Cungkring

Ketika berlindung dari hujan, berteduh di kaki lima depan toko, di perempatan Jln. Surya Kencana – Jln. Roda/Gg. Aut, 3 hari lalu (baca artikel: “Comro”), bersama-sama berteduh dengan saya, 2 orang ibu, dan seorang bpk , masing2 berusia sekitar 50-60 an tahun.

Ketiga orang tsb. adalah annggota rombongan wisatawan dari Jakarta yang sengaja datang ke Bogor, untuk kulineran di sekitar Gg. Aut.

Teman-teman serombongannya, ngiyup juga di trotoar sebelah kanan.

Di kiri kami, ada juga yang sama-sama berteduh.

Ia adalah seorang laki-laki relatif lebih muda, kira2 umur 30-35 tahun.

Dari hujan, ia dilindungi atap/genteng toko; dari arah jalan, dihalangi gerobak kecil, punya dia –ada barang dagangannya.

Bagian sisi dan depan gerobak itu, bertuliskan: Cungkring.

Hampir menempel dengan pedagang cungkring itu, seorang lebih muda lagi, merapat ke dinding toko. Ia berjaulan tissue.

Turis dari Jakarta itu bertanya, “Apa, tuch, cungkring?”
Pedagang tissue yang menjawab: ”Itu kulit sapi.”

Pada kotak yg salah satunya pakai kaca –dari gerobak pedagang itu, terlihat kulit-kulit sapi yang sudah dipotong membentuk segi-4, berukuran kir-kira 4-6 cm.

Sebagai tukang “UI” –udar ider, jalan2 terus, ke sana kemari, serta senang jajan; saya membantu menerangkan:

“Cungkring adalah sate kulit sapi.” Ini sate yang tidak dibakar, melainkan dimasaknya dengan digodok; lalu, dipotong-potong seukuran 3×4 cm; dibikin sate, dikasih bumbu, berwarna kuning.

Orang Bandung, menyebut sate kulit ini dengan sate jebred.

Cungkring termasuk makanan khas Bogor. Ia dijual di banyak tempat, hampir di tiap pinggir jalan, di tempat-tempat keramaian.

Ada yang khusus berjualan satenya saja; ada juga yang sekalian membawa kuahnya, dan dijadikan Soto Bogor.

Soto Bogor adalah soto santan berlaukan daging sapi- baik daging dari tubuh binatang itu atau daging dari bagian kepala (ini yg lebih sering tersedia dibanding daging dari bagian tubuhnya), kulit, dan dalamannya.

Pembeli, boleh memilih; daging saja, hanya pilih kulit, atau komplit.

Nah, penjual cungkring sebelah saya tadi, ia menjual juga Soto Bogor, tapi “solid materials”-nya yang kulit saja; sekalian dia jualan komoditas yg sama -dalan bentuk sate: cungkring itu tadi.

Selain disajikan di gerobak-gerobak, cungkring dijual juga di warung2 atau rumah makan.

Bagi yang di Bogornya, tinggal di daerah pinggiran, seperti saya; hampir tiap pagi, kami lihat orang jualan cungkring, keluar-masuk gang2 kecil, sambil berteriak-teriak: cungkring…cungkring…cungkring.

Sate kulit dimasukkan ke dalam kotak bahan plastik transparan, ukuran 30 x 50 cm; dibawa dengan dipikul di pundak kiri atau kanan.

Harga cungkring, berkisat Rp1000-Rp1500/tusuk.

Agar beban bawaannya berkurang secara signifikan; dan, ia dapat uang -untuk biaya hidup keluarganya; kami sering memborong dagangan itu.

Satu anak yatim/duafa, dapat 5 tusuk. Kalau pas anak-anak kami jajan, ada anak tetangga, atau anak siapa saja lewat, sekaligus, kami traktir juga.

Sekali berhenti di tempat kami, pedagang keliling itu, bisa mendapat 2-3 ratus ribu rupiah atau lebih.

Mendapat uang yang banyak, dalam waktu sesingkat-singkatnya, para pedagang itu senang; anak2 senang; saya pun senang.

Yang namanya kulit binatang, hewan apa pun, itu tempat berkumpulnya lemak. Jadi, rasanya, kata seorang tamu dari Bantul, Yogyakarta, Mbak Dewi, “Uenak tenaaan!

Kata orang Cikajang, Garut mah, “Leres, raos pisan! “Sae oge” kangge ningkatkeun kolesterol”

Sebagian pedagang cungkring -agar pembeli yg belum sarapan bisa menjadi kenyang- menyiapkan juga teman makan kulit tusuk itu: lontong.

Jika saya membelinya di depan rumah; dan di dapur, nasi panas tersedia; cungking membuat selera makan menjadi –seketika- meningkat hebat!

Paling tidak, 10 tusuk saya sikat!

Apabila kawan-kawan dari kota lain, suatu hari jalan-jalan ke Kota Hujan; cungkring termasuk makanan khas Bogor, yang tidak boleh dilewatkan!

Ciomas, 07/12/ 25’; bakda Zuhur. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar