Ingin Jadi Penulis

Kemarin, Jumat dan Sabtu, 2 hari berturut-turut, saya bulak-balik Bogor-Bandung.

Kakak pas di atas saya, Kang Cecep, akan menikahkan putri sambungnya, di Soreang, Bandung Selatan.

Karena hari Sabtunya ada rencana kegiatan lain, kami berangkat ke Bandung pada hari Jumatnya.

Dengan diwakili istri dan seorang anak, mereka menuju Bandung Selatan.

Sementara, saya ada keperluan bertemu seorang kawan di Bandung Timur; mumpung “hari kerja”, mau menunaikan janjian ketemu yang tertunda.

Mengapa harus hari kerja berkunjungnya?

Kalau hari libur, ada administrasi tertentu yang perlu dilalui.

Saya baru sadar bahwa Jumat kemarin, tanggal 16 Januari 2025, adalah –ternyata- ia hari libur juga!

Singkat cerita, istri dan anak telah menyelesaikan kegiatannya; saya pun sudah beres dengan teman ini. Kami janjian bertemu di dekat pintu tol Pasteur, untuk kembali ke Bogor.

Sore hari, kami tiba kembali di Ciomas. Setelah bersih2 diri, shalat Magrib sambung Isya; saya membaca, memberikan komentar, mengoreksi, dan menyampaikan saran atas tulisan seorang sahabat di Salman Menulis -Komunitas menulis para alumni Masjid Salman ITB.

Lalu, merekam perjalanan Jumat siang itu dalam bentuk tulisan, hingga menjelang tengah malam.

Saya buka telepon genggam; ada pesan yang belum terbaca: “Ceu Hj. Empat, istri Alm, Kang H. Komaruddin, wafat.” Kang Komar adalah kakak sepupu saya.

“Harus ke Bandung lagi, besok habis Subuh. Ceu Empat meninggal dunia,” kepada istri saya berkata.

“Ibu masih capek. Bapak sendirian saja, ya!”

“Siap!”

Setelah shalat Subuh, menghin dari waktu2 macet, saya berangkat ke Bandung dg kendaraan umum.

Agar praktis juga, wiridan dilakukan di perjalanan.

Ada 3x miscalled , dan pesan: “Ingin ketemu, mau minta nasihat,” seorang ustaz berkirim pesan.

Dalam hati, “Apalah awak ini!”

Kami, kemudian, berbicara via telepon.

“Seorang keponakan saya, diterima di Kementerian ….. Ia mengikuti prajabatan, di sebuah tempat nyaman, di kawasan Puncak, Bogor.”

“Terus?”

“Di malam penutupan, ada acara baru: menghangatkan badan dengan meminum….. Keponakan saya menolak. Ia, lalu, dikucilkan.”

“Lanjut!”

“Sekarang, anak itu pulang ke kampung; dan, tidak mau balik lagi ke Jakarta.”

“Kejadian itu, sebaiknya dilaporkan.”

“Dia tak berani. Ia memutuskan, mau keluar kerja.”

“Katanya, ingin jadi penulis saja. Mau nulis novel,” lanjutnya.

“Saya bilang, ‘Nah, Uwa punya teman, seorang penulis hebat.’”

“Saya mau bawa ponakan itu, menemui Kang Jonih di Bogor. Kapan kira2 waktu yg tepat untuk mendapatkan arahan?”

“Jadi penulis mah, tidak perlu mengkhususkan diri dengan kegiatan hanya tulis-menulis! Sambil lewat saja.”

“Menulis bisa sambil mengasuh anak2 yatim, jalan2 ke sana kemari, silaturahmi kepada saudara dan teman2, menjenguk orang2 sakit, ngobrol2 santai dengan tetangga dan kawan2 lama, atau sambil melakukan aktivitas2 lainnya.”

“Tahu, Tere Liye, yang novel2 barunya selalu muncul hampir tiap bulan? Dia itu akuntan profesional” saya terus ceroscos bicara.

Di sela2 mengisi acara pernikahan di Purwokerto, Gege -seorang kemenakan, mahasiswa hukum sebuah kampus terkemuka, di Jakarta, bilang, “Wah, kebetulan ketemu, Om! Cita2 terakhir aku adalah ingin menjadi penulis.”

“Kalau mau menjadi penulis , tak usah dijadikan cita2. Apalagi cita2 terakhir. Bisa sambil mengerjakan hal lain!”

“Kamu sungguh2 saja belajar, perdalam bidang yang kamu geluti. Jadilah lawyer yg baik!”

“Nanti, setelah menjadi praktisi hukum, kamu akan menangani banyak kasus. Itu bisa jadi bahan tulisan menarik!”

Benar, ada orang2 seperti Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, dan Habieburrahman el-Siraji –para penulis jenius yang novel2nya selalu laris; yg mengkhususkan diri dg aktivitas menulis.

Tapi, karya2 mereka, memang, sudah selalu ditunggu para pembaca.

Atau, seperti para guru2 menulis saya, al.: Andreas Harefa, Her Suharyanto, Eddy Zaqeus –waktu itu, tergabung dalam Written Schoolen; Dodi Mawardi –Sekolah Menulis Kreatif Indonesia; dan Budi Sutejo -Indonesia Menulis.

Juga, beberapa wartawan dari Tempo, AJI, dan Suara Pembaruan.

Mereka itu, hidup dan mati bersama menulis dan menulis. Jiwanya sudah menyatu dg kegiatan tulis-menulis.

Apabila, suatu hari, sudah seperti para novelis top dan guru2 saya itu; bolehlah menjadikan aktivitas menulis sebagai pilihan utama.

Kembali ke pembicaraan dengan ustaz itu, saya ulangi lagi, “Tak usah datang ke Bogor; kita janjian saja ketemuan di Bandung!”

Menjadi teringat kembali dengan kawan yang sudah menulis 30 buku itu; sedangkan dia sibuk juga dg aktivitas sesuai bidang keilmuannya: Teknik Kimia, TI, Teknik Gas, dan Manajemen.

Ia pun terus membuat lagu2 dan memperdalam ilmu keagamaan, serta mempraktikkannya.

Di sela2 obrolan, saya bilang kepadanya:

“Memang dg berbicara langsung kepada hadirin, komunikasi kita lebih hidup. Akan tetapi, “masa edar” dan cakupan area “pendengar”/pembaca, sangat terbatas.”

Kalau kita menulis, “masa berlaku” itu tulisan akan sangat panjang. Demikian juga dg cakupannya, bisa jauh melampaui ruang di mana kita berada.

Kata pepatah Latin: “Verba volant, scripta manent”.

Spoken words fly away, written words remain.

Kata2 yang diucapkan akan lenyap, berlalu, terbang bersama angin; apa2 yang ditulis akan abadi sepanjang masa.

Sambil melaksanakan bermacam-macam aktivitas. Mari kita menulis!

Ciomas, 18/01/’26; menjelang azan Zuhur berkumandang. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar