Hassaram, Pos, De Zon, dan Kota Tujuh. Nganjang Ka Sakola – Jilid Dua

Bagian Dua

Lampu setopan berganti warna menjadi hijau; pasukan para sepuh melangkahkan kaki lagi. Di kanan jalan terdapat bangunan tua buatan Belanda.

Sampai tahun 70-an, halaman depan gedung dipenuhi kendaraan beroda dua yang parkir di situ. Hampir  atau seluruh orang yang menyimpan motor atau sepedanya adalah para pelanggan Kantor Pos & Giro.

Bangunan kokoh itu adalah tempat orang berkirim  surat, barang, uang; atau, yang sekadar membeli kartu pos, prangko, materai, dan amplop –berbagai jenis dan ukuran.

Pada bulan puasa –apalagi kalau sudah dekat lebaran, ruangan di dalam gedung, teras, hingga halaman parkir, dijejali orang –yang membeli dan mengirim kartu ucapan Selamat Idul Fitri

Saya masih ingat betul, ketika membantu orang yang akan mengeluarkan motor dari parkiran; saya tarik bagian belakang kendaran itu ke arah luar, sementara pemilik motor memegang stang, mengarahkan kendaraan untuk mundur ke tanah yang kosong.

Begitu mesin motor berbunyi, tanda segera akan pergi, pengemudi mengasih uang. Secara reflek, saya menerima. Alhamdulillah dapat rezeki.

Gedung tua ini menghadap Jln. Asia-Afrika dan di sampingnya adalah Jalan Banceuy. Kecuali yang mau berkirim telegram, semua pelanggan keluar-masuk kantor pos lewat bagian depan; pegawai pos menggunan jalan samping itu.

Halaman belakang  gedung jauh lebih luas dari yang depannya. Dahulu, kalau mau mengirim telegram –yang jumlah kata-katanya selalu dihitung dengan sangat teliti, agar murah ongkosnya; masuk ke  pintu belakang ini mengirimnya.

Sedikit ke utara, 2 menitan saja dengan jalan kaki, ada *Jalan ABC.* Banyak barang bekas, berbagai kelas, dari perabot rumah tangga hingga arloji merk bergengsi, dijual di ABC, di depan pertokoan.

Jalan ABC memotong Banceuy, ke arah Cikapundung, kiri jalan -kalau dari barat, adalah -orang bilang: “hotel prodeo”. Sekarang, penghuni “hotel” itu sudah dipindah ke bangunan baru di Jln. Soekarno-Hatta, Bandung Selatan; dan tempat menginap para narapidana ini, kini, menjadi pertokoan.

Sahabat lama saya, Haji Ence, pemilik toko barang-barang antik di Megamendung, Puncak; rutin ke daerah ini. Dia membeli Rolex di Jalan ABC, Banceuy; dan menjualnya ke Singapura.

Kalau ditanya orang, apakah pernah ke Bandara Changi, saya bisa jawab, “Pernahlah, baik memang tujuannya ke Singapura, atau transit dalam perjalanan ke Eropa atau Amerika.”

Ngomong-ngomong soal Singapura; Haji Ence, asal Panjalu itu, sekitar 2 tahun lalu, berkata kepada saya:

“Ke Singapura?  Sudah 24 kali! Tiap bulan saya ke sana, mengantarkan jam tangan.”  Sejak 2 tahun sebelumnya, Juragan barang  antik ini, hilir-mudik ke Tumasik.

Sebagai lulusan Sastra Inggris, ia cas-cis-cus jika bicara dalam bahasa asing itu. Mungkin, kalau menginggau, juga dalam bahasa Inggris.

Tapi, kalau dengan saya, orang yag kalau dikunjungi ke toko/rumahnya selalu ngajak makan, ini; ya bahasa Sunda saja, kecuali suatu hari, di sebuah warung, di Bogor arah Sukabumi, saat menghadiri pernikahan seorang keponakan.

Sambil minum kopi dan menyantap gorengan, untuk nge-cas bahasa Inggris saya yang dulu pernah hampir agak bisa; lalu, bertahun-tahun tak pernah digunakan, sehingga harus belajar lagi dari awal; kami mengobrol dengan ber-Inggris-Ingrisan.

Selesai denagn gorengan dan kopi di warung kampung itu, saya hampiri ibu penjual dengan bahasa Sunda, “Janten, sabarahaeun?”

Beberapa orang yang juga sedang berada di warung, kaget. “Saya kira, bapak-bapak ini orang asing!”

“Iya,” kata yang lainnya.


Kita kembali ke Asia-Afrika.

Jika di kanan jalan ada Kantor Pos dan Jalan ABC; di kiri ada toko kain sangat terkenal, dan sepanjang hari hampir tak pernah sepi dari pembeli.

Untuk bayar ke kasir, harus antre. Toko ini namanya *HASSARAM* . Pemilik toko, katanya, berasal dari India.

Beredar candaan di antara para pelanggan:

“Kalau sedang belanja di Hassaram, tubuh kita kena hembusan angin dari arah jalan raya atau sebab bau kimia dari gulungan kain, sehingga bersin-bersin; usahakan bunyi yang keluar dari mulut bukan acih…acih atau hasseum…hasseum, tapi hassaram…hassaram, maka pihak toko akan  memberi hadiah kain gratis!”

Sayang, Anda tak bisa mencobanya; sebab sekarang, tokonya sudah terlindas pelebaran  area Masjid Raya.

Di selatan Hassaram adalah area Masjid Raya, masjid paling kota dan paling besar di Bandung. Sejak area tengah alun-alun ditata oleh walikota yang Arsitek dan Planolog, ia menjadi rapi, dan enak dikunjungi.

Hampir tiap hari, terutama Sabtu dan Minggu, alun-alun dipenuhi wisatawan dari pinggiran Bandung,  hingga tamu-tamu dari kota-kota kabupaten di sekitarnya Paris van Java.

Apabila telah capek berjalan-jalan, mereka pada beristirahat di teras Masjid Raya. Banyak yang membawa perbekalan makanan  dan minuman dari kampungnya.

Sebagian orang menilainya sebagai kumuh. Saya sih melihatnya lebih ke kemanfaatannya.

Dahulu, waktu SMP itu, pada bulan puasa; kan, guru pelajaran  Agama ngasih tugas agar para murid menghadiri Kuliah Subuh.

Isi ceramah dan bukti kehadiran harus dilaporkan kepada guru. Asalnya, kehadiran ditandai dengan cap masjid; lalu berubah menjadi potongan kertas kecil seukuran stempel yang kita tempel sendiri pakai lem pada buku yang pada halaman tersebut dipakai mencatat materi khotbah.

Di Masjid Agung, waktu itu, kertas ini diberikan petugas kepada anak-anak sekolah, selesai mengikuti ceramah, setelah kita “menyumbang” ke “masjid” sekian rupiah.

Semakin besar angka pada uang, bisa semakin banyak dapat kertas tanda bukti kehadiran -dan bisa ditempelkan kapan pun, tanggalnya diatur sendiri.

Ini adalah pelajaran berbohong dan berbuat curang yang didapat dari lingkungan masjid. He…he…hey!

Sebelah Hassaram ke arah jalan raya, ada toko kain lain: *INDRA* –“Mahal Uang Kembali,” begitu kata yang keluar –dan terus diputar-putar, dari pengeras suara di toko itu.

Berjalan seratusan meter, masih di kiri jalan, ada penjahit sangat terkenal sejak puluhan tahun lalu –dan sekarang masih ada: “Kishordas  -Aki-aki sohor dan bedas,” kata iklan di radio.

Kami berjalan ke arah barat. Di sisi kanan terdapat sebuah toko besar, salah satu  tempat belanja orang kota, nama toko itu: *DE ZON* . Tulisan pada tembok bagian atas bangunan ini, hingga kini masih bisa ditemui: DE ZON NV.

Dezon dibangun tahun 1924. Beredar kabar di masyarakat bahwa Dezon NV menjadi tempat  mata-mata Jepang, ketika “saudara tua” –yang kejam itu, menduduki Indonesia.

Jalan sedikit lagi ke arah depan, sejajar dengn De Zon, ada toko paling besar se-Bandung Raya, waktu itu; namanya *TOKO KOTA TUJUH.*

Baik De Zon maupun Kota Tujuh sudah sangat lama tutup. Saat ini, bangunan bekas Toko Kota Tujuh dijadikan hotel: *Hotel Golden Flower.*

Kalau mau masuk atau keluar toko Kota Tujuh, bisa lewat depan maupun samping timur. Sisi timur ini berada di *Jalan Alkateri* , jalan kecil tapi lalu lintas dan orang-orang yang belanja sepanjang Alkateri, ramai sekali.

Seberang samping Kota Tujuh, ada sebuah toko yang menjual bermacam-macam mainan hingga perlengkapan olah raga, namanya *GOW  & GOW* . Saya membeli kacamata untuk berenang di toko ini.

Masih di Alkateri, tak jauh dari Gow & Gow, ada resto atau warung kopi ternama yang berdiri sejak 1930: *Warung Kopi Purnama.*

Di sisi kiri, ada jalan kecil yang menghubungkan Jalan Asia-Afrika dengan Jalan Dalem Kaum. Kiri-kanan jalur ini adalah pertokoan yang menjual berbagai produk kain. Hanya pejalan kaki yang bisa lewat.

Tempat belanja ibu-ibu ini namanya *Kota Kembang.* Ada puluhan toko-toko kecil sepanjang Kota Kembang.

Ummi, ibu kami, kalau sore mengajar mengaji; siang suka merajut. Produknya berupa tas-tas kecil seukuran telapak tangan, topi bayi, hingga baju hangat. Semua itu, dengan haken dan benang rajut, Ummi buat. Saya tukang belanja benangnya.

Waktu kecil, saya menduga bahwa warna jumlahnya 7 warna saja: putih, hitam, merah, kuning, kelabu, hijau, biru; atau tak sampai 10.

Saat memilih benang, warna apa yang mau dibeli, pedagang menyodorkan buku tebal berisi warna-warna yang tersedia. Ada 56 warna!

Di ujung Kota Kembang, pada Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang mulut Kota Kembang, terdapat pusat belanja sejenis; namanya *Jopankar* . Bisa kita singgung lagi, kalau jalan kakinya sudah di Otista.

Barisan paling depan sudah berbelok ke kiri, menapaki Jalan Oto Iskandar Dinata; rombongan kami, angkatan ’77, baru nyampai setopan. Sambil manarik napas, kita berhenti dulu. Panjang teuing oge, caritana!

Masih bersambung…..


Ciomas. 04 November 2024, bakda Isya. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar