Artikel yang saya sebar pada 7 September lalu: “Pesantren, Rumah Tahfidz, Panti hingga Pertanahan”; mendapatkan banyak respons.
Beberapa di antaranya menyampaikan pertanyaan mengenai boarding school. Sekalian saja, saya terangkan istilah lainnya -yang sebenarnya tidak berhubungan- tapi menggunakan kata tersebut.
Anggaplah itu iklan lewat dalam sinetron-sinetron, kesukaan banyak para ibu -yang memiliki banyak waktu.
Apabila kita akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api; tiket yang sudah dibeli -secara on maupun off-line, setiba di bandara, dermaga, atau stasiun; ia perlu dikonfirmasi. Proses itu kita sebut check in.
Check in bisa dilakukan secara manual di konter-konter penerbangan di bandara, dermaga, maupun stasiun; menggunakan mesin yang tersedia atau via telepon seluler.
Yang paling praktis, agar saat di lapangan terbang waktu lebih efektif, tidak masuk ke antrean panjang, pekerjaan ini bisa dilakukan 1-2 hari sebelumnya, dari rumah via on-line. Di bandara tinggal drop bagasi dan mendapatkan *boarding pass.*
*Boarding pass* didapatkan setelah kita melakukan rekonfirmasi tiket pada konter di bandara sambil menyerahkan bagasi.
Jadi, yang disebut tiket sebenarnya baru merupakan tiket masuk gate -tempat duduk (bisa belanja juga) sebelum naik pesawat. Tiket “beneran” masuk pesawatnya mah _boarding pass_ itu.
Pada _boarding pass_ tertera: no penerbangan/ _flight number_ , tujuan/ _destination_ , waktu boarding/ _boarding time_ , pintu masuk/ _gate_ , nama penumpang, kelas, tanggal dan bulan, serta nomor kursi.
Supaya para penumpang pesawat, dalam menunggu jam keberangkatan merasa lebih nyaman, bandara menyediakan apa yang disebut *boarding lounge.*
Para penumpang kelas bisnis atau eksekutif dan pemegang kartu kredit gold, biasa memanfaatkan fasilitas boarding lounge.
Jika intensitas terbang tinggi, Garuda Indonesia memberikan frequent flyer kepada para pelanggannya. Pemegang kartu ini dipersilakan untuk duduk santai sambil mendengarkan musik atau menonton film sambil mencicipi makanan/minuman di lounge.
Di luar kelompok-kelompok tersebut -yang bisa melenggang masuk itu, penumpang lain pun -dengan membayar sejumlah uang, seperti pada resto di hotel-hotel, bisa menikmati fasilitas ini.
Ruangan seperti kafe itu -yang menyediakan tempat duduk, makanan, dan minuman dibuka satu jam sebelum jadwal keberangkatan – untuk rute domestik; dan dua jam sebelum jadwal keberangkatan – bagi perjalanan internasional.
Ketika kita memasuki pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api, di negeri orang; awak pesawat, petugas kapal, atau pihak kereta api menyambut para penumpang dengan mengucapkan: “ *Welcome Aboard!”*
Pada sebuah perusahaan, suatu direktorat, divisi, dinas, atau tim; masuk seorang anggota baru. Pekerja lama menyambut kedatangannya dan menyampaikan selamat bergabung kepada the new member dengan: “ *Welcome on Board!”*
Jika tim beranggotakan anak-anak milenial -yang energik dan siap bertempur, mereka menyambut kawan baru dengan istilah kaum muda: “ *Welcome to the Club!”*
Kata club –dibanding division, section, group, atau team- terasa lebih mengilustrasikan hal yang dinamis, energik, dan lincah; sebagai mana klub-klub sepakbola -terutama- di Eropa!
Kalimat “Welcome Aboard” berasal dari tradisi di dunia maritim. Ia merupakan cara pelaut menyambut kedatangan kru baru.
“ *Welcome on Board”* semula datang dari industri penerbangan. Itu adalah ucapan salam standar dari awak pesawat kepada para penumpang yang memasuki badan pesawat, sebelum mereka mendapatkan tempat duduk.
Istilah-istilah di atas, tak semata susunan kata-kata biasa. Dalam lingkungan kerja, ia memiliki makna yang dalam. Ada penekanan rasa penerimaan kepada yang disambut dan memberikan rasa memiliki atas tim atau kelompok kerja itu.
“ _Welcome Aboard”, “Welcome On Board_ ”, dan sejenisnya mengandung kata-kata yang kuat, padat, dan berisi yang dapat mempengaruhi jiwa anggota yang baru bergabung, dalam memompa semangat kerja.
Barangkali, karena kandungan makna yang kuat dari kata tersebut, sekolah berasrama menggunakan kata “board” juga: _boarding school._
*Boarding School*
Agar sistem belajar-mengajar berlangsung lebih efisien-efektif dan lulusannya -paling tidak secara formal- bermutu; suatu lembaga pendidikan yang berbeda dengan sekolah umum tapi juga tak sama dengan pesantren; namun ada juga hal yang diadopsi dari keduanya, didirikan.
Mata pelajaran, sebagian besar sama dengan sekolah umum -ditambah beberapa mata pelajaran khusus, biasanya bahasa Inggris -ada juga yang tambah bahasa Arab- dan Agama; di mana para murid -seperti halnya di pesantren- diasramakan.
Dengan singkat kata, boarding school adalah sekolah berasrama. Para siswa tinggal diasrama kompleks sekolah yang nyaman, dilengkapi berbagai fasilitas pendidikan, olah raga, dan keagamaan yang memadai.
Berbeda dengan pesantren yang cara hidup dan fasilitasnya serba sederhana, _boarding school_
cenderung mewah. Mulai dari ruang kelas, laboratorium, sarana olah raga dan kesehatan, hingga kamar tidur yang ber AC, semuanya membuat siswa betah berlama-lama di dalamnya.
Menyesuaikan dengan segala sesuatu yang disediakan pihak sekolah untuk murid-muridnya – agar nyaman dalam belajar, biayanya pun mahal.
Karena itu, siswa boarding school berasal dari keluarga kelas menengah ke atas; sedangkan di pesantren, para santri umumnya -walau beberapa ada juga anak orang kaya- dari kelompok menengah ke bawah.
Dalam kunjungan ke beberapa pesantren dan boarding school di Bogor, Sukabumi, Tangerang, Bandung, Garut, dan Cirebon; kami menemukan beberapa _boarding school_ yang menyebut dirinya pesantren tapi tak ada kurikulum kepesantrenannya. Ia sekolah berasrama saja.
_Boarding school_ pun antara satu dan lainnya, dalam hal biaya dan faslitas, berbeda-beda. Kami pernah datang ke salah satunya -yang waktu itu, mungkin termasuk kelas paling mahal dibanding yang lain.
Di sekolah jenis ini, pada jam tertentu, sekitar pk 09.30 dan pk. 14-an -mirip dengan para pekerja perusahaan besar yang sedang meeting di hotel berbintang, para siswa ada waktu break. Kopi, teh, makanan ringan nan lezat, disediakan.
Secara finansial, sekali lagi, waktu itu- kami merasa mampu untuk menyekolahkan anak ke sekolah tersebut. Tapi, dalam hati berkata, “Saya tidak mau anak-anak kami punya teman sekolah yang berasal dari gologan orang-orang kaya saja!”
Lantaran dari pagi hingga sore hari bersama-sama, dilanjutkan dengan bermalam di lingkungan sekolah; interaksi antarsiswa dan pelajar dengan guru, lebih intens. Jika ada siswa yang memerlukan tambahan penjelasan atas pelajaran di kelas, akan mudah disampaikan.
Ini penting untuk kemajuan belajar siswa; pun masukan-masukan dari pihak pelajar kepada pengajar lebih lancar terkomunikasikan.
Sebab para murid hidup bareng terus setiap hari, baik di kelas ataupun pada sarana sekolah lainnya, ikatan kebersamaan siswa akan semakin kuat.
Seperti pesantren, di boarding school umumnya siswa berasal dari berbagai daerah yang dekat dan jauh. Hal ini akan makin menambah wawasan kehidupan sosial, mengenal keaneragaman seni dan budaya bagi para siswa yang berasal dari tempat yang berbeda.
Hal yang agak jarang ditemukan di sekolah-sekolah umum, dan biasanya terdapat di pesantren, dilaksanakan di sini, seperti: shalat berjamaah, membiasakan shalat-shalat sunah, dan belajar membaca Al-Quran, atau tadarus rutin.
Perlu juga saya infokan, tidak sedikit pula -setelah tinggal 1-2 tahun di asrama, anak-anak merasa jenuh. Ada yang kemudian pindah ke sekolah umum.
Menurut saya, jenis lembaga pendidikan mana pun yang akan dipilih, hendaklah memerhatikan minat anak dan rencana setelah lulus; mau kuliah ke mana?
Apakah mau ke universitas di Indonesia, Timur Tengah, Eropa/Amerika, atau Jepang? Ada trik atau jurus yang perlu ditempuh!
Ciomas, 11 September 2024, bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar