Beberapa bulan menjelang kelulusan SLTA, para pelajar muslim, sebelum mendaftar ke jurusan yang dituju atau fakultas yang= diharap, agar tak salah memilih dan menghindari tak tepat jurusan, orangtua mereka menganjurkan agar anak-anak yang mau jadi mahasiswa itu melakukan shalat istikharah.
Ia adalah shalat 2 rakaat yang sehabis salam membaca doa khusus, bertanya kepada Allah, mohon dibimbing ke pilihan yang tepat, mendaftar ke jurusan apa yang bagus bagi mereka.
Shalat itu, dilakukan lagi ketika para mahasiswa mau memilih judul atau tema skripsi. Setelah wisuda dan melamar ke banyak perusahaan atau instansi, selain yang tidak dipanggil di mana pun, ada sarjana-sarjana baru ini yang diterima di lebih dari 1 kantor.
Banyak yang langsung menentukan salah satu perusahaan, ada juga yang beristikharah lebih dahulu.
Tak sedikit yang melanjutkan ke jenjang Magister, S2. Ketika mau mengambil konsentrasi bidang yang akan dipelajari lebih, apakah memilih Hukum Bisnis, Magister Manajemen, Marketing, Strategi Bisnis, Ilmu Politik, Lingkungan, atau mengambil Bidang Teknis; perlu menentukan pilihan lagi.
Sesudah mapan bekerja, hendak membina keluarga; ada 2 gadis atau banyak perjaka yang mengajak membina bahtera rumah tangga.
Para orangtua, supaya mendapatkan menantu yang akan melancarkannya jalan kebahagiaan keluarga besar di sini –kini, hingga di alam sana -kelak; bisa juga membantu beristikharah.
Semacam SWOT Analysis, mudah sih dilakukan. Tapi, kan, dalam menyatukan 2 insan dari latar belakang tak sama, pada kenyataannya, tak semudah seperti membalikkan telapak tangan atau sekadar dengan melakukan analisis bisnis.
Ada hal-hal yang di luar jangkauan manusia. Hanya Dia yang tahu segalanya: yang lalu, saat ini, atau yang kelak akan terjadi.
Saat telah lama berumah tangga, ekonomi keluarga berada dalam tahap makmur; lalu, mau melakukan investasi untuk bekal anak-anak sekolah, nanti.
Apakah sebaiknya bertanam saham, ikut dalam agribisnis, atau membuka usaha kafe; tak ada salahnya bertanya lagi.
Lagi-lagi, kalau mau aman, berkonsultasilah kepada yang Mahahli, melalui fasilitas yang disediakan-Nya itu: Istikharah.
Hidup ini bisa simpel, sangat sederhana; bisa juga penuh warna, ujian, rintangan, tantangan, halangan –yang untuk melangkah atau mengambil sikap di dalamnya, dengan keterbatasan kemampuan manusia, sangat diperlukan campur tangan Tuhan.
Datanglah kepada Dia di waktu-waktu shalat fardhu, sepertiga terakhir dari malam -ketika suasana sunyi sepi, atau pada waktu-waktu khusus.
Tambahkan, sebagai hidangan tambahan dari menu utama yang lima dan sepertiga malam –jika diperlukan- makanan ringan berupa Shalat Istikharah.
Ia suka ketika kita lebih banyak meminta dan sering bertanya. Perbendaharaan dan kasih sayang-Nya meliputi langit dan bumi.
Dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه ia berkata, “Rasulullah ﷺ mengajarkan kami cara mengerjakan *shalat istikharah* dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kami Surah Al Qur’an.
Beliau bersabda, ‘Jika salah seorang di antara kalian hendak melakukan sesuatu, hendaklah terlebih dahulu mengerjakan shalat dua rakaat selain shalat fardlu, lalu berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ
_AllaaHumma innii astakhiiruka bi ‘ilmika_
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu
وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ،
_Wa astaqdiruka bi qudratika_
Dan aku memohon kekuasaan-Mu dengan kudrat-Mu
وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ
_Wa as-aluka min fadhlikal-‘azhiim(i)
Dan aku memohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung
فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ
_Fa innaka taqdiru wa laa aqdiru_
Karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa
وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ
_ wa ta’lamu wa laa a’lamu
Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu
وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ
_Wa anta ‘allamul-ghuyuub(i)_
Dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْر
_AllaaHumma in kunta ta’lamu anna Haadzal amra_
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini
خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى
_Khairullii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii_
baik untukku, dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya bagiku,
فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ
faqdurHulii wa yassirHulii tsumma baariklii fiiHi
maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku
وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ
_Wa in kunta ta’lamu anna Haadzal-amra_
dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini
شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى
_syarrulii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii_
buruk untukku, dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya bagiku
فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ
fashrifHu ‘annii washrifnii ‘anHu
maka jauhkanlah urusan ini dariku; dan jauhkanlah aku dari urusan ini
وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ
_waqdurlii al-khaira* haitsu _
dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun
. كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى
kaana tsumma ardhinii
kemudian, jadikanlah aku rida menerimanya
(HR. Bukhari)
*Note: وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ bisa dibaca waqdurlii al-khaira atau di-washal: waqdurlil-khaira
Ciomas, 10 Januari 2025; bakda Shalat Jumat. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar