Gontor

“Labbaika Allaahumma labaik. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk. Laa syariika laka,” talbiyah dari jauh itu, lamat-lamat terdengar.

“Labbaika Allaahumma Labaik. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk. Laa syariika laka,” suara itu semakin mendekat.

Saya keluar dari ruang penerimaan tamu Gontor II, mencari datangnya sumber suara.

Serombongan anak-anak santri, berpakaian serba putih tak berjahit, membacakan talbiyah.

Mereka sedang melakukan latihan manasik haji. Anak-anak itu terus mengulang-ulang,”Labbaika Allaahumma labaik….”

Mendengar seruan itu, hati saya bergetar. Teringat saat-saat melaksanakan haji.

Pemandangan di tanah suci seperti hadir di sini. Barisan rapat anak-anak manis itu laksana para haji yang senantiasa meneriakkan seruan tersebut.

Terbayang Masjidil Haram, Kakbah, dan Arafah. Saat-saat indah di Masjid Nabawi terkenang kembali.

Raudhah dan Makam Kangjeng Nabi saw., seolah ada di depan mata.

Sudut-sudut mata saya menghangat, tetes-tetes bening air mata membasahi pipi. Kerinduan akan tanah suci bangkit kembali.   

“Sekarang kita tiba di Arafah. Kita akan melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar secara jama’, namanya jama’ taqdim,” ustaz pembimbing berteriak kepada “para haji”.

“Setelah itu, kita akan mendengarkan khotbah Arafah,” Ustaz menambahkan.

Gontor, pesantren yang didirikan tiga bersaudara:  KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannani, dan KH. Imam Zarkasy di Ponorogo, Jawa Timur, terus berkembang.

Lembaga pendidikan keagamaan dan umum ini menjadi salah satu kiblat utama pesantren-pesantren modern di Indonesia.

Para alumninya meneruskan tradisi para guru mereka, mendirikan banyak pesantren, di berbagai penjuru tanah air, dengan metodologi yang sama dengan pesantren induknya.

Gontor tak pernah sepi. Hari-hari dan malam-malamnya, penuh dengan aktivitas para santri.

Selain kurikulum yang ketat (100 % kurikulum pesantren dan 100 % kurikulum diknas), seluruh murid mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, sesuai minat dan bakatnya.

Semua enjoy, semua hepi.

“Satu tahun itu, terasa singkat sekali. Saya sudah delapan tahun di sini, serasa baru kemarin!” Ustaz Ma’mun, asal Kuningan, di ruang pengasuhan Gontor-1, menjelaskan.

Seorang kerabat mengeluhkan sedikitnya waktu untuk bertemu anak mereka.

“Aku lagi sibuk sekali, Bu,” kata seorang santri kepada ibunya yang sengaja datang dari Bandung menengok anaknya.

Tapi, ibu dan bapaknya bangga juga. Anak lulusan Sekolah Dasar, dan langsung masuk pesantren, begitu cepat bisa mandiri dan aktif dalam berbagai kegiatan pesantren.

Tidak sedikit anak santri lain yang minta pulang.

Tidak betah dan tak tahan dengan program-program pesantren yang demikian padat, di samping peraturan yang sangat ketat.

Beruntunglah para orangtua yang anak mereka bisa bertahan untuk terus belajar.

“Untuk pendidikan mental, Gontor tak ada duanya,” Ustaz Agus, penemu metoda bahasa Arab Mustaqilli, suatu hari bercerita kepada saya.

“Saya datang menengok anak bareng dengan saudaranya Pak JK.

Anak ibu itu, sama baru masuk kelas satu,” Hera, melalui SMS menyampaikan suasana anak-anak di Gontor.

“Setelah berjam-jam menunggu. Keluarga orang berada itu melihat anak bungsunya yang masih sangat belia, sedang mengais-ais sampah dari selokan.

Daun dan plastik sisa makanan, dimasukkan ke dalam gerobak.

Anak orang kaya itu, di tengah rintik hujan, bersama teman-temannya, mendorong-dorong gerobak sampah!” Hera mengisahkan.

“Aduuuh, di sini mah harus kuat, harus sabaaar!” seru sang ibu, sambil mengusap dada.

Itulah Gontor! Dalam pendidikan agama, umum, dan mental, siapa pun akan diperlakukan sama.

Pagi hari, jauh sebelum jam istirahat pertama pukul 8.30, saya sudah berada di ruang tamu Gontor-2.

Selain bertanya banyak hal tentang sistem penerimaan santri baru, sekalian juga mau ketemu Bagus, anak paling kecil dari pasangan Asep-Hera yang sekarang sudah di kelas 2 SMP*.

Begitu masuk jam istirahat, guru piket beranjak ke kelas dan kamar keponakan itu, menjemputnya untuk bertemu kami.

“Dari kelas sudah keluar, dan di kamarnya tidak ada. Tapi, sudah saya pesankan kepada teman-temannya, baik yang di kelas maupun yang di kamar agar disampaikan ke anak itu bahwa ada pamannya menunggu di sini,” Ustaz muda itu menerangkan kepada kami.

Kepada istri saya amanatkan untuk menunggu di ruang tamu, sementara saya berkeliling ke kantin-kantin, mencari Bagus.

Sampai bel berbunyi, tanda pelajaran dimulai kembali, kami tidak berhasil berjumpa dengannya.

Ratusan anak-anak berlarian menuju kelas. Telat satu-dua menit saja, mereka akan menerima sanksi.

Daripada harus menunggu jam istirahat berikutnya, saya coba mendekati kelas 2 C, tempat anak itu belajar.

Kepada ustaz yang sedang berjalan kaki menuju kelas lain, saya minta tolong.

“Kami sudah menunggu dari pagi, ingin ketemu keponakan, tapi sampai sekarang belum jumpa.

Jam istirahat tadi, tidak bertemu. Bisa minta tolong, barang dua – tiga menit bertemu dia, ibunya di Bandung ingin bicara, ada yang mau  disampaikan?”

Ustaz memanggil seorang murid yang sedang berlari menuju kelas. Dengan bahasa Arab, ia perintahkan anak itu menyampaikan pesan kepada temannya itu.

Seorang anak menuruni tangga. Belum saya berbicara, ia sudah mendahului,

“Saya sedang ada pelajaran, nanti saja ya, jam istirahat!” ia berbicara dengan tergesa-gesa.

“Ibu mau bicara sebentar saja,” tapi dia sudah lari lagi ke lantai dua.

Saya sampaikan perihal tersebut kepada ibu dan bapaknya.

“Memang begitulah ketatnya di Gontor,” orangtua dia menjelaskan.

Saya teringat ketika dulu menjadi santri kalong di Madrasah Al-Basyariyah di Bandung Selatan. Pesantren itu didirikan oleh Buya Saeful Azhar, alumni Gontor.

Di hadapan para santrinya, Buya pernah menyampaikan, ” Di Gontor, saya dididik dengan disiplin yang sangat kuat.

Dari empat 48  orang santri asal Jawa Barat, waktu itu, hanya satu orang yang berhasil sampai selesai.

Mereka berguguran di tengah jalan. Pendidikan sistem Gontor ini pula yang saya terapkan di sini.”

Dan, saya, kendatipun waktu itu sudah kuliah di semester V, sempat merasakan hukuman, berdiri tegak di depan teman-teman, sementara orang lain duduk bersila mendengarkan pengajian!

KH. Hasan Abdullah Sahal, putra KH. Ahmad Sahal; KH. Abdullah Syukri Zarkasy, putra KH. Imam Zarkasy; dan KH. Syamsul Abdan, putra daerah; kini memimpin pesantren terkemuka itu.

Pesantren yang banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional ini, yang dulu hanya berada di Desa Gontor, Mlarak, Kabupaten Ponorogo, atas tuntutan akan perlunya penambahan daya tampung, kini membuka banyak cabang.

Ada di Desa Madusari, Ponorogo (Gontor 2); di Sumbercangkring, Gurah, Kediri (Gontor 3); di Kaliagung, Rogojampi, Banyuwangi (Gontor 5), dan di Mangunsari, Sawangan, Magelang (Gontor 6).

Bagi para santri putri, sekarang sudah ada tiga pondok di Mantingan, Ngawi; dan satu di Kandangan, Kediri. 

Untuk membantu calon santri dari luar Jawa, Gontor pun melebarkan sayap ke Mowila, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (putra-putri); Labuhan Ratu, Lampung Timur (putra).

Juga; Kalianda, Lampung Selatan (putra); Aceh Besar (putra); Sulit Air, Padang (putra); Tanjung Jabung Timur.

Dan, Jambi (putra); Poso Pesisir, Sulawesi Tengah (putra-putri); Rimbo Panjang, Kampar, Riau (putri).

“Teng…teng…teng!” Bel istirahat kedua bersuara. Sambil agak cemas, khawatir tak ketemu lagi, saya bersiap-siap menyambut anak itu.

Alhamdulillah ia muncul. Sebelum keponakan itu tiba di depan saya, telepon seluler berbunyi. Ibunya sudah siap bicara.

Setelah banyak pembicaraan dan pesan agar dikirim susu dan brownies Amanda, anak bontot itu menyudahi pembicaraan.

Saya langsung telepon ayahnya yang tidak sedang berada dekat istrinya untuk juga berbicara dengan anaknya.

“Kapan ayah ke sini? Ayah mau bicara dengan Pak De Jonih?”

Saya menyergah, “Tak usah, kamu saja bicara yang puas dengan ayah. Pak De mah bisa kapan-kapan hubungi ayahmu!”

Selesai anak dan ayah itu berbicara, saya hendak menelepon ibunya lagi, memanfaatlan waktu yang sedikit, barangkali mau komunikasi lagi dengan anaknya.

Akan tetapi, bel masuk sudah memanggil kembali. Si anak segera lari menuju kelas.

Tadi malam, Selasa, 22 April, menjelang waktu Isya, kami tiba di Pesantren Modern Gontor, Desa Gontor, Mlarak, Gontor Pusat atau Gontor-1.

Terlihat sangat banyak santri berjalan kaki menuju arah berbeda-beda, mengikuti kegiatan masing-masing kelas.

Sementara ratusan santri lainnya sibuk belajar. Ada yang belajar di bawah pohon-pohon yang ada tempat duduk di bawahnya, juga di teras dan di dalam masjid.

Banyak juga yang “terkapar” di lantai, kecapean tampaknya. Di halaman antara masjid dan bangunan-bangun besar lainnya, para pencari ilmu bergerak ke sana kemari.

Hilir-mudiknya ratusan hingga ribuan santri, mirip pemandangan malam hari di sekitar Masjidil Haram, Makkah. Rasa rindu ke tanah Rasul itu,  kembali menggebu.



Gontor, Ponorogo, 23 April 2014, pagi hari.

Salam, Jr
*Saat ini, Maret 2025,, Bagus kuliah di Al-Azhar, Mesir.

Tinggalkan komentar