A Supplementary Reader of Having Lunch with Om Teguh and Mas Indra @ TRIO Jumbo
Di pintu keluar RM TRIO Jumbo, kepada Om Teguh dan Mas Indra, saya berkata, ”Saya sampai sini saja. Mau naik Grab/GoCar, lebih praktis.”
Kedua sohib berusaha mengajak saya naik mobil bersama, seperti biasanya; tapi karena beda arah, saya merasa lebih nyaman pakai taksi on-line saja.
Sehari-hari, ke mana pun pergi, jika menggunakan jasa angkutan on-line, kalau sendirian, saya suka naik motor, baik jarak dekat maupun agak jauh –seperti Ciomas-Sentul atau Ciomas Puncak.
Siang itu, lantaran air dari langit turun dengan kencang dan lebat, agar badan tak menjadi basah kuyup, “Mau naik taksi mobil, ah!”
Tapi, pas mau buka hp untuk pesan kendaraan, saya teringat nasihat Ustaz Ujang –teman kuliah di STAI* Al-Hidayah.
*_STAI: Sekolah Tinggi Agama Islam. Selain belajar Geologi; untuk menambah wawasan keagamaan, saya kuliah juga di Fakultas Syariah, hingga diwisuda._
Selain sebagai guru Tsanawiyah (SMP Islam) dan Aliyah (SMA Islam) di Pamijahan, Bogor Barat; Mubalig rendah hati ini, di masjid sebelah rumahnya, rutin mengajar ibu-ibu pengajian dengan menggunakan Kitab Kuning.
Waktu itu, dalam perjalanan pulang dari kampus di Ciapus menuju Ciomas; dengan motor, kami kehujanan.
Kami berteduh di depan area pertokoan. Sebagai penghangat badan, kami mereguk dan mengunyah minuman dan makanan hangat.
Ustad Ujang –kini, dosen Pendidikan Agama Islam di Perguruan/Pesantren Laa Tansa, Rangkasbitung, Banten- berbisik, agar saya membungkus makanan yang barusan kami mencicipinya, untuk yang di rumah.
Dia mengutip ucapan Kanjeng Nabi ﷺ. yang, antara lain, menyatakan bahwa apabila kita makan sesuatu, istri harus dikasih juga.
Di pintu TRIO itu, saya teringat kembali nasihat Ustaz Ujang. Pesan transportasi diundur.
Saya telepon istri -yang bersama Isal, anak ke-2 kami, sedang dalam perjalanan dari Bekasi ke Bogor:
“Posisi sudah di mana? Bapak sedang di RM Padang TRIO, Baranangsiang; mau pesan apa?”
“Ibu: nasi + rendang + sayur,” kata dia.
“Isal: nasi, rendang, tanpa sayur, tapi dagingnya dua, “ suara Isal terdengar.
“Sekalian buat Bila dan Apik!” ibunya menambahkan.
“Siap, laksanakan!”
Saat pesanan sudah tinggal bayar, hujan pun reda. Ya, seperti biasa, dech, naik ojek motor saja!
Di hampir setiap saya makan di perjalanan, pesan Ustaz Ujang itu, senantiasa hadir. Dan, saya aplikasikan tak hanya pada makanan dan minuman, tapi juga ke hal lainnya.
Dahulu, waktu masih dinas, seringkali rapat di hotel-hotel bagus di Bogor kota atau di kawasan Puncak. Pada kesempatan lain, saya ajak istri menikmati menginap di hotel-hotel itu.
Demikian halnya, apabila -sebab satu dan lain hal- saya mengunjungi suatu tempat indah atau ke sebuah keramaian yang menarik, sendirian atau bersama teman kerja.
Pada hari lainnya, ibu dari anak-anak ini -kalau sedang ada kelapangan rezeki- saya bawa ke tempat-tempat itu.
Tak hanya cerita penuh derita atau kisah kehidupan yang susah yang kita bagi bersama istri; rasa suka dan kebahagian pun berhak mereka mendapatkannya.
Usahakan istri merasakan enaknya atau indahnya apa-apa yang kita -para suami, pernah nikmati. Paling tidak, misal, untuk urusan makanan: “Beri istrimu makan, apa yang kamu makan!”
“Wahai Rasulullah, apa hak istri salah seorang kami dari suaminya?” seorang _shahabat_ bertanya.
Nabi ﷺ menjawab, “Engkau memberinya makan ketika kamu makan …,” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Ciomas, 09 April 2025; bakda Subuh. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar