Ceu Ria yang Ceria

Kisah Kebaikan Pasangan Pengrajin Batik di Garut

Pada 4 Oktober awal bulan ini, di Klub Bogor Raya, pada pernikahan Sari dengan Rizky, saya mendapat 2 tugas: menyampaikan Nasihat Pernikahan –pada pagi hari; dan memberikan Sambutan atas nama Keluarga Besar Kedua Mempelai –siang hari.

Dua-tiga hari kemudian, pengantin wanita bersama ayah-ibunya, bersilaturahmi ke kediaman kami, di Ciomas.

Selain dalam bentuk currency, ada banyak bingkisan menarik dihadiahkan kepada kami, satu di antaranya kemeja batik lengan panjang.

Jenis kainnya saya suka, ukurannya pas dan nyaman di badan, serta coraknya cocok dengan selera. Alhamdulillah.

“Ada modal, nich, buat ngisi acara-acara!” pikir hati.

“Sabtu, 11 Oktober, insya Allah, saya akan mengisi acara pernikahan di Tasikmalaya. Batik ini, akan saya pakai,” seraya mengirimkan foto kemeja bagus itu, saya menulis pesan kepada kawan yang menghadiahkan itu kemeja.

Apabila diundang untuk menyampaikan kultum, taushiah, khotbah, sambutan, atau nasihat pernikahan di luar Bogor, saya melaksanakan pesan istri: “Jangan ambil risiko, Bapak harus menginap!”

Dari Bogor ke Depok, Jakarta, Bandung, Tangerang, Bekasi; jika ditempuh dengan kendaraan beroda 4, ketika lalu lintas aman-aman saja, lancar; memang tak masalah.

Waktu tempuh, dengan tak sulit, bisa diprediksi. Jadwal atau rundown acara di gedung, sudah tertera di undangan; dan, pukul berapa harus berangkat dari rumah, bisa diperkirakan.

Tapi, sekali lagi, itu semua berjalan apabila lalu lintas lancar, jalanan tidak macet, dan tak ada halangan lainnya yang bisa menghambat perjalanan.

Namun, tidak ada orang yang tahu, apa yang akan terjadi esok pagi, nanti sore, atau entar malam.

Pun, beberapa kali, pernah saya mengalami hambatan di perjalanan, saat menuju tempat acara.

Pertama, waktu mau mengisi acara pernikahan di Gedung Bulog, Jln. Jen. Gatot Subroto, Jakarta. Saat kaki melangkah ke ruang utama gedung, nama saya sudah dipanggil-panggil. Telat sedikit lagi, lewat.

Kedua, di Manggala Wanabakti; juga di Jln. Gatot Subroto. Waktu itu, yang mengantar pakai mobil, tidak tahu, di mana pintu masuk.

Mutar-mutar, tak ketemu-ketemu. Akhirnya, dalam hujan rintik-rintik itu, saya keluar dari kendaraan, jalan kaki sambil agak berlari menuju ruangan tempat resepsi.

Ketiga, ketika mau mengisi acara di Puri Ardhiya Garini, Halim Perdanakusuma. Saat itu, taksi yang saya tumpangi melewati belokan yang seharusnya. Kelebihan.

Saya turun dari mobil, sambung dengan ojek motor.

Keempat, saat mau mengisi acara di sebuah restoran, di Bandung Selatan, jalanan macet total. Untung dapat ojek motor, salip kiri, salip kanan, amanlah.

Kondisi telat atau mepet, waktu mau menyampaikan kata-kata, membuat hati tak nyaman. Tidak bisa khusyuk.

Atas dasar itu, jika diundang mengisi acara di luar kota, ibu anak-anak di rumah, menyarankan (lebih tepatnya, mendesak atau memerintahkan), agar saya berangkat sehari sebelumnya, dan menginap di kota tersebut.

Kalau undangan itu datang dari kota yang banyak destinasi wisatanya, atau ada tempat-tempat, di luar undangan, yang perlu dikunjungi; kami berangkat, sehari sebelumnya dan pagi sekali, sebelum azan Subuh.

“Mengapa perlu berangkat sangat pagi? Kan, waktunya, masih panjang; masih esoknya lagi?”

“Agar tiba di kota tujuan masih awal hari, sehingga leluasa untuk pergi ke sana kemari. Yang penting, sore atau malam, sudah berada di penginapan. Pagi, tinggal pergi ke lokasi.”

Demikian pula, saya lakukan, waktu mau mengisi acara di kota Tasikmalaya.

Bersama istri, saya berangkat sehari sebelum acara, 1 jam sebelum azan Subuh dikumandangkan, kami sudah meninggalkan Ciomas.

Ketika kendaraan sudah berada di jalan tol, mendekati UKI, baru ingat, kemeja batik masih di gantungan baju, di rumah.

Baju itu tertinggal. “Mau balik lagi?” ia menawarkan.

“Terus saja!” saya pikir, nanti di Tasik atau Garut, nyari saja di toko batik, kemeja yang coraknya sama atau mirip dengan yang tertinggal itu.

Di Garut kota, kami menyusuri jalan sepanjang Tarogong dan Ciledug, keluar masuk toko-toko batik. Lalu, berkeliling kota, berharap barang itu ada. Tidak berhasil.

Dilakukan searching pakai hp, muncullah sebuah tempat yang menjual batik, dilengkapi nomor yang bisa dihubungi.

Saya telepon, “Dengan toko batik Ceria?”

“Iya, Ceu Ria, Pak.”

“Bisa minta tolong dikirim alamat plus shareloc?”

Saya terima alamat dan peta lokasinya. Kami menuju ke situ. Setelah masuk jalan kecil, dekat mulut sebuah gang, kendaraan diparkir.

Dijemput pemilik usaha batik itu, berjalan kaki memasuki sebuah gang, 100 meteran. Tak jauh.

Rupanya, bukan toko tapi rumah. Sepasang suami-istri, Pak Rijal dan Ceu Ria, membuat dan menjual batik di rumahnya. Rumahnya jadi pabrik, sekaligus “toko”.

Banyak corak kemeja batik ditawarkan, tapi tak ada yang saya minati. Mencari warna mirip-mirip atau mendekati yang tertinggal, tidak ada.

“Kalau begitu, silakan Bapak/Ibu pilih dari bahan-bahan ini, barangkali ada yang cocok. Bisa saya jahit malam ini; besok pagi, diantarkan ke tempat Bpk/Ibu menginap. Bagaimana?” dengan senyum, Ceu Ria menawarkan.

“Jadi, Ibu tidak tidur, dong!”

“Tidak apa-apa. Kami ingin bantu Bapak.”

Tak tega, rasanya. Masa, karena saya perlu sebuah kemeja batik sampai-sampai membuat orang tidak tidur semalaman!

“Tidak masalah, Pak. Kami ikhlas,” Ceu Ria dengan ceria, meyakinkan.

“Saya punya ide!” tiba-tiba, Pak Rijal berseru.

“Kami ini, biasa mengirim dan menerima kiriman barang, ke atau dari luar kota, dengan cepat.”

“Caranya? Berapa lama?”

“Bapak minta orang rumah, di Bogor; untuk mengirim kemeja itu ke bus MGI yang jurusan Bogor-Garut. Tiga-empat jam, nyampai, Pak. Nanti, saya jemput di Terminal Guntur!”

“Kami mah, niat ibadah saja, membantu Bapak.”

“Tolong, kepada yang mengantarkannya ke MGI, minta no. hp sopir dan kondekturnya, untuk memudahkan saya, saat menjemput paket itu, di terminal.”

“Nama dan no hp saya, tolong dikasihkan kepada sopir bus. Biasanya, kalau bus sudah dekat terminal, sopir akan menelepon penerima kiriman.”

“Setelah diambil, batik bisa saya antar ke tempat Bapak/Ibu menginap. Kasih saja alamatnya ke hp saya.”

Saya telepon Gugun –yang sehari-hari bekerja di yayasan yatim Ar-Rahmah; dan Apik –anak bungsu kami; untuk membungkus dan mengantarkan paket kemeja itu ke Terminal Barangsiang, dititipkan ke bus MGI.

Setelah Apik mengirim foto paket, nomor polisi bus, serta nama dan no. telepon sopir; ada rasa aman di dada.

Kami berangkat dulu ke lokasi tempat akan dilaksanakannya akad nikah, besok pagi, di Kampung Naga, menemui pihak keluarga dari CMP.

Sesudah memastikan titik lokasi acara, saya balik lagi ke arah kota, mencari penginapan, dan menemui Pak Rijal/Ceu Ria, untuk menjemput batik.

“Kami sedang di Pendopo Kabupaten Garut. Bapak silakan ke sini,” Pak Rijal menginfokan.

“Bapak dan Ibu tunggu di sini; saya akan ke terminal, menjemput kiriman,” Pak Rijal berkata.

Malam itu, atas kebaikan pasangan pengrajin batik, Pak Rijal dan Ceu Ria, kemeja yang sejak semula diniatkan akan dikenakan pada acara besok paginya, tapi tertinggal, sudah berada di tangan.

Alhamdulilah, kami dipertemukan dengan orang-orang sangat baik ini!

Orang barusan ketemu, belum lama kenal; mau-maunya Ceu Ria untuk tidak tidur semalaman, demi menjahitkan pakaian, buat saya pakai besok paginya.

Pak Rijal, belum 1 jam berjumpa, mau-maunya mengambilkan paket malam-malam, ke terminal bus, dan mau mengantarkannya ke tempat saya menginap.

Semoga Allah balas amal saleh mereka dengan kehidupan yang berkah, usaha batiknya semakin sukses, dan terus berkembang dan berkembang. Aamiin.

Ada pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini.

Pertama, saat hendak pergi, hendaknya, kita periksa kembali barang-barang yang mau dibawa serta, yang tadi malam sudah disiapkan.

Kedua, jika diperlukan, dibuat daftar barang atau check list; tandai barang yang sudah tersedia dan yang harus dibeli dulu.

*Dulu, waktu kuda belum berbulu, saat masih kerja, ketika sering dinas, pada dinding dekat komputer, selembar kertas putih bertuliskan barang apa saja yang harus disiapkan dan dibawa dinas, DN atau LN, saya tempel.

Ketiga, letakkan barang-barang yang akan dibawa pada lokasi dekat pintu keluar rumah.

Keempat, ada baiknya, sebelum kendaraan mulai berjalan, diperiksa kembali barang=barang itu; apakah semuanya sudah OK.

Jika telanjur pergi, dan barang ada yang tertinggal; cara paling praktis, adalah dengan mengirimkannya via bus jurusan kota yang kita tuju.

Belajar kepada sikap Pak Rijal dan Ceu Ria, “Tolonglah orang-orang yang memerlukan bantuan!”

Dengan membantu orang lain, membuat hati senang; dan, akan menambah kebahagiaan diri kita sendiri juga.

Pepatah mengatakan, “Bahagiakan Dirimu dengan Membahagiakan Orang Lain!”

Bagi orang yang suka menolong, seperti Pak Rijal dan Ceu Ria; jika suatu saat ia memerlukan bantuan, akan banyak yang akan mengulurkan tangan, meringankan beban.

Tentang Ceu Ria Batik

Gadis kecil Ria, sejak masih usia SD sudah mulai membatik. Ketika kelas 1 SMP, ia mendapat penghargaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut, sebagai pembatik termuda.

Ceu Ria Batik juga memiliki koleksi batik berumur puluhan tahun; bahkan, ada yang berusia hampir 100 tahun!

Koleksi batik yang berumur 70 tahun, sangat diminati dan dibeli oleh orang bea cukai dari Bandung, senilai sekian puluh juta rupiah.

Batik tertua, yang berusia hampir seabad -kami pernah diperlihatkan dan menyentuhnya- sudah ada yang ingin mengoleksi dan bersedia mengganti nilainya dengan sekian puluh juta juga.

Rumah batik ini pun mengoleksi Batik Motif Tiga Negeri Tjoa Siang Swie, pembatik keturunan Cina, dari Solo, yang terakhir berproduksi tahun 2014; setelah itu tutup.

Tempat produksi dan etalase rumah batik ini berlokasi di Kampung Batik: Kp. Paledang, Kel. Kota Kulon, Kec. Garut Kota, Kab. Garut.

Jika Anda bepergian ke Garut, dan memerlukan pakaian bermutu untuk ke undangan, di kota ini, ada pengrajin batik yang berpengalaman puluhan tahun. Bapak/Ibu bisa melirik ke Kampung Batik.

Perbandingan dengan banyak toko yang sempat dikunjungi, harga batik di sini lebih terjangkau.

Tuan rumahnya pun, sangat ramah, enak diajak bicara, dan cepat akrab.

“Iklan?”

“Iya. Iklan ada 2 macam: yang menyesatkan dan yang mencerahkan. Ini –insya Allah- yang kedua. Pun, mengiklankan kebaikan, kan, kebaikan juga!”

Ciomas, 23/10/25; bakda Ashar & difinalisasi di Stasiun Senen, barusan. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar