Cirebon- Kuningan, Bertemu Kawan-Kawan Lama dan Alumnus Ar-Rahmar

Jumat, bakda Magrib, 7 Februari kemarin, bersama istri dan seorang kawan, saya meninggalkan Ciomas menuju Cirebon.  Menjelang tengah malam, kami tiba di Kota Udang.

Sabtu pagi, setelah salat Subuh di sebuah masjid kampung; saya berjalan menuju menara terang sebuah rumah ibadah.

Banyak orang yang barusan melaksanakn salat dan yang akan mendengarkan ceramah di bangunan megah dan anggun itu. Ada tulisan di bagian depan bangunan: Masjid At-Taqwa.

Masjid ini terletak di tengah-tengah kota, persimpangan Jalan Siliwangi dan Jalan Kartini. Dahulu kala, saya sering salat Jumat di sini.

Di seberang masjid, masih di Jln. Kartini, ada bangunan kokoh zaman Belanda dengan kamar luas-luas, atapnya tinggi. Syamsu Alam, Indra Prasetya, Doddy Priambodo, Gandot Werdiantoro, dan Dickson Tomuan Mangunsong, saat baru masuk Pertamina UEP III, mengontrak rumah itu.

Kelak, mereka memegang jabatan-jabatan penting di Jakarta.

Jarak dari area ini ke pusat keramaian,  Pasar Pagi, benar-benar _walking distance_ saja. Lima menitan , sudah tiba di tempat orang Cirebon belanja aneka macam kebutuhan rumah atau sekadar makan-makan.

Tadinya, maksud hati ingin agak lama di dalam masjid. Tak jadi. Mungkin karena malam-malam makan nasi dalam porsi lumayan; pagi itu, di At-Taqwa, perut keroncongan. Karbohidrat yang bikin kenyang itu, di sisi lain, memicu lekas lapar.

Dari trotoar samping masjid, terlihat ada sinar di sebuah warung. Saya menduga itu adalah warteg. Setelah didekati, terlihat tulisan: Bangor Burger.

Rupanya, bukan warung nasi tapi kios burger. Lidah kampung saya masih agak sulit menyesuaikan diri  dengan makanan bule itu. Saya menjauh.

Menuju Pasar Pagi, di pinggir jalan, pada mulut sebuah gang; seorang ibu menghadap ‘hawu’, meniup-niup api, membakar adonan serabi.

“Mau yang rasa keju, polos, tempe, atau oncom,” si ibu menawarkan.

Sambil mencicipi kue masih hangat itu plus 1 goreng pisang, saya menjawab,”Oncom saja, 6; tapi dibungkusnya dipisah, 3-3.”

Cirebon udaranya panas; ia berada di ketinggian 3 m dpl. Tapi, pagi itu sisa udara malam masih terasa. Sebuah serabi ditambah 1 goreng pisang, disusul teh panas tawar, enak sekali, Juragan!


Sehabis mandi, kami hendak bersilaturahmi ke Bu Cholis. Saya pernah tingal beberapa tahun di rumah beliau, di Jln. Suratno. Tapi, ibu sedang di Cibubur, di rumah Ajeng, putrinya. Tidak bertemu.

Saya juga berkirim WA ke _sohib_ orang Cirebon, untuk bersilaturahmi ke rumahnya atau kediaman orangtua mereka.

Om Dudy dikontak, tapi karena orang tinggi besar ini sedang sibuk dengan eternity rumahnya yang jebol, tak sempat buka hp. Bakda Ashar, ia baru tahu kalau ada pesan ke ponselnya.

Seorang doktor geofisika, dosen Usakti dihubungi. Barangkali ia sedang pulkam ke Kanoman atau paling tidak, bisa bersilaturahmi kepada ibunya, saya kontak. Tapi, ibu beliau sudah tidak ada.

Kami mampir di Bubur Ayam Legendaris di M. Toha , di Jln. Mohammad Toha, dekat ke Jln. Siliwangi, seberang pinggir Hotel Slamet.

Dahulu, tahun 1989, ketika mulai bekerja untuk Pertima UEP III, bubur itu sudah ada. Katanya sih, ia berdiri sejak tahun 1967.

Warung Bubur ini buka 24 jam. Dan, dari pagi hingga larut malam, sampai pagi lagi, tak pernah sepi pembeli.

Kendatipun menyediakan juga bubur kacang ijo –dengan atau tanpa ketan hitam, mie instan, pun variasi telur rebus (matang, 1/2 matang, atau ¾ matang); tapi yang paling top adalah bubur ayamnya. Gurih, nikmat!

Setelah puas dengan  bubur ayam, kami berangkat ke Jalan Evakuasi, seberang Gua Sunyaragi, menjenguk keponakan dari seorang sahabat -yang sejak lama sakit, tapi tak bisa bertemu sebab adiknya yang biasa mendampinginya sedang tidak ada.

Lalu, ke Kompkeks Perumahan Evakuasi Indah. Dan, ini adalah tujuan utama kami ke Cirebon. Beberapa hari sebelumnya, Ijef –putra dari Bu Muchyar, kirim pesan via WA, mengabarkan bahwa Umu –istri Ijef, masuk ICU dan tak sadarkan diri.

Dulu, sebelum di Jalan Suratno, saya kos di Jalan Evakuasi, di rumah Pak/Bu Muchyar –orangtua Ijef.

Kami menyampaikan kabar ini ke Bila, putri kami yang belajar ilmu kesehatan.

“Bapak dan Ibu harus segera ke sana, temui istri Bang Ijef,” memahami kondisi kesehatan Umu, Bila menyarankan agar kami segera menjenguk ke Cirebon.

“Besok habis Subuh saja berangkat,” ia menambahkan.

“Sekalian ke Cirebon, akan perlu banyak mampir-mampir, silaturahmi ke banyak orang. Kalau cukup waktu, malah, kita ke Kuningan, bertemu Wina,” saya sampaikan ke istri.

Wina adalah alumnus Yayasan Ar-Rahmah yang setelah berkeluarga, menetap dan mengajar di sebuah kompleks pesantren di Kuningan.

“Kalau mau banyak mampir, perginya jangan besok pagi, tapi sore ini,” Sri menyarankan.

Maksud kami untuk menjenguk yang sakit, tapi…saat tiba di halaman rumah, kok, ada tenda dan kursi-kursi yang sudah ditumpuk. Saya berbisik kepada istri, “Jangan…jangan.”

Benar saja. Rupanya, Jumat menjelang Magrib, ketika Bu Muchyar menelepon, dan menanyakan apakah sudah dapat kabar dari Ijef, dan apakah mau ke Cirebon -yang semula saya kira kabar Umu masuk ICU, padahal mengabari hal wafat.

_AllahumaghfirlaHaa warhamHaa wa’aafiHaa wa’fuanHaa_. Aamiin. Beberapa jam di rumah duka, lalu kami ke makam.

O ya, waktu bakda Subuh menyantap serabi, saya ambil beberapa foto, dikasih _caption_, dan disebar via fb.

Rizal, kawan lama -sekian puluh tahun lalu di Pertamina UEP III Cirebon, aktif ber-fb, melihat gambar saya sedang di Cirebon. Ia berkirim WA:

“Boleh saya ke hotel, ingin silaturahmi?”

Padahal, saat itu, saya di Jln. Evakuasi –yang tidak begitu jauh dari rumah dia, 10 menit perjalanan saja.

“Saya  yang ke sana, sekarang.”

Kedatangan kawan lama di rumahnya, dia tampak girang. Ia telepon banyak orang –yang dahulu sama-sama berkantor di Klayan.

“Ini aku kedatangan tamu, seorang ustaz. Ustaz, benar-benar ustaz!” ia ngarang-ngarang.

Di sela-sela obrolan, Rizal bilang, “Mbak Ninik belum lama ditinggal suaminya. Mas Yitno wafat, Desember kemarin.”

“Ayo kita ke sana!” spontan saya berkata.

Beberapa kawan, lewat video call, berbicara. Ceu Ade Kartini –tenaga administrasi di Fungsi Eksplorasi, saat masih aktif, tak bisa diajak ke ruah Mbak Ninik. “Anak-anak mau datang,” katanya.

“Sebentar lagi azan Zuhur. Habis salat, ya.”

“Zuhur di perjalanan saja.”

Kami salat di Nurul Amal, masjid paling besar di Kompleks Perumnas Cirebon.

Sebelum mengambil wudhu, tak dilewatkan, menikmati makanan khas Cirebon paling saya suka, di halaman masjid: tahu gejrot.

Di Kompleks Bima, pada sebuah rumah besar, Mbak Ninik bercerita tentang Mas Yitnonamnya –yang tidak diduga, begitu cepat meninggalnya. Mantan sekretaris Eksplorasi ini sangat kehilangan. 

Saat saya mendengarkan kisah-kisah dari tuan rumah, Rizal video call-an dengan Pak Basuki –juru gambar di bagian geofisika, waktu itu.

Orang berperawakan pendek, berambut lurus, dan kerjanya seregep, lincah juga berbicara. Ia menikmati masa pensiun di Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Kapan-kapan, ingin saya bersilaturahmi kepada Pak Bas, di Yogya; dan Mas Narto –juru gambar geologi- di Purbalingga.

Kalau ke kampung Mas Heru-juru gambar geofisika- di Purworejo, kami pernah datang beberapa kali.

Saya berpamitan kepada Mbak Ninik, dan bilang ke Rizal, “Saya ingin ketemu David. Antar ke rumahnya, ya.”

Sesudah menghubungi banyak orang, menanyakan no hp David, Rizal yang sangat aktif menelepon kawan-kawan lamanya, terdengar,”Kamu posisi di mana?”

“Aku habis dari Jakarta, sekarang di Plered.”

“Ada orang dari Jakarta (padahal saya mah dari Bogor), mau ketemu kamu. Ditunggu di Mekar Sari, ya!”

Di Rumah Makan Ayam Goreng –langganan Om Teguh Wibowo, itu kami bertemu. David tampak kaget. Ia meraup tangan saya, saya rangkul dia.

David adalah tenaga OB, rajin dan rapi kerjanya. Karenanya, banyak orang suka. Selain pekerjaan kantor, ia biasa diminta untuk bantu-bantu pekerjaan di rumah atau mengurus kendaraan.

Waktu itu, ada penyanyi barat terkenal, namanya David Cassidy. Nama asli David adalah Rasidi. Pemuda langsing ini berambut panjang, lurus, dibelah dua, model David Cassidy.

Tanpa bubur merah-bubur putih, Pak Bambang Kartika, senior kami; mengganti nama Rasidi dengan David. Hingga kini, semua orang memanggil dia dengan David!

Rizal, yang rame ini, adalah operator komputer. Tiap pagi dan sore, dengan komputernya, ia menulis laporan pagi dan laporan sore (_morning & afternoon reports_), sesuai info dari lapangan: pengeboran sumur eksplorasi atau survei seismik.

Lantaran setiap hari, dari pagi hingga sore, dia membaca dan menuliskan istilah-istilah geologi dan geofisika,Rizal sangat familier dengan peristilahan kedua bidang ilmu tersebut.

Oleh sebab itu, jika bos dia yang orang geologi atau geofisika salah tulis dalam laporannya, tak sungkan-sungkan Rizal mengoreksinya!

Tak jarang, orang lulusan SMEA ini, mengoreksi laporan teknis yang dibuat para insinyur geologi dan geofisika. “Salah, nich!” katanya.

Waktu di rumah Mbak Ninik, kami video call-an dengan Nursalim, seorang ‘alim, juru gambar di departemen geofisika.

“Kalau ke Cirebon mampir, Pak!” ia bilang.

“Siap!” saya menjawab. Dia tak tahu, kalau saya sedang di kota tempat dia tinggal.

Kami silaturahmi sebentar di rumahnya, yang pas depan masjid.

“Saya tak lama. Masih ada 2 tujuan: ketemu teman lama, dekat rumah di Bandung, yang sekarang tinggal di Cirebon, daerah Kalijaga. Lalu, mau ke Kuningan, menemui seorang anak alumnus Ar-Rahmah, yang sekarng hidup di Kuningan.”

Di Jln. Pramuka, Kalijaga; kami bersilaturahmi dengan Keluarga Kang Jhon Alisyahbana –teman waktu kecil dan tetangga di Bandung.

Mbak Yani -isti Kang Jhon menyalakan kompor, menggoreng sesuatu. Dua buras berisi oncom dan dua potong goreng pisang masih panas sangat manis, ditemani –lagi-lagi- teh yang pas panasnya, pelan-pelan lewat di tenggorokan. Sedaaap!

Menjelang Magrib, kami tiba di Pesantren Al-Falah, di Dusun Pahing, Cigarukgak, Awigebang, Kabupaten Kuningan.

Wina bersama keluarga menyambut kami. Seminggu yang akan datang, Wina dan Munir –suaminya, akan mengkhitan anaknya.

Mumpung sedang di Cirebon, juga minggu depan akan ada acara keluarga di Bandung; petang itu saja kami menemuinya.

Di antara alumni Yayasan Ar-Rahmah, banyak yang menjadi guru; Wina salah satunya. Guru adalah profesi yang paling saya hormati.

Semoga Wina/Munir,  Allah curahkan kesabaran berlimpah dalam mengajar dan dalam berumah tangga. Aamiin.

Sabtu malam, pukul 10 kurang 30, kami masuk pintu tol Ciperna; dan pk. 00.35, tiba kembali di Ciomas.

Saya berkata kepada ibu dari anak-anak kami, “Melelahkan tapi menyenangkan.” Ia mengangguk.

Apanya yang membuat senang?

“Di Cirebon, bertemu banyak orang:

keluarga tempat kos, dulu; kawan-kawan lama di Pertamina UEP III, teman waktu kecil –yang menetap di Cirebon, dan alumnus Ar-Rahmah di Kuningan. Orang Sunda bilang: “Mundel!”

Padat, berisi. Sekali dayung, beberapa pulau terlampaui. Alhamdulillah.

Perlu juga saya infokan bahwa di antara kawan-kawan lama yang saya kunjungi itu, ada yang sebagai pekerja Pertamina; ada juga yang bekerja untuk kontraktor dan ditempatkan di Pertamina. Semuanya akrab.

Dan, ada yang menambah senang serta bangga; meskipun kawan-kawan itu, umumnya, berpendidikan formal tingkat SLTA, tapi semua anak mereka sarjana dan punya pekerjaan bagus-bagus!

O ya, kawan-kawan ini, berkirim salam untuk Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak di Jakarta (dan kota lainnya), atasan mereka dahulu.

Ceritanya berlembar-lembar, maaf. Orang Turki bilang: “Uzun Hikaye.” Kisah panjang.


Ciomas, 12 Februari 2025, waktu Dhuha. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar