“Telah lama saya ingin menceritakan hal ini, tapi kepada siapa, ya? Nah, sekarang, kebetulan, ketemu Kang Jonih,” seorang kawan lawas, dalam sebuah kesempatan, seminggu yang lalu, memulai kisahnya.
“Waktu itu, sudah 2 bulan lebih saya sakit lulut. Jangankan untuk sujud, duduk saja sangat sulit. Sakit sekali. Duduk pun harus di kursi; di lantai tak bisa.
Sudah ke dokter spesialis tulang; dan dinyatakan osteoarthritis, mau stadium 2.
Umumnya tidak bisa sembuh. Hanya bisa dijaga, jangan sampai naik stadiumnya. Kalau tidak, harus ganti tempurung lutut.
Sarannya, hanya minum obat pereda sakit, selamanya; dan menurunkan berat badan, minimal 15 kg. Duh!.
Dulu dari kursi, kalau mau bangkit, harus pelaaan sekali,” ia melanjutkan.
“Terus?” saya menyemangati untuk ia segera melanjutkan ceritanya.
“Saya sangat ingin bisa shalat dengan sikap sempurna, seperti biasa. Akan tetapi, kondisi tubuh seperti itu.
Saya terus memerhatikan dia, bagaimana kelanjutan sakit atau sembuhnya.
“Suatu sore, hujan turun dengan derasnya. Ketika itu, saya sudah selesai shalat Ashar; dan tetap duduk di kursi, sambil pelan2 membaca ayat2 Allah.
Tiba-tiba, teringat bahwa banyak sekali yang telah Allah berikan kepada saya. Ingin aku bersujud mengucapkan syukur, tapi kaki enggak bisa ditekuk.
Masyaa Allah! Saya menangis tersedu-sedu. Lamaaa…sampai nafas saya sakit.
Kemudian, setelah tangisan reda, saya menerawang, ‘Seandainya bisa sujud, alangkah nikmatnya!”’
“Lalu?”
“Dalam hati saya berdoa, ‘Ya Alah, aku rindu banget bersujud kepada-Mu.
Izinkan aku, bisa sujud lagi…ya Allah; izinkan aku bisa sujud lagi. Sambil berlinang air mata, saya terus mengulang-ulang doa itu.
Tiba-tiba, saya ingin ke kamar kecil. Perlahan, saya bangkit, berdiri, dan mencoba berjalan. Eh, lancar!”
“Kaget sekali sekaligus bahagia! Saya –seketika- menjadi bisa lagi bangkit, berdiri, bahkan hingga berjalan dengan mudah dan tanpa rasa sakit!”
“Saya mengambil air wudhu lagi, bersujud kepada Allah. Bersyukur atas karunia nikmat-Nya. Alhamdulillah, sekarang pun jadi bisa datang ke sini dengan mudah.”
Saya menuliskan hal ini pada Hari Gur. Dan, kawan yang pernah sakit lutut ini adalah seorang Ibu Guru.
Ia adalah seorang guru yang suka berbagi ilmu dengan para profesional di bidang keuangan, khususnya, perbankan-via tatap muka atau melalui daring.
Waktu ketemu menjelang sesi foto-foto, “Hadir juga, rupanya!” saya menegur dia.
“Iya, tadi ada kelas dulu.”
Kawan-kawan, di antara waktu-waktu mustajab untuk berdoa, selain permintaan yang dipanjatkan pada sepertiga malam, adalah saat turun hujan.
Karena itu, jika suatu waktu ketika kita sedang duduk santai; lalu, hujan turun; jangan lewatkan kesempatan ini, untuk berdoa kepada Dia!
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua doa yang tidak akan ditolak: 1 doa saat azan; dan 2. doa ketika ketika turun hujan.” (HR. Hakim dan Baihaqi).
Ciomas, 25/11/25 –Hari Guru, bakda Zuhur. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar