Sahabat saya, corporate secretary of YPM Salman ITB, Bang Buroqi T. Siregar, menulis:
“Mengikuti anjuran Kang Jonih utk mencatat khutbah Jumat, siang td khatib di masjid tempat saya sholat Jumat menyampaikan 3 nikmat yg diberikan Allah Swt kpd manusia:
1. Nikmat Ijad: nikmat bereksistensi; hadirnya kita sbg manusia di bumi.
2. Nikmat Imdad: nikmat diberikannya sarana kehidupan spt udara, air, makanan dsb.
3. Nikmat Irsyad: nikmat petunjuk/hidayah; kehadiran Rasulullah Muhammad saw. sbg …. penunjuk kebenaran.”
“Mau tanya ke Kang Jonih terjemahan irsyad yang pas, apa ya?”
Untuk Bang Buroqi, saya menggunakan Kamus Mahmud Junus dan Al-Bisri
Kata “irsyad” berasal dari: rasyada – yarsyudu – rusydan; artinya: dapat petunjuk, lurus dan baik, cerdas, dewasa.
Arsyada: menunjukkan jalan lurus
Istarsyad: minta petunjuk
Raasyid – rasyiid: yang cerdas, jalan yang lurus
Irsyaad: menunjukkan
Ar-rasyadu – warrasyadaa: hal mendapat petunjuk kebenaran
Mursyid: penunjuk jalan, penasihat
Mursyid adalah guru yang membimbing perjalanan ruhani murid untuk sampai kepada Allah Swt.
Seorang mursyid menuntun murid mulai proses pembersihan dan penyucian diri hingga mencapai pemahaman ma’rifat.
Untuk mencari lema ini, saya buka Al-Mu’jam Al-Mufahrasy. Inilah hasilnya:
Kata-kata yang seakar dengan “irsyad” dalam Al-Quran:
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ …
“…agar mereka selalu *berada dalam kebenaran.* (QS. Al-Baqarah: 186)
قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ …
“…Sesungguhnya telah jelas *jalan yang benar* daripada jalan yang sesat…(QS. Al-Baqarah: 256)
يَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ
“…(yang) memberi *petunjuk kapada jalan yang benar* …”(QS. Al-Jin: 2).
فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَٱدْفَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ أَمْوَٰلَهُمْ
“Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah *cerdas* (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (QS. An-Nisa: 66)
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Musa berkata kepada Khidhr, ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku *ilmu yang benar* di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”’ (QS. Al-Kahfi: 66)
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ
“…Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim *hidayah kebenaran* … (QS. Al-Anbiya: 51).
وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“… sempurnakanlah bagi kami *petunjuk yang lurus* dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10) .
وَقُلْ عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
“…dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat *kebenarannya* dari pada ini”’. (QS. Al-Kahfi: 24).
أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا
“…. ataukah Tuhan mereka menghendaki *kebaikan* bagi mereka.” (QS. Al-Jin: 10).
فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ تَحَرَّوْا۟ رَشَدًا
“Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih *jalan yang lurus* .” (QS. Al-Jin: 14)
قُلْ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu *kemanfaatan* .”’(QS-. Al-Jin: 21).
وَمَآ أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ
“… dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain *jalan yang benar* .” (QS. Al-Ghafir: 29).
وَقَالَ الَّذِىۡۤ اٰمَنَ يٰقَوۡمِ اتَّبِعُوۡنِ اَهۡدِكُمۡ سَبِيۡلَ الرَّشَادِۚ
“Dan orang yang beriman itu berkata, ‘Wahai kaumku! Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu *jalan yang benar* .”’ (QS. Al-Ghafir: 38)
أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ
“…. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti *jalan yang lurus.”* (QS. Al- Hujurat: 7).
أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ
“Tidak adakah di antaramu seorang *yang berakal* ?” (QS. Hud: 78)
إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلْحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ
“Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi *berakal* .”(QS. Hud: 87)
وَمَآ أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ
“…padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah (perintah) *yang benar.”*
وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
“…dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi *petunjuk* kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17).
Dari konteks ayat-ayat di atas, irsyad -secara umum- berarti jalan atau petunjuk kepada kebenaran.
Jika ia berarti petunjuk, bagaimana hubungannya dengan kata “huda”?
Menurut metode semantik Toshihiko Izutsu, kata “irsyad” memiliki makna dasar yang sama dengan “huda”, yaitu petunjuk.
Kata irsyad dan huda pada mulanya hanya bermakna secara harfiah. Setelah datangnya Islam kata irsyad dan huda digunakan dalam pengertian religius, petunjuk ke jalan yang benar, jalan Allah Swt.
Namun, dilihat dari makna relasional melalui penafsiran, kata irsyad dan huda digunakan dalam hal yang berbeda, tergantung konteksnya.
Ada pandangan bahwa kata irsyad diumpamakan sebagai batu yang memenuhi telapak tangan yang digunakan orang Arab untuk memasang tanda-tanda di jalan sebagai petunjuk bagi _travelers_ ; sedangkan huda adalah jalan, padang pasir itu.
Seorang kawan, geolog, bertanya kepada saya, “Kang, mengapa dalam Quran ayatnya berbunyi:
وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ
“Dan mintalah tolong kalian (kepada Allah) dengan sabar dan shalat!”
Sabar dulu, baru shalat. Mengapa tidak shalat lebih dahulu, baru sabar.
Lantaran yang bertanya adalah seorang geologist/geolphysicist, saya menjawab dengan bahasa geologi:
“Sabar adalah _space of accomodation_ , dan shalat adalah formasi batuan yang mengisi cekungan tersebut.” Sabar adalah cekungan sedimentasi; shalat batuan yang diendapkan di dalamnya.
Kalau menyimak pendapat Toshihiko Izutsu; barangkali, demikian juga hubungan antara huda dengan irsyad. Huda lebih luas, irsyad cenderung spesifik.
Wallahu’alam.
*Ref. artikel yg sy tulis @13/9/24: “Kesempatan di
Hari Jumat”.
**Kata murid berasal dari: araada-yuriidu-iraadatan-muridan; artinya yg menginginkan cq. ilmu dari gurunya.
Ciomas, 14 Septrember 2024, bakda Isya. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar