Enur, koordinator kebersihan Masjid An-Nur, di Yayasan Ar-Rahmah, Ciomas, Bogor; tiga hari lalu, minta izin pulang dulu ke kampungnya, di Cianten, Leuwiliang. Ada kerabatnya yang sakit.
Enur bersama para orangtuanya, turun temurun, adalah pemetik teh di perkebunan Cianten. Ia kemudian bekerja pada kami.
Kamis siang, Enur sudah berada lagi di Ciomas. Bisa dipastikan, jika Enur atau siapa pun datang dari Cianten, akan membawa oleh-oleh, makanan khas yang hampir tiap rumah para pemetik teh di Cianten, makan: galideur.
Galideur berbahan utama daun singkong. Daun bervitamin C kadar tinggi itu, ditumbuk.
Sebagai bumbunya adalah bawang merah, bawang putih, dan garam. Bumbu digoreng.
Kemudian, hasil tumbukan daun singkong dicampur dengan bumbu itu, dioseng bersama-sama.
Tadi Magrib, saya menemani istri yang berbuka puasa. Nyaris tiap hari dia berpuasa. Puasanya sih, selang sehari. Orang menyebutnya sebagai Puasa Daud.
Tapi, kalau bepergian ke luar kota dan pas hari dia harusnya berpuasa, atau kedatangan tamu, maupun bertamu, dan disuguhi makan; saya sarankan ia berbuka.
“Ibu mendapat dua pahala: pahala puasa tetap ada, dan pahala menghormati tamu atau tuan rumah,” suaminya, sok tahu, mengabari.
“Kalau lagi bepergian?”
“Sama. Pahala puasa yang sudah berjalan, dan pahala menghormati yang tidak puasa -yang bareng dalam perjalanan, sehingga suasana terasa nyaman.”
“Pun, Allah menyukai kemudahan dan tak senang dengan kesulitan, ” saya menambahkan.
Lantaran sangat sering bepergian, menerima tamu, dan bertamu; banyaklah ia bocor puasanya. Di hari lain yang bukan jadwalnya berpuasa, ia puasa; membayar yang batal-batal itu.
Ketika dalam sebuah obrolan dengan beberapa teman, sampai ke hal ini; seorang kawan berkomentar, “Ibadah sunah, kok diqadha?”
”Nabi ﷺ mengqadha Salat Fajar ketika matahari sedang meninggi. Rasul ﷺ pun mengqadha bakdiyah Zuhur setelah salat Ashar.” Bahkan Nabi ﷺ mengqadha tahajud di siang hari.
Kita kembali ke makan galideur lagi.
Saya mengambil sepiring nasi yang masih mengepul. Lalu, 3 sendok penuh galideur dimasukkan ke situ.
“Pakai teri!” yang berbuka mengingatkan.
Bila, putri kami, membawa teri kering kriuk-kriuk. Di kemasannya ada tulisan: Teri Aceh.
Ukuran dan warnanya persis Teri Medan yang putih gurih itu. Tapi, teri ini kering, kriuk-kriuk. Kata orang Sunda: nyakruk.
Bila juga menyiapkan sambal terasi.
O ya, kalau makannya tak pakai kuah; sejak kecil, saya lebih suka mengambil nasi dari piring untuk disuapkan ke mulut, secara manual; tak pakai sendok. Lebih berasa!
Itu nasi panas, dicampur galideur, ditaburi Teri Aceh, ditambahkan kepadanya sambal terasi, silakan coba! Enaknya…. tiada dua! Nikmaaaat sekali!!! Alhamdulillah, Gusti.
Ciomas, 01 Februari 2025, bakda Subuh. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar