Atas _sharing_ yang saya kirim tanggal 09 Januari 2025, berjudul *“Mereka yang Telantar, Terancan,dan Terusir*”,seorang pembaca mengomentari:
“Ini pekerjaan ibadah yang tidak semua orang bisa,” tulisnya.
Saya menjawab, “_Haadzaa min fadhli rabbii_.” Ini semua kersaning Gusti Allah semata.
“Semoga Allah mempertemukan saya dengan *Ustaz* Jonih, *untuk belajar*…”
Paling tidak, dari pesan dalam WA itu, ada dua hal perlu saya garis bawahi.
*Pertama*, sebutan “ustaz”.
Saya suka malu kalau dipanggil dengan sebutan mulia itu, sebab sifat-sifat seorang ustaz tak ada pada saya.
Ustaz adalah orang yang ilmunya luas, amalnya banyak, dan akhlaknya terpuji –tutur katanya santun, lemah lembut, menyejukkan.
Saya mah ilmunya cetek, amal minimalis, suka usil, dan kalau bicara ceplas-ceplos. Kadang, orang tersinggung!.
Orang-orang terdekat saya, istri dan anak-anak kami, tahu itu!
Ada yang lebih heboh, orang memanggil saya dengan sebutan kiai atau ajengan. He…he…hey!
Saya bukan ustaz, apalagi kiai atau ajengan! Saya mah –walau usia sudah masuk kategori senior, sehingga jika naik kereta dapat diskon signifikan- tapi masih sebagai pencari ilmu saja. Untuk menjadi guru, belum cukup ilmu.
Dalam Kata Pengantar salah satu buku saya, ditulis:
“Saya bukan ustaz, apalagi kiai! Saya hanyalah bapaknya anak-anak yatim; dan temannya orang-orang miskin.”
“Dalam hubungannya dengan keilmuan, saya adalah murid (arada-yu’ridu-iraadatan-muridan), seorang yang memerlukan, dalam hal ini memerlukan ilmu, yaitu dari sumber-sumber ilmu: para guru, ustaz, dan kiai.
Ustaz juga -dalam kesehariannya- biasa berpenampilan kalem, berpakaian rapi: berbaju koko atau gamis, berpeci, serban, atau penutup kepala lainnya yang serasi dengan kemeja yang dikenakan.
Pakaian bagian bawah para ustaz, kalau tidak tertutup gamis atau sarung, celananya longgar tapi tetap rapi. Saya, lebih sering pakai jeans atau celana untuk ke alam terbuka –gaya-gaya tentara.
Pakai baju batik dan peci hitam –sehingga agak rapi, jika sedang mengisi acara atau menghadiri undangan di gedung saja. Hari-hari mah, lebih suka dengan pakaian santai, memakai topi dan tas lapangan.
Sehari-hari, saya pun nyaman bersandal jepit atau alas kaki berbahan karet lainnya. Singkatnya, saya ini. enggak ada potongan ustazlah!
*Kedua*, kata-kata “… untuk belajar (kepada saya)”.
Bertalian dengan orang yang mau berguru atau belajar, saya membalas,”Seorang pembaca buku saya dari Gresik, Jawa Timur, beberapa tahun lalu, mengirim pesan:
“Saya sudah membaca buku Bapak yang berjudul “BAHAGIA DALAM TIADA –Liku-Liku Hidup Bersama Anak-Anak Yatim”.
“Saya sudah pesan tiket kereta Surabaya-Jakarta; akan terus ke Bogor, mau berguru sama Pak Jonih.”
Pesan itu dibalas: “Kalau mau berguru, salah alamat. Bergurulah kepada orang-orang ‘alim: para ustaz dan kiai.
Apabila hendak mengobrol santai sambil ngopi, silakan datang!”
Awal 2017, pasangan suami istri dengan dua anak balitanya yang lucu-lucu, dari Bekasi, ditemani seorang tetangga –yang pernah meminjaminya sebuah buku, bersilaturahmi kepada kami.
Mereka melakukan syukuran keluarga bersama anak-anak yatim/duafa kami di Yayasan Ar-Rahmah, di Ciomas, Bogor.
Yang mendorong keluarga kecil itu, Mbak Ning dan Mas Win, datang dari Bekasi ke Bogor, karena sang istri pernah membaca sebuah buku berjudul “Buku tentang Kebaikan” (Gramedia, 2013). Ia terkesan dengan isi buku itu.
Mbak Ning, kepada saya berkata, “Dua tahun saya berdoa, agar Tuhan pertemukan saya dengan penulis buku itu.”
“Waaah, untuk ketemu saya mah, tak usah lapor Tuhan, telepon saja. Saya bisa datang ke rumah, Mbak Ning, kapan pun!”
Ada tetangga agak jauh, ustaz yang biasa memberikan pengajian, menyengaja bertamu kepada kami.
“Mohon saya diberikan wirid untuk diamalkan dalam keseharian.”
Seorang sepuh yang sangat saya hormati karena keikhlasannya berbagi ilmu –setiap hari ia mengajar mengaji di 3 sampai 5 tempat bagi masyarakat, kerendahan hatinya, dan kesederhanaan hidupnya.
Tiap Selasa malam, ia mengajar mengaji dan budi pekerti kepada anak-anak yatuim/duafa kami di Ar-Rahmah.
Hari-hari lainnya, ia menjadi guru mengaji dan memberikan taushiah di mushala-mushala dan pengajian ibu-ibu di kampung.
Bapak ini, anaknya pintar-pintar dan saleh-salihah; semuanya ahli ilmu dan pada rajin beribadah.
Suatu hari, beliau datang ke rumah. Di antara pembicaraan, ia bertanya:
“Amalan apa yang _dawam_ dilakukan. Tolong, ajarkan kepada saya.”
Ketika istri saya tahu akan hal ini, ia tertawa lepas, enak sekali!. _Urang_ Sunda bilang, _nyakakak_. Apa sebab?
Ia tahu pasti, suaminya lebih banyak tidur ketimbang berzikir. Jika hadir di pengajian, saat orang orang menyimak isi ceramah; suami dia suka tertidur pulas, bahkan –tak jarang- bersuara gaduh!.
Eeeeh, ini ada bapak-bapak saleh dan berilmu, katanya mau belajar kepada orang seperti saya. “Isin, ah!”
Kemarin, Minggu pagi, di IS PLAZA Hotel, Jln. Pramuka, Jakarta Timur; Kiai Badru Salam Misbahunnur, pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Misbahunnur, Jln. Kolonel Masturi, Cipageran, Kota Cimahi, memberikan sambutan.
Atas nama Keluarga Besar Calon Mempelai Pria (CMP), Pak Kiai menyerahkan CMP kepada Keluarga Besar Calon mempelai Wanita (CMW), sebelum akad nikah dilaksanakan.
Sesaat setelah akad dan petugas KUA telah menyelesaikan tugasnya, saya menyambung dengan Nasihat Perkawinan untuk kedua mempelai.
Bakda sesi foto-foto, menjelang acara saweran, Kepada saya, Pak Kiai berbisik, “Ingin silaturahmi ke Bogor; mau belajar….”
“Waddduh!” kebalik lagi, nich!
Saya kira, orang-orang yang katanya mau belajar atau berguru itu sebenarnya adalah ungkapan kerendahan hatinya saja, karena memang mereka yang berilmu suka merendah, seperti padi: makin berisi semakin merunduk.
Akan tetapi, bagi saya, yang kadang disangka pintar, banyak tahu, rajin berzikir (padahal…), sehingga mereka memuji-muji; kayaknya, perlu sering-sering menyampaikan doa ini, doa jika dipuji orang:
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ *اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ*
_AllaaHumma anta a’lamu minnii bi nafsii, wa ana a’lamu bi nafsii minHum. *Allahummaj‘alnii khairan_ mimmaa yazhunnuun(a), waghfirlii maa laa ya’lamuun(a), wa laa tu-akhidznii bi maa yaquuluun(a)._
“Ya Allah, Engkau lebih tahu tentang aku; dan aku lebih tahu tentang aku daripada mereka yang memujiku. *Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka duga, ampuni aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah Kau siksa aku lantaran perkataan mereka.*” (Ucapan Abu Bakar, diriwayatkan oleh Baihaqi).
Ciomas, 13 Januari 2025, bakda Subuh. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar