“Utomo Priyambodo, jurnalis muda yang cemerlang dari National Geographic Indonesia, memposting sesuatu di Instagram -yang langsung mengoyak perasaan dan membuka kembali pengalaman masa lalu saya.
Dalam salah satu postingannya, ia menulis:
‘Hal terburuk dari menjadi miskin adalah cara Anda diperlakukan orang lain.
Namun, nasib terburuk dari menjadi miskin adalah direndahkan oleh orang lain!’
“Kalimat sederhana itu menghentak hati saya, karena benar-benar saya alami beberapa hari lalu, ketika saya membawa 102 anak yatim, untuk berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan.
Mereka membeli buku pelajaran, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan sehari-hari.
Tiba-tiba, saya melihat 1 anak yatim yang diam-diam membeli parfum.
Saya mendekatinya, karena tingkahnya berbeda dari teman-temannya. Lalu, saya bertanya:
“Kok beli parfum?”
Apa jawabnya?
“Iya Om… saya boleh kan beli parfum?
Karena saya sering diejek bau.”
Jawabannya sederhana. Tapi, rasanya langsung menembus hati.
“Sekejap, ingatan saya melompat ke masa ketika saya menjadi wartawan.
Saya pernah mendatangi seorang nara sumber yang sudah memberi waktu untuk wawancara, di sebuah perumahan mewah, sebut saja daerah Pondok Indah.
Saya berdiri di depan pagar rumahnya, mengetuk berkali-kali, namun tidak ada jawaban.
Saat itu hujan deras turun, dan saya tetap berdiri sambil berpegangan pada pagar rumah tersebut.
Tiba-tiba seorang ibu keluar, mengaku sebagai ibunda dari artis itu. Bukannya mempersilakan saya berteduh di halaman rumahnya, ia malah berteriak keras:
‘Berapa gaji kamu di tempat kerja?’
Ketika saya sebutkan angkanya, dia langsung berkata:
‘Gaji kamu itu, tidak akan cukup untuk mengganti pagar anak saya yang kamu pegang! Keringat kamu bisa bikin pagar ini berkarat!’
Padahal, saya tahu pagar itu terbuat dari stainless steel.
Saat itu, hati saya langsung jatuh. Saya pulang mengendarai mobil, sambil meneteskan air mata.
Mungkin tidak ada yang melihat, karena air mata saya bercampur dengan hujan. Tapi, rasa itu membekas sampai hari ini.
Bahkan setiap kali memegang benda berbahan stainless steel sendok, garpu, di restoran, misalnya; saya refleks mengusap tangan saya dulu.
Ada ketakutan yang terbentuk: takut meninggalkan karat, hanya karena dianggap orang miskin.
Itulah sebabnya, kata-kata sang jurnalis begitu menohok!
“Yang paling menyakitkan dari kemiskinan, bukan hanya kekurangannya, tapi perlakuan dan cara pandang orang lain.”
Hati-hatilah memperlakukan manusia, siapa pun mereka, dari latar apa pun. Karena luka dari perlakuan buruk tidak hilang dalam sehari, seminggu, atau setahun. Kadang, menetap seumur hidup!
Demikian, saya kutip dari fb Maman Suherman –yang postingan-postingannya senantiasa menginspirasi.
Kejadian di atas, mengingatkan saya, pada sikap dan perlakuan buruk dari orang lain, kepada kami. Dan, benar, itu tak pernah hilang dari ingatan!
Pertama, terhadap istri saya, Sri Wardhani. Pada usia 2-3 tahun, ia terserang polio, sehingga kaki kanannya lebih pendek dan lebih kecil dibanding yang kiri.
Tapi, itu faktor pendukung saja.
Yang utama -yang membuat dia sering direndahkan- adalah penampilannya yang sangat sederhana. Mungkin, menurut kebanyakan orang, tertalu sederhana.
Ketika tahun-tahun awal tinggal di Ciomas, Bogor, ia menghadiri pengajian ibu-ibu di sebuah majelis taklim.
Melihat ada peserta baru, seorang anggota jamaah bertanya, “Ngontraknya, di mana?”
Di daerah kami, Kp. Kreteg, Ciomas, banyak kotrakan 1 petak, seukuran sekitar 3 x3 m sampai 3×5 m.
Ada yang kamar mandinya di dalam, banyak yang di luar –dipakai bersama dengan pengontrak lainnya.
Itu bukan pertanyaan yang merendahkan, melainkan hal yang wajar, mengingat penampilan dia.
Sri menjawab, bukan dengan menjelaskan bahwa ia tinggal di rumah sendiri, tidak mengontrak; Ia berkata:
“Di dekat rumah Pak Haji Anan.”
“Ooo, iya.”
Sebelum menetap di Ciomas, pernah sekitar 3 bulan, kami menumpang di rumah saudara sepupu, di Jln. Tajur –dekat Biotrop.
Tempat belanja paling dekat dari situ adalah area pertokoan di Sukasari. Sri perlu ganti alas kaki.. Kami masuk sebuah toko sepatu, sebelah Shangri-La.
Waktu menunjukan pk. 19.30. Saya tanya seorang pelayan, “Tutup pukul berapa?”
“Pukul delapan,” ada waktu 30 menitan.
Sebab, kakinya kecil sebelah, kalau nyari sandal atau sepatu, agak lama. Harus enak di 2 kaki. Kalau mau cepat, bisa: beli 2 nomor. Tapi, itu menjadi mahal!
Saat Sri sedang memilah, memilih, dan mencoba sepatu-sepatu; pelayan lain, dengan kasar menutup rak-rak di kiri-kanan Sri, seperti mengusir.
Mungkin, dalam hatinya, ia berkata, “Orang, toko mau tutup, ini masih milih-milih, akhirnya enggak jadi beli!”
Kejadian lainnya, pas di seberang pintu masuk utama Kebun Raya Bogor, Simpang-3 Jln. Surya Kencana – Jln. Otto Iskandardinata.
Di trotoar jalan itu, dahulu, ada kios-kios yang menjual pakaian, berbagai perlengkapan rumah tangga, dan sepatu.
Seperti biasa, Sri perlu waktu lebih untuk memilih dan mencoba sepatu-sepatu itu.
Ia bertanya kepada pemilik atau penunggu kios itu, “Ada model yang lain?”
Dengan ketus dan membuang muka, orang kios menjawab, “Ada tapi mahal!”
Menghadapi hal seperti ini, saya suka emosi; tapi Sri selalu bilang, “Sudah, kita pulang saja.”
Kedua, kepada saya. Waktu itu, kondisi keuangan yayasan sedang parah-parahnya (sesuatu yang sering kami alami). Anak-anak nunggak SPP ke sekolah-sekolah; stok sembako di dapur pun menipis.
Seorang kawan yang rumahnya luas, mau merenovasi bangunan tempat tinggalnya itu. Rumah besar itu mau diratakan sama sekali; dan akan diganti bangunan baru.
Ia menawarkan reruntuhan bangunan (orang Bogor menyebutnya puing; di Bandung: barangkal).
Kami, memang, menerima sedekah dalam bentuk apa pun, termasuk mebel bekas, perlengkapan dapur, atau bahkan sisa reruntuhan bangunan.
Kami menerima sumbangan dalam bentuk apa pun itu adalah; pertama, untuk menampung kelebihan barang –yang makan tempat di rumah pemberi; kedua, bisa kami atau tetangga –yang orang2 miskin- memanfaatkannya.
Sering, tetangga-tetangga itu, untuk membuat gubuk atu rumah kecilnya, menggunakan material bekas dari tempat kami: kayu, bambu, genteng; atau apa pun.
“Nanti, ongkosnya, saya yang bayar,” dia bilang.
“Boleh, kalau begitu.”
Karena bangunan besar sekali, dan 2 tingkat; truk mengangkut reruntuhan itu belasan atau puluhan kali.
Saya sampaikan tagihan dari sopir truk kepada kawan itu, jumlahnya 4 juta rupiah.
Apa yang terjadi? Dia hanya membayar setengahnya! “Saya hanya bisa kirim Rp2 juta,” katanya dengan enteng.
Dalam situasi serba kekurangan, disikapi seperti ini; saya kaget, sangat kesal, marah, dan sedih sekali! Tapi, tak bisa berbuat apa-apa. Saya meneteskan air mata.
Kok, ada orang setega ini! Untuk biaya sekolah dan dapur saja, sedang pontang panting; eeeeh, ini harus bayar ongkos pengangkutan puing!
Kami tak perlu “membeli” puing-puing itu! Kalau punya uang, mendingan beli beras; dan membayar kewajiban ke sekolah-sekolah.
Karena, nilai ongkos yang besar itu, barangkali ia menduga, saya me- mark up -nya, sehingga ia tidak memenuhi janjinya, membayar ongkos kirim.
Kalau harus memakan uang haram itu; percuma, kami, selama puluhan tahun, mengasuh anak2 yatim/duafa, pad`ahal –seperti kata Alm. Ustaz Syamsuddin:
“Pak dan Bu Jonih itu, untuk mengurus anak-anak yatim/duafa; mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang sangat banyak!”
Pada halaman persembahan dari buku ke-5, “BAHAGIA DALAM TIADA –Liku-Liku Hidup Bersama Anak-Anak Yatim”, Gramedia 2017; dengan mata membasah, saya menulis:
“Untuk istri dan anak-anakku, yang telah kehilangan bagian besar dari hak-haknya; untuk hidup layak, nyaman, dan berkecukupan; maafkan aku.”
Menjalani hidup seperti ini, yang benar saja, mau makan rezeki tak halal -dari ongkos angkutan truk!
Kalau harus membeli atau membayar biaya transportasinya, tak perlulah barang buangan itu, dikirim kepada kami!
Ketiga, mengenai anak-anak yatim /duafa kami. Dan, ini yang paling menyakitkan hati!
Sebuah keluarga kaya-raya di perumahan mewah Pondok Indah, Jakarta Selatan, suatu hari, bulan ramadhan; mengundang anak-anak yatim/duafa Ar-Rahmah untuk berbuka bersama di rumahnya.
Dua bus mengangkut 80 calon peserta berbuka, dari Bogor ke Jakarta Selatan. Saya, waktu itu, sedang ada tugas lain; istri saya yang menemani anak-anak..
Hidangan aneka makanan lezat, sudah tersaji di ruang tengah, di mana anak-anak dikumpulkan.
Sesama mereka, anak-anak, itu saling melirik, sambil mengarahkan pandangan ke menu di atas meja.
Bagi yang biasa rapat atau menginap di hotel-hotel berbintang, sajian menu menawan itu, laksana di tengah hari yang terik, kehausan, hotel menyambut dengan welcome drink minuman dingin.
Sambutan pertama dari pihak tuan rumah, membuat suasana tak nyaman. Dengan nada yang tidak ramah, dia berkata, “Jangan berisik, ya!”
Padahal, anak-anak kami terbiasa menerima tamu atau bertamu. Tahulah etika itu.
Kejutan berikutnya, datang ketika azan tiba; dan hadirin dipersilakan menikmati hidangan.
Anak-anak sudah siap mengarah ke meja yang penuh bermacam-macam masakan tadi.
Pasti, sudah terbayang di hati mereka, akan makan sangat enak, dari sajian yang sejak lama terlihat jelas di meja-meja dekat mereka.
Hal yang sangat diluar dugaan (bahkan di luar nalar), terjadi!
Anak-anak yatim/duafa yang datang jauh-jauh dari Bogor; sejak tiba dan masuk rumah pengundang, sudah disajikan pemandangan hidangan aneka makanan lezat –yang membuat mereka kegirangan bakal menyantap hidangan enak, rupanya….
….saat berbuka itu, mereka diarahkan ke meja lain, bukan yang sejak tadi mereka menatapnya, melainkan ke meja dengan hidangan makanan sederhana!
Anak-anak yatim itu tidak dijamu dengan makanan sedap yang terlihat di ruang tengah; tapi diberi menu berbuka yang beda, yakni dengan makanan menu sederhana.
Makanan mewah itu, ternyataa, disediakan untuk tamu lain –yang juga berbuka bersama: orang-orang kaya; bukan untuk anak-anak yatim yang miskin!
Anak-anak tampak kecewa sekali. Ini sangat menyakitkan! Kalaulah mau memperlakukan kami seperti itu, tak perlulah mengundang anak-anak yatim!
Semoga mereka, kemudian menyadari kesalahan fatalnya ini; dan, segera bertobat.
Alih-alih menyenangkan dan membahagiakan; tuan rumah itu, telah menyakiti hati anak-anak yatim dan duafa. Mereka bisa dilaknat Tuhan!
Ciomas, 04/12/25; waktu Dhuha. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar