- Isal Lulus Pesantren
Bagian Ke-1
Khawatir kena macet dan terjebak tak bergerak di jalan raya, pagi dini hari, dari Ciomas, Bogor, kami sudah berangkat menunju Tangerang.
Ketika sinar matahari belum begitu terasa sengatannya, saya dan istri sudah berada di Jayanti, Gintung, Tangerang, Banten.
Ribuan orang dan kendaraan memadati halaman Pesantren Daar el-Qolam yang sangat luas itu.
Pendirian Pondok Pesantren Daar el-Qolam digagas oleh Haji Qasad Mansyur yang direalisasikan oleh putranya, Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief, alumni Pondok Modern Gontor, pada tanggal 20 Januari 1968.
Setelah K.H. Ahmad Rifa’i Arief meninggal dunia pada 15 Juni 1997, manajemen pesantren dilanjutkan oleh adik-adik Kiai, yaitu K.H. Drs. Ahmad Syahiduddin, K.H. Adrian Mafatihullah Karim, dan Ustazah Hj. Enah Huwaenah.
Beliau-beliau itu adalah alumni angkatan pertama Daar el-Qolam.
Lembaga pendidikan Islam ini mengintegrasikan antara sistem pendidikan pondok yang tradisional dengan sistem pendidikan sekolah yang modern.
Menempati lahan seluas 26 hektar -dan mungkin terus bertambah luas, 5000 santri belajar di pesantren yang Almarhum UJE -Ustaz Jefri Al-Buchori, pernah menuntut ilmu.
Menurut sebuat survei, entah apa kriterianya, pesantren terbesar di Banten ini, termasuk 10 pesantren terbaik di Indonesia. Ia menempati urutan ketiga setelah Langitan dan Gontor.
Kalau datang ke sini pada hari Jumat, menjelang waktu shalat, saya seperti melihat pemandangan di sekitar masjidil haram: ribuan santri mengenakan gamis putih, berjalan tertib menuju masjid.
Mereka tampak seperti para jemaah haji yang berpakaian ihram, hendak melaksanakan thawaf atau sa’i.
Hari ini adalah hari istimewa, hari yang ditunggu-tunggu, hari yang paling membahagiakan bagi anak-anak pesantren, para santri kelas terakhir.
Setelah enam tahun menuntut ilmu dengan jadwal yang sangat ketat dan disiplin yang tinggi; sejak hari ini mereka akan bebas dari berbagai tugas dan segala peraturan pesantren yang selama ini mengikatnya.
Juga, bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
Para santri itu akan diwisuda oleh pimpinan pondok, tanda mereka telah selesai melaksanakan pendidikan dengan selamat dan lancar.
Para tamu dibimbing oleh panitia untuk menempati tempat duduk yang sudah disediakan.
Di kursi yang telah diberi nomor dan siapa yang boleh duduk di atasnya, kami, para orangtua santri, mendapati secarik kertas bertulisan. Saya membukanya.
Sebuah surat dari anak kami, Muhammad Faisal Abdurrahman Rahmat –yang akan segera diwisuda.
Kertas itu berisi tulisan ucapan terima kasih kepada orangtuanya. Isal menulis dalam salah satu bahasa yang ia pernah pelajari di pesantren, bahasa Inggris.
For My Lovely Father
“Today is the day that we have been waited for six years. Do you remember the time when we came here for the first time? The day that full of tears.
Please forgive me for all my mistakes I ever done. Thanks, because you have found time for visiting me in the middle of your bustle.
Thanks, because you have supported me morally and financially. Thanks for all your sacrifice to make me like who am I today.”
Saya tidak termasuk yang pintar bahasa asing. Jadi, tidak bisa menilainya, apakah bahasa Inggris di surat itu bagus atau tidak.
Akan tetapi, dahulu, waktu meninggalkan rumah untuk pergi mondok ke Banten; kecuali kata-kata yes, no, thank you, good morning dan sebangsanya; ia sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris.
Kini, setelah mesantren, ia tidak hanya bisa bicara Inggris-ingrisan, tetapi juga mampu menulis surat dalam itu bahasa. Alhamdulillah!
Di gedung yang sangat luas –yang selain panggung, sekelilingnya terbuka; tempat duduk untuk kaum ibu dan para bapak dipisah. Dengan istri, saya berjarak jauh.
Dari sisi barisan kursi-kursi, kiri ke kanan, kami berbeda tiga baris; istri saya lebih depan.
Akan tetapi, dari lajur –garis yang ditarik dari depan ke belakang, kami dipisahkan oleh belasan lajur.
Di kursinya, ibu anak-anak ini, juga mendapati selembar kertas terlipat empat.
Di bagian kiri bawah kertas ada sketsa dari gambar seorang perempuan berjilbab, mungkin yang dimaksud adalah gambar ibunya.
Di sisi kanan kertas terdapat tanda tangan dan tulisan M. Faisal A.R. Tulisan di kertas berwarna biru muda itu ada huruf-huruf berukuran besar:
For My Lovely Mother
“Hari ini, hari yang dahulu dinanti-nantikan, telah tiba. Teringat enam tahun lalu ketika Ibu membawaku ke pondok ini dengan harapan aku dapat menyelesaikan pendidikan di sini.
Terima kasih atas segala pengorbananmu, hingga membuatku seperti hari ini. Terima kasih telah melahirkan ke dunia.
Terima kasih karena telah membawaku ke pondok ini. Maafkan aku atas segala kesalahanku.”
Begitu para orangtua duduk di kursi yang sudah disediakan tersebut, terdengarlah suara merdu:
Terima kasihku ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan ku ingat selalu nasihat guruku
Terima kasihku guruku
Suara itu muncul dari sudut depan kanan dan kiri.
Para wisudawan dan wisudawati serentak menyanyikan lagu, mengenang jasa guru mereka: para ustaz, ustazah, dan kiai.
Seiring dengan berkumandangnya lagu itu; serombongan ustaz, ustazah, dan kiai, dari arah belakang podium; memasuki ruangan.
Pembawa acara, dua santri, putra dan putri, menyampaikan arahan dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris.
Segera disusul dengan kumandang Himne Oh, Pondokku:
Oh, pondokku tempat naung kita
Dari kecil sehingga dewasa
Rasa batin damai dan sentosa
Dilindungi Allah Ta’ala
Oh, pondokku engkau berjasa
Pada ibuku Indonesia
Tiap pagi dan petang
Kita beramai sembahyang
Mengabdi pada Allah Ta’ala
Di dalam qalbu kita
Wahai pondok tempatku
Laksana ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh Pondokku..
Ibuku…
Lagu itu begitu menyentuh. Saya lihat para ustaz dan ustazah, kiai, seluruh santri dan para orangtua mengikutinya dengan syahdu.
Banyak orang meneteskan air mata.
Syair itu diciptakan oleh Husnul Haq dan lagunya oleh R. Moen dari Gontor, tahun 1940-an.
Siapa pun yang pernah mondok (apalagi di Gontor dan pesantren-pesantren yang didirikan oleh para alumni Gontor); atau, paling tidak bagi yang sering ke pesantren, baik sekadar silaturahmi dengan para kiai atau menjenguk anak; mendengarkan Himne Oh … Pondokku, mesti menangis.
Terkenang saat-saat mondok, atau berada di lingkungan pesantren dengan segala kegiatannya yang sangat padat dan melelahkan.
Kiai Rifai –Allaahu yarham, pendiri Pesantren Daar el Qolam di Jayanti, Gintung, Tangerang, semasa di pondok adalah santri kesayangan Kiai Zarkasy dan salah seorang alumni terbaik Pondok Modern Gontor.
Seorang dosen di STAI Al-Hidayah Bogor, yang lulusan Gontor, pernah bercerita kepada saya bahwa waktu beliau nyantri, Kiai Zarkasy, Pimpinan Gontor, sering menyebut-nyebut nama Rifai sebagai santri yang hebat.
Dan, saya pernah membaca biografi bagaimana beliau berjuang mendirikan pesantren Daar el-Qolam dengan rintangan dari pemerintah setempat.
Juga, ancaman hingga rencana pembunuhan dari beberapa orang yang anak mereka –sebab melanggar tata tertib, dikeluarkan dari pesantren; sungguh luar biasa!
Seorang santriwati maju ke podium, ia berpidato dalam bahasa Inggris yang fasih.
Kemudian, seorang santri berbicara dalam bahasa Arab.
Keduanya, memesona. Luar biasa!
Beberapa minggu menjelang diumumkannya kelulusan pesantren dan ujian nasional, anak kedua itu, dengan wajah menunduk berkata lirih:
“Pak, Isal khawatir enggak lulus ujian.”
“Belajar saja dengan sungguh-sungguh, dan jangan lupa banyak shalat sunah dan berdoa,” saya menyemangati.
Kalau-kalau apa yang dikhawatirkan Faisal terjadi, untuk mempersiapkan di keluarga, kepada ibunya saya sampaikan,:
“Bapak tidak terlalu menginginkan anak-anak memiliki nilai tinggi, yang penting lulus saja.
Ilmu bisa ditambah di luar sekolah.
Namun, kalau Isal tak berhasil dalam ujian, kita minta dia belajar lebih keras agar tahun depan lulus dengan baik.”
Sebenarnya, rasa khawatir di dalam hati, kalau-kalau dia gagal, ada juga
Tanggal 1 Mei 2014, hari pengumuman itu datang.
Bersambung….
Tinggalkan komentar