Mengenang Geolog Sangat Besar: Prof. Dr. R. P. Koesoemadinata
Kabar duka sampai ke indra pendengar belasan atau puluhan ribu ahli geologi di Indonesia, Asia, bahkan dunia!
Tadi pagi, pk. 04.50, seorang geolog sangat besar Indonesia, Prof. Dr. R. P. Koesoemadinata, dipanggil Allah Swt ke haribaan kasih dan sayang-Nya.
Raden Prajatna Koesoemadinata, umumnya ditulis Prof. Dr. Koesoemadnata, dan biasa disapa dengan Pak Koesoema, lahir di Bandung pada 29 Januari 1936.
Ia dibesarkan dalam keluarga yang mencintai seni—anak seniman Raden Machjar Angga Koesoemadinata.
Sejak remaja bercita-cita melakukan petualangan di alam terbuka.
Untuk mewujudkan kesukaannya ini, pemuda Koesoema mendaftar di ITB dan mengambil Geologi. Sebuah pilihan yang tepat!
Dari ITB beliau melanjutkan pendidikan ke Queens University, Kingston, Canada, dan Colorado School of Mines, Boulder, Colorado, USA –salah satu kampus geologi paling terkemuka di dunia.
Pak Koesoema mengajar di banyak universitas yang ada jurusan geologinya, antara lain, di ITB, UNPAD, dan UPN.
Orang sangat pintar dan sangat luas wawasannya ini adalah instruktur dan pembicara di banyak seminar –DN & LN.
Beliau pun menulis makalah ilmiah di jurnal-jurnal nasional dan internasional, konsultan di industri hulu migas, batubara, dan perusahaan eksplorasi emas.
Profesor pernah menjadi Ketua Umum IAGI -Ikatan Ahli Geologi Indonesia, periode 1973 -1975.
Pak Koesoema adalah active member di berbagai organisasi profesi nasional, regional, dan internasiaonal.
Dari AAPG – The American Association of Petroleum Geologists, karena karya dan dedikasinya dalam bidang geologi, beliau dianugerahi penghargaan Special Commendation Award pada 1994.
Masa pensiunnya tidak digunakan untuk berwisata ke sana kemari, melainkan dengan terus menulis dan menulis.
Terbitlah buku An Introduction into Geology of Indonesia. Buku tebal itu terdiri atas 2 jilid.
Nanang Abdul Manaf, Ketua Alumni Geologi ITB, menyebutnya sebagai masterpiece. “Ini adalah idealisme dari Profesor, kerja keras tiada henti, selama 10 tahun.”
Bapak Geologi Minyak Indonesia ini, juga tertarik pada bidang kesenian –sebab darah seni mengalir pada dirinya.
Tapi, karena pekerjaan yang sangat-sangat padat, beliau tidak meneruskan dalam berkeseniannya.
Profesor tertarik pula pada kajian-kajian keagamaan, dans sering menghadiri seminar-seminar tentang Islam di banyak tempat.
Dan, dahulu, di Harian Media Indonesia, tiap hari Rabu, Pak Koesoema menulis tentang politik.
Awal tahun 2000, saya pernah mengikuti Geological Field Trip di Colorado. Instrukturnya berasal dari Colorado School of Mines.
Saya tanya, “Kenal atau pernah ketemu dengan Koesoemadinata, mahasiswa CSM dari Indonesia?”
“Ya, saya tahu, Dia mahasiswa bapak saya. Ia sering ke rumah kami.” Rupanya, ayah professor ini adalah dosen pembimbing Pak Koesoema.
Mumpung ingat, dan takut keburu lupa, saya kirimkan selingan;
Ada hal-hal kecil tapi menarik terkait dengan Pak Koesoema; dan bisa membuat tertawa.
Saya dapatkan ini dari Mbak Nuning Nugrahani atau dari kawan lainnya. Mbak Nuning adalah seorang geophysicist, sohib saya sejak di Pertamina dan SKK Migas; dan keponakan dari Pak Koesoema.
Satu
Suatu hari libur, Profesor mengantar istrinya belanja ke Pasar Baru, Jln, Otista, Bandung. Sementara sang istri belanja, Prof., di dalam mobil, menunggu sambil membaca Harian Pikiran Rakyat.
Selesai membaca surat kabar, koran dilipat; langsung kembali ke rumah. Di rumah, beliau mencari-cari istrinya. “Kok, enggak ada. Ke mana, ya?” pikirnya.
Tak lama kemudian, ia baru teringat, ibu masih belanja di Pasar Baru!
Dua
Satu hari, orang sangat pintar ini, masuk-keluar kamar-kamar, mencari-cari barang tertinggal.
“Nyari apa, Pak?” ibu bertanya.
“Lupa nyimpan, kacamata di mana, ya?”
“Itu di kening,” ibu menunjuk.
Tiga
Bersama Kang Dudu Masduki, bobotoh setia Persib, Allahu yarham; saya mengikuti Seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia, di sebuah hotel di Bandung, instrukturnya: Pak Koesoema.
Saat rehat, kami minum kopi. Profesor bergabung. Menghampiri mahasiswanya –yang dulu, waktu di kampus, sangat dekat dengannya.
Pak Koesoema menyapa, “Masih hirup, Du?” Masih hidup, Du?
“Paling, Bapa heula!” Mungkin, Bapak yang duluan.
Sambil mengobrol, profesor menambah seruputan kopi. “Eiiih, itu cangkir saya!” tapi dalam hati saja.
Kang Dudu berkomentar, “Wah, gawat! Kalau Jonih minum kopi Pak Koesoema, tak masalah. Malah, bisa menjadi rada pintar sedikit.
Tapi, ini…, saya khawatir Pak Koesoema jadi bodoh!”
Kita kembali ke laptop.
Untuk keperluan perkuliahan, Pak Koesoema menulis buku yang menjadi pegangan utama bagi para mahasiswa Geologi dan Teknik Perminyakan di Indonesia dan Malaysia.
Geologi Minyak dan Gas Bumi adalah buku teks terbaik berbahasa Indonesia, untuk mempelajari, memahami, mengaplikasikan ilmu geologi dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.
Sebagai dosen yang sangat disiplin dalam mengajar, beliau habiskan sama sekali materi kuliah yang mengunakan buku yang ditulisnya itu hingga halaman akhir,
Pak Kusuma menutup kuliahnya dengan bercerita:
Dua orang pemburu, di tengah hutan, melangkah perlahan, mengendap-endap, mengintai binatang yang menjadi sasaran.
Seketika, di hadapan mereka, seekor kijang melesat, lari bagai kilat. Dengan sigap dan gerakan sangat cepat, pemburu I meloncat;dan mengejarnya.
Saat kawannya sesama pemburu, bersama senapan di tangan, dengan mata menatap lurus ke depan, berlari kencang ke kanan, ke arah perginya kijang; pemburu II, malah berjalan ke kiri.
Perlahan ia berjalan, dengan mata menunduk ke arah tanah, seperti melihat-lihat sesuatu yang dicari.
.
Alih-alih mengejar binatang buruan, ia memerhatikan jejak yang ditinggalkan itu hewan di permukaan tanah.
Kalau orang kebanyakan mengejar untuk segera memanfaatkan barang-barang tambang, minyak dan gas bumi, ataupun panas bumi.
Orang-orang geologi berbeda.
Mereka akan berjalan ke arah belakang, pelan-pelan, menelusuri dan memerhatikan bebatuan, dari mana itu binatang itu datang.
Itulah pekerjaan orang geologi, makhluk pencari jejak. Mencari dan menemukan sumber-sumber mineral, minyak, dan gas bumi.
Selamat Jalan Pak Koesoema. Ilmu bermanfaat bagi kami, murid-murid Bapak, insya Allah, akan terus mengalir menjadi pahala kebaikan yang tak pernah putus.
“Ya Allah, terangkan, lapangkan, dan sejukkan kubur Guru kami ini. Peluk-cium ia dengan kasih dan sayang-Mu. Terimalah ahli ilmu ini dalam rida dan ampunan-Mu.” Aamiin.
Ciomas, 18 Agustus 2025; bakda Isya. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar