Sekitar 80 anak kelas 1, 2, dan 3 SD Sekolah Alam Ciomas, dengan riang, menyanyikan lagu Guruku tersayang, karya Melly Goeslaw
*Guruku Tersayang*
Pagiku cerah matahari bersinar
Kugendong tas merahku dipundak
Selamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan kelasmu
menantikan kami
Guruku tersayang
Guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terima kasihku……
Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala maaf kau berikan.
Mendengar kata “guru”, saya menjadi teringat kembali kisah Imam Malik dan Khalifah Harun Al Rasyid.
Suatu hari, penguasa, Khalifah Hartun Al Rasyid ada keperluan kepada ahli ilmu agama paling besar di zamannya.
Ia mengutus ponggawa untuk menemui, menjemput, dan membawa Imam Malik bin Anas ke Istana.
“Khalifah ingin bertemu Anda, Tuan Guru?”
“Ada keperluan apa raja kepada saya?”
“Khalifah ingin bertanya masalah agama?”
قُلْ لِأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْعَى إِلَيْهِ وَأَمَّا الْعِلْمُ فَلَا يَسْعَى إِلَى أَحَدٍ
“Katakan kepada Amirul Mukminin bahwa *seorang pencari ilmu yang seharusnya datang kepada ilmu, bukan ilmu yang mendatanginya*.”
*“Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi*. Silakan dia datang ke sini?”
Khalifah yang masyhur itu dalam sejarah itu, akhirnya mendatangi Imam.
Sebagai Kepala Negara, ia tidak ingin ketidaktahuannya tentang ilmu agama dan pertanyaannya kepada Imam didengar banyak orang. Dia ingin bicara 4 mata, ia minta agar jamaah meninggalkan tempat itu.
إِذَا مُنِعَ الْعِلْمُ عَنِ الْعَامَّةِ، فَلَا خَيْرَ فِيهِ لِلْخَاصَّةِ
“Jika ilmu dihalangi dari orang awam, maka tidak ada kebaikan di dalamnya untuk kalangan khusus,“ Imam merespons.
Terpaksa khalifah mengalah. Ia membiarkan jamaah tetap berada di majelis, bersama dia.
Saat Harun Al-Rasyid datang, Imam sedang mengajar murid-muridnya. Malik bin Anas duduk di kursi dan para murid di lantai.
“Kalau Anda mau bertanya hal ilmu, berarti Anda murid dan saya guru. Guru duduk di kursi, murid di lantai. Silakan duduk.”
Kisah ini mengajarkan tentang keutamaan ilmu dan kepentingan mempelajarinya; juga tentang mulianya seorang guru.
Dalam pesan kepada anak-anak kami yang ditulis di buku kedua saya: BUKU TENTANG KEBAIKAN (Gramedia, 2013; national best seller), a.l.:
…..
Hadirilah majelis-majelis ilmu
Walau itu jauh dari tempat tinggalmu
Karena dengan itu kamu bisa banyak tahu
*Ilmu datang kepadamu melalui para Guru*
Karenanya, *hormatilah mereka selalu*
Setiap selesai salat fardhu
selain aku dan ibumu
*sebut juga semua guru*
*dalam doa-doamu*
*Atas jasa merekalah, kamu tahu*
*ini dan itu.*
Tanpa bekal pelajaran dari mereka,
apa jadinya kita
Dan, setelah pengetahuan ada dalam dirimu
walau tak banyak, amalkanlah untuk
kemaslahatan sesama
SELAMAT HARI GURU. Semoga para guru dihormati dan dimuliakan selalu.
Ciomas, 25 November 2024. Salam, Jr
Tinggalkan komentar