, tak lama dari selesainya saya membaca doa, menghampiri.
“Seumur-umur, baru pertama kali, saya mengikuti pembacan doa dengan hati bergetar. Adik saya juga merasakan hal yan sama.”
Ciomas, 08 Oktober 2025, bakda Subuh. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar