HP Tuhan

Dalam rangka kerja sama dengan Perguruan Tinggi di dalam negeri, SKK Migas –tempat kami bekerja, dahulu, pernah mengundang puluhan pimpinan universitas ke Jakarta.

Di hadapan sekitar 30 Rektor, saya ditugaskan memimpin doa. Sebuah kehormatan.

Untuk alasan kepraktisan, naskah doa saya save tidak dalam bentuk kertas, tapi di telepon seluler.

Berbeda dengan mengisi kultum, khotbah Jumat, atau sharing_2 lainnya –yang berusaha memelihara _eyes contact dengan hadirin; dalam pembacaan doa –untuk kehati-hatian- wajah lebih sering mengarah ke teks doa dalam hp.

Sesekali saja, melihat ke arah depan,

Selesai berdoa, saya kembali ke tempat semula.

Kepala kantor yang sedang mengadakan pertemuan dengan Pimpinan Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi, memanggil saya untuk kembali ke posisi saat membacakan doa.

Kepada orang-orang nomor satu di kampusnya itu, beliau berkata, “Di hp Pak Jonih ini, ada no hp Tuhan!”

Para rektor tertawa. Para pimpinan universitas itu tahu, top manajement kami bercanda.

Tapi, yang namanya pimpinan, kendatipun bercanda, pasti ada maknanya.

Memang, nomor itu ada.

Kalau mau mencatatnya, nomor dimaksud adalah 34244-222-221.

Itu nomor langsung; kalau yang ada extension-nya, putar saja 42 atau 222.

“Nomor apa itu 34244-222-221 atau 34244-222-23?”

“Lima angka pertama adalah jumlah rakaat dari shalat2 Magrib, Isya, Subuh, Zhuhur, dan Ashar.

Enam angka berikutnya adalah rakaat shalat Tahajud + Witir.

Adapun nomor pesawat atau extention 42 atau 222. Ini adalah merupakan rakaat Shalat Tasbih -2×2 rakaat, ditambah Shalat Hajat -2 rakaat.

Ketika kita menelepon seseorang –yang nama kita tak ada di daftar kontaknya; atau, tiba-tiba telepon seluler kita berdering, tapi nomor yang menelepon tidak kita kenal; sangat mungkin telepon tidak diangkat.

Bisa juga, nyambung tapi suara terputus-putus. Sinyalnya jelek.

Begitu juga ketika kita “menelepon” Tuhan; bisa termasuk sebagai yang tak dikenal; atau, suara kita terputus-putus. Sinyal buruk!

“Bagaimana ini?”

“Ada cara agar saat nomor telepon genggam kita sebagai penelepon, dikenal Tuhan; atau begitu nyambung, sinyalnya bagus, suaranya jelas.”

“Gimana, tuh?”

“Selain memutar nomor di atas, sering-sering memutar nomor-nomor lainnya!”

“Maksudnya?”

“Laksanakan dan rutinkanlah additional shalat alias shalat-shalat sunah, antara lain: Syukrul Wudhu, Tahyatul Masjid, dan Qabliyah-Ba’diyah.”

Kalau sering komunikasi dengan Tuhan, makan jika suatu waktu memerlukan “bertemu” atau “berbicara” dengan-Nya, lebih mudah.

Dahulu zaman pemerintahan Gus Dur, banyak tamu dari desa, berkunjung ke istana. Di antaranya, ada yang bersarung dan pakai sandal jepit.

Rupanya, mereka itu adalah teman lama Gus Dur, dulu, puluhan tahun lalu, waktu sama-sama mesantren di pondok.

Karena hubungannya dekat, kendati sudah jadi kepala negara, dan tamu yang datang rakyat biasa, bahkan dari desa, dan berpakaian ala kadarnya; kedua pihak bisa bertatap muka.

Nah, ada juga cara agar kita menjadi dekat atau agak-agak dekatlah, dengan Tuhan.

“Bagaimana caranya?”

“Dengan lebih banyak sujud dan rajin berpuasa.”

Ada kawan saya, ia menduduki posisi nomor 1 di kantornya. Dia CEO di sebuah perusahaan sangat besar! Namanya pimpinan tertinggi, sangat-sangat banyaklah pekerjaannya.

Selesai bekerja di kantor, saat pulang, ia bawa juga pekerjaan ke rumah. Sehabis mandi, makan malam dan mengobrol dengan keluarga, ia bekerja lagi hingga lewat tengah malam.

Ketika ia selesai dengan pekerjaan di rumahnya; dan bersiap-siap hendak istirahat; istrinya bangun. Ia shalat malam dan berdoa, antara lain, untuk kelancaran pekerjaan suaminya.

Ini kerja sama yang hebat!

Suaminya bekerja keras untuk kantor, untuk negara, untuk rakyat; istri menjalin komunikasi yang Mahakuasa, dengan Tuhan; memohon kekuatan, keselamatan, dan keberkahan kepada Yang Maha Segala..

Kami, hampir-hampir “menirunya”.

Jika pada contoh di atas, sang suami bekerja keras, saya mah kerjaannya jalan-jalan ke sana kemari, baca-baca buku, sesekali menulis –tak jarang sampai larut malam.

Istri saya, nyaris tiap hari berpuasa. Jadwal puasanya sih, selang sehari: Puasa Daud. Tapi, kami kan sangat sering bepegian.

Dalam perjalanan, kami makan di warung2, di kampung atau di kota.

Agar suasana makan-minum nyaman, saya minta ia berbuka.

Di hari lain, ketika berada di rumah, tidak bepergian, ia qadha puasa-puasa yang batal tadi.

Jadi, dari 365 hari itu, ia full Puasa Daud.

Dalam setahun, ia lebih banyak berpuasanya daripada tidak puasanya.

Setengah tahunnya ia berpuasa sunah; bulan Ramadhan dia berpuasa; belum lagi puasa-puasa sunah lainnya

Lantaran sangat rajin berpuasa, di samping shalat malam tiap hari, dibanding suaminya, ia lebih dekat dengan Tuhan.

Maka, kalau saya ada suatu keperluan; kepadanya, minta didoakan. Ini kerja sama juga.

Cara lain, ada juga. Sering-seringlah bersilaturahmi dengan ahli ilmu dan ahli ibadah.

Orang-orang saleh dan berilmu itu memancarkan keberkahan bagi siapa saja yang mendekat kepadanya.

Mereka bisa berada di pesantren, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di perjalanan, pun di tempat-tempat lainnya: di permukiman -di desa atau di kota.

Sangat boleh jadi, orang-orang itu berpenampilan seperti orang kebanyakan; tidak menunjukkan kesalehan dan ke-’aliman-nya.

Ketika mereka berdoa, bukan hil yang mustahal, kita diikut-sertakan dalam doa-doanya.

Itu, antara lain, cara “menelepon Tuhan”. Wallahu a’lam

Ciomas, 30/10/25. Masih periode awal Dhuha. Salam, Jr.

Note: Seandainya, ada yang memerlukan diskusi hal shalat2 sunnah di atas, silakan japri.

Tinggalkan komentar