Dan Langit Pun Bershalawat

Pagi itu, Sabtu 25 Mei 2013, bersama anak-anak yatim dan duafa saya salat Subuh di masjid. Baru sebulan yang lalu bangunan indah itu diresmikan oleh sebuah keluarga murah hati dari Jakarta.

Tempat ibadah yang cantik itu dihadiahkan kepada kami, Yayasan Ar-Rahmah. Seusai memanjatkan doa-doa untuk orangtua, para guru, orang-orang yang telah berjasa, yang sedang menderita sakit, mereka yang belum berkeluarga, juga yang belum dikaruniai putra dan putri, serta yang pihak-pihak yang yang sedang dalam pertikaian; kami menuju teras masjid.

Anak-anak putra keluar dari pintu samping kanan masjid, sedangkan yang putri lewat pintu belakang. Anak-anak putra duduk di teras kanan; dan anak-anak putri di teras belakang. Saya bersila menghadap arah resultan dari kedua tempat duduk anak-anak.

Selesai membaca Al-Fatihah, awal dan akhir surah Al-Baqarah serta sisipan Ayat Kursi,  surah-surah pendek dari juz ketiga puluh, lalu selawat, dan selanjutnya disambung dengan pembacaan doa pagi.

Di tengah-tengah pembacaan zikir itu, sekitar pukul 05.25, saya menoleh ke samping kanan atas. Pagi itu udara cerah, langit terlihat bersih.

Di tengah-tengah hamparan luas langit biru, di arah antara baratlaut dan utara, saya melihat sebuah bentuk awan yang indah.

Saya terkesima dengan awan yang membentuk lafaz yang semua orang Islam pasti kenal dengannya. Mega memanjang itu membentuk tulisan dalam huruf Arab yang sangat jelas: MUHAMMAD!

Saya tatap terus, sementara -tanpa menoleh kekiri, di mana anak-anak berada- tangan kiri saya memberi isyarat agar mereka mendekat dan melihat ke langit di mana pemandangan menakjubkan itu berada.

Semua anak-anak menyaksikan apa yang saya lihat. Subhanallah, Allahu Akbar. Mega dan langit itu ikut berzikir bersama kami. Mereka berselawat kepada Kangjeng Nabi.


Kamis, lima hari kemudian, saya telat berangkat ke kantor. Pagi itu waktu sudah menunjukan pukul 05.30, tapi saya baru keluar pekarangan rumah.

Agar bisa lebih cepat mencapai stasiun, Pak Yadi, dengan motor, mengantar saya ke stasiun. Belum sampai dua ratus meter dari halaman yayasan, di mana kami tinggal, di jalan yang menghubungkan lokasi Yayasan Ar-Rahmah dengan Jalan Raya Ciomas, saya mendadak minta Pak Yadi menghentikan motornya.

Di arah antara tenggara dan timur, saya kembali terpesona dengan huruf-huruf dalam ejaan Arab yang saling menyambung, tetapi posisinya relatif tegak. Dari atas ke bawah: mim-ha-mim-dal: MUHAMMAD!

Mega-mega itu bergerak dan kaburlah huruf-huruf itu. Saya melanjutkan perjalanan. Di Jalan Raya Ciomas, mendekati Bojongmenteng, menjelang jalan membelok ke kiri, sebelum halaman tempat parkir bus-bus jemputan para pekerja Kementerian Kehutatan yang akan berangkat ke Manggala Wanabakti, rangkaian huruf-huruf itu itu muncul lagi sebentar, lalu hilang.


Ketika saya turun dari motor, depan stasiun kereta, pas seberang kantor PLN, Jalan Kapten Muslihat, saya melirik lagi ke arah tadi. Tulisan itu muncul kembali beberapa detik saja, lalu pergi.


Dua hari setelah itu, Minggu, 01 Juni 2013, sekitar Pak 16.30, saat sedang berada di tengah area pesawahan bersama istri dan beberapa tetangga, 200 meter arah barat yayasan, tepat di arah barat, di antara celah-celah cahaya mentari yang menerobosnya, segumpal awan membentuk lafaz yang sangat saya kenal betul.

Saat itu, Sri, istri saya mengajak saya bicara, tapi saya kurang memperhatikannya. Pandangan saya menatap terus ke arah barat.

“Ada apa sih?”

Tulisan itu pun lenyap.

“Dia datang lagi.”

“Apanya yang datang lagi?”

“Awan Muhammad.”

“Mengapa tidak memberi tahu?”

“Sangat sebentar dan agak kabur awannya. Keburu menghilang.”


Minggu, 13 Oktober 2013, bakda Subuh, bersama anak-anak, membaca doa pagi. Zikir itu diakhiri dengan menyampaikan salam kepada Kangjeng Nabi saw.

Yaa Nabie salaam ‘alaika /  Yaa Rasuul salaam ‘alaika

Yaa Habieb salaam ‘alaika / Shalawaattullaah ‘alaika

Asyraqal badru ‘alainaa / Fakhtafat minhul buduuru

Mitsla husnika maa ra-ainaa / Qaththu yaa wajhas suruuri

Anta syamsun anta badrun / Anta nuurun fauqa nuurin

Anta iksieruw wa ghaali / Anta misbaahus-shuduuri

Yaa habiebie yaa Muhammad / Yaa ‘aruusal khaafiqaini

Yaa muayyad yaa mumajjad / Yaa imaamal qiblataini


Selesai pembacan doa, saya berjalan menikmati indahnya kolam-kolam ikan dan tanah pesawahan. Lalu, ditemani istri, Pak Amud, dan Pak Yayat, kami melihat-lihat sapi milik anak-anak yatim yang tahun lalu dipelihara oleh Pak Amud.

Dua sapi dari kandang itu siap untuk kurban Selasa yang akan datang. Kemudian, kami menuju kandang hewan lainnya di dekat lokasi asrama putri, tak jauh dari situ.

Di sini tersedia juga hewan kurban: kambing, sapi, dan kerbau yang juga siap dipotong pada hari raya Kurban, nanti. Selanjutnya, menengok dapur, melihat-lihat Bu Eras dan anak-anak yang sedang piket menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan siang.

Sementara istri saya masih di tempat anak-anak putri, bersama Pak Yayat dan Pak H. Soleh yang belum lama datang, sekitar pukul 07, dari asrama putri, saya berjalan ke arah asrama putra dan saung tempat kami tinggal, di sebelah timur.

Di tanah Sekolah Dasar Ciomas 3 -yang menghubungkan area asrama putri dan saung putra, saya melihat ke atas, ke arah timur.

Segumpal awan membuat bentuk mirip ular naga. Di bagian paling atas ada bulatan kecil, menyambung dengan bentuk seperti lambang atau tanda “lebih kecil” dalam matematika; kemudian garis bagian bawah bentuk itu  menjorok ke kanan sedikit melebihi bentuk bulatan di atas tadi dan membuat bulatan kecil lainnya.

Lalu, bentuk itu disambungkan dengan garis tebal ke arah kiri, membuat bentuk seperti jari-jari jempol dan telunjuk yang dibuka, seperti mulut hewan yang menganga. Itulah  huruf “dal”. Mega pagi itu, lagi-lagi, membentuk lazaf MUHAMMAD!

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad. Gumpalan mega di langit itu, kembali berzikir, menyampaikan selawat atas Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wassalaam.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya, berselawat atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya!”


Minggu, menjelang Magrib, di atas jembatan sungai di pintu masuk Yayasan Ar-Rahmah -sambil menikmati pemandangan sawah yang luas dan aliran sungai yang deras, 14 Oktober 2013.

Salam, Jr

Tinggalkan komentar