Isal Lulus Pesantren

Bagian II dari For My Lovelu Father & Mother


Satu persatu nama santri disebut.

Nilai kelulusan dari semua murid dibacakan menyertai nama mereka.

Seperti pada banyak perlombaan, juara-juara harapan disebutkan di permulaan, diikuti pemenang ketiga, peringkat kedua, dan yang menduduki posisi paling atas dipanggil belakangan.


Ada yang mendapat nilai tammat (selesai), disambung dengan hasan (lulus),  jayyid (baik); lalu, jayyid jiddan (baik sekali), mumtaz (cumlaude).

Ada juga, yudisium syarof (summa cumlaude), tetapi sangat jarang yang mendapatkannya.

“Muhammad Faisal Abdurrahman Rahmat,” nama itu disebut.

Saya melirik ke arah kiri depan, tempat anak laki-laki paling besar itu duduk bersama teman-temannya. Ia berdiri, siap maju ke depan untuk diwisuda oleh kiai.

“… mumtaz!” seru pembawa acara.

Saya merunduk, mengucapkan syukur ke hadirat ilahi rabbi.

Anak itu, alhamdulillah, lulus ujian. Ia, bahkan, mendapatkan yudisium cum laude.

Tidak terasa, butir-butir air mata menetes, membasahi pipi.


Pada hari ketujuh dari kelahirannya, di Kampung Cibolerang, Cigondewah, Kopo, Bandung Selatan, saat kami melaksanakan marhabaan dalam syukuran akikahan, saya mengumumkan nama bayi itu: Muhammad Faisal Abdurrahman Rahmat.

Kata Muhammad, tentu saja, kami ambil dari Rasulullah saw.

Semoga sifat-sifat kebaikan Nabi saw. dalam segala hal, walau setetes-setetes, menempel pada nama yang kami sandangkan.

Faisal, kalau menurut ejaan aslinya ditulis faishal (baca: faishol) adalah sinonim dengan al-faruq, pembeda antara hak dan batil; dan semoga dia berada di yang pertama.

Abdurrahman, saya menggunakan referensi surah Al-Furqan ayat 63-68 dalam Al-Quran:

“Dan (ibaadurrahman) hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil mengganggu mereka, mereka (membalas dengan) mengucapkan kata-kata (yang mengandung) salam.

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka…”


Dengan nama itu, kami berharap, bayi ini, kelak, menyerap sifat-sifat yang dikandung ayat tersebut.

Adapun kata yang terakhir, selain itu adalah nama belakang ayahnya; juga semoga, di mana pun ia berada, memberikan rahmat dan kasih sayang kepada manusia di sekitarnya.

Para wisudawan/wisudawati, kemudian menyalami guru-guru mereka, para ustaz, ustazah, dan kiai.

Setelah itu, mereka mendongak-dongakan kepala, memelototkan mata, sambil membuka telinga lebar-lebar; mencari-cari kedua orangtuanya: ayah dan ibu mereka.

Begitu berhasil melihat yang dicari, walau dari jauh, sekitar seribu wisudawan/wisudawati  berbahagia ini, meringsek, menuju ayah dan ibunya.

Di antara meraka ada yang tertawa ceria, sebagian menggigit bibir menahan ledakan tangis bahagia.

Beberapa tidak tahan bersuara, ditengah hiruk pikuk itu, mereka berteriak-teriak,  memanggil-manggil ayah dan bundanya.

Begitu melihat kami, dalam kerumunan ribuan orang, Isal berusaha mendekat, walau tidak mudah.

Saya isyaratkan ia menemui ibunya terlebih dahulu, yang berada beberapa meter di sebelah kanan saya; baru setelah itu kepada bapaknya.

Kami berangkulan, bersyukur kepada yang Mahakuasa, anak kami berhasil menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Isak tangis, gembira, dan haru bercampur menjadi satu.

Masih terbayang hari-hari pertama anak kedua ini di pesantren, enam tahun lalu.

Suatu hari, kami menjenguknya dan makan nasi padang bersama di saung para penjenguk.

Saat akan meninggalkan pondok, kami tatap wajah anak mungil ini, dan bertanya, “Isal betah di sini?”

Sambil menunduk, anak itu menganggukan kepala, tetapi air matanya bercucuran.

Kami segera melambaikan tangan, meninggalkan kompleks pesantren.

Kami pun, sebenarnya, menitikkan air mata.

Bagaimana tidak, anak baru lulus Sekolah Dasar, ditinggal di tempat yang jauh dari rumah, hidup mengurus sendiri, dengan fasilitas minimalis!

Orangtua mana yang tak tergetar hatinya, harus berpisah dengan pujaan hati yang masih mungil. Namun, untuk ilmu, demi pendidikan untuk bekal hidup dia, kami harus “tega”.

Di samping pelajaran yang padat, 100 % kurikulum Diknas, 100 % pelajaran pesantren; di pondok, untuk makan harus antre, mandi pun antre, sementara shalat tidak boleh telat!

Sedikit saja melanggar tata terbit, hukuman sudah menanti.


Waktu di kelas reguler, satu kamar diisi 24 orang santri.

Agak khas di ranjang-ranjang para santri di pesantren, kutu busuk penghisap darah, merajalela.

Nyamuk pun dengan setia menemani mereka.

Jam tidur yang tidak sepanjang anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya, itu pun tekor lagi oleh gangguan kutu busuk dan nyamuk.

Kalau ada sakit-sakit sedikit, anak-anak tangani sendiri.

Mereka baru boleh pulang, enam bulan kemudian, pada liburan semester.

Jangan harap bisa meminjam anak untuk suatu urusan keluarga!

Untuk izin membawanya ke dokter atau rumah sakit, jika mereka terserang suatu penyakit, ada prosedur yang harus di tempuh.

Apabila  pihak pesantren menilai bisa menangani si sakit, mereka tetap tak boleh pulang.

Pada hari-hari awal liburan semester, anak-anak itu kurus kerontang. Ya, sebab kegiatan yang sangat padat itu, sementara istirahat dan makan terbatas, di samping  menunya sangat sederhana.

Sebab, memang biaya yang dipungut pesantren pun relatif tidak banyak.

Sangat murah untuk ukuran biaya seorang santri bisa belajar, menginap, dan mendapat makan tiga kali sehari.

Mereka bisa makan ikan, sebulan sekali, pun sudah alhamdulillah!

Untung para orangtua –yang tinggalnya tidak terlalu jauh, hanya beda kota saja dari lokasi pesantren, 1 atau 2 minggu sekali, ketika anak-anak baru satu atau dua tahun mondok, membawa nasi bungkus atau timbel dari rumah.

Kami biasanya membawa nasi padang sejumlah penghuni kamar.

Ada juga santri –yang karena suatu alasan, nyaris tidak pernah dijenguk orangtuanya. Mereka sangat senang saat anak kami mengirimkan makanan untuknya.

Menjelang habis masa liburan, anak-anak santri bertambah berat badan dengan sangat signifikan!

Di pesantren, pelan-pelan, bobot tubuhnya akan berkurang, hingga enam bulan berikutnya. Demikian seterusnya.

Apa pekerjaan utama para santri ketika libur pesantren?

Saya kira semua sama: makan, tidur, makan, tidur; lalu nonton ke bioskop! Makan dengan tenang dan menu yang agak bagus, tidur nyenyak.

Bangun pas azan saja; dan sesudah shalat, tidur lagi. Sore, pergi ke bioskop. Itulah yang membuat mereka gemuk, untuk sementara.



Demi menjaga ketabahan anak, saya dan istri menangisnya di dalam kendaraan, setelah tidak terlihat oleh Isal.

Hari ini, enam tahun kemudian, anak yang dulu bercucuran air matanya, menangis lagi.

Tangis kegembiraan setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di pesantren, juga tangis kesedihan harus meninggalkan pondok, berpisah dengan teman-teman santri dan para guru mereka: ustaz, ustazah, dan kiai.

Juga, tangis bahagia bisa berkumpul kembali bersama keluarga, bisa makan dengan porsi banyak dengan tidak tergesa-gesa; dan bisa menikmati tidur nyenyak!

Bersama teman-teman dan orangtua santri lain, Isal bersalaman dan berfoto bersama.

Seorang ibu, orangtua dari santri lain, mengucapkan terima kasih kepada Isal.

Rupanya, dulu, Ihda, putra ibu itu, pernah tidak betah di pesantren. Kepada orangtuanya, ia minta pindah ke sekolah umum.

Waktu itu, mungkin kelas 1 SMP, menurut ibu dari Ihda – Isal sendiri sudah lupa, Isal menyemangati temannya ini agar tetap di pondok, sehinga sahabatnya ini tidak jadi meninggalkan pesantren.

Ihda adalah lulusan terbaik Daar el-Qolam pada wisuda tahun 2014 ini. Ia lulus dengan yudisum syarof.

Belum lama keluar kompleks pesantren, anak ini minta berhenti di sebuah warung nasi, ia ingin segera melampiaskan nafsunya: makan sepuasnya!


Pesantren Daar el-Qolam, Jayanti, Gintung, Tangerang; dan dalam perjalanan Tangerang-Bogor, 01 Mei 2014.


Salam, Jr.

Tinggalkan komentar