Kebahagiaan Seorang Tukang Ojeg, Kemurahan Seorang ART

Setelah menulis artikel hal berkaitan dengan napas terakhir, sesudah berbincang dengan anak dan istri sambil menyantap makanan yang putri kami siapkan – a very very late breakfast or an early lunch, sehabis mencuci beberapa lembar pakaian dan menjemurnya; dengan naik ojek motor, saya menuju stasiun Bogor.

Saya turun di L. A.  -Lenteng Agung. Dalam perjalanan dari stasiun menuju Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan gojek juga; saya berbicara dengan driver kendaraan roda dua itu.

Yudi, sopir motor itu, berasal dari Yogya tapi sudah lama di Jakarta. Ia tertarik dengan obrolan hal anak-anak yatim, kalau suatu hari ke Bogor, ingin mampir ke Yayasan Ar-Rahmah.

Di kios Bengkel Hardisk, ia menunggu. Lalu, mengantar kembali saya ke L. A.

Tiba di stasiun Bogor, saya naik jembatan penyeberangan, memotong Jln. Kapten Muslihat. Di sisi dan badan jembatan, banyak orang berjualan aneka macam barang hingga buah-buahan..

Saya membeli 2 bungkus buah menteng –sedikit manis, rasa asamnya banyak tapi putri kami dan ibunya, suka sekali buah ini; seplastik buah kecapi, dan dua kresek alkesa.

Orang Bandung menyebut buah berwarna kuning dan sangat lengket ini dengan sawo walanda. Walanda adalah sebutan untuk orang Belanda dalam bahasa Sunda. Orang Bogor menyebut buah itu dengan alkesa.

Total tentengan sekitar 5 kg. Padahal, sebelum pulang ke Ciomas, saya ada perlu dulu ke arah Jln. Djuanda, dekat Kebun Raya. Agak repot juga dengan barang bawaan ini.

“Ojek, Pak?” di atas jembatan itu, seseorang menawarkan jasa angkutan.

Ketika saya melirik kepadanya, ia langsung mengambil bungkusan berat itu, “Sini saya bawakan, Pak.”

“Alhamdulillah. Sip!”

“Tapi, saya minta diantar ke situ dulu, arah Jln Djuanda,” saya menunjuk.

“Siap, Pak!”

Setelah selesai urusan; kami, kemudian, dalam rintik hujan, menuju Ciomas. Hampir dalam setiap perjalanan berojek ria, saya selalu menanyakan hal di mana driver ojek tinggal, dan lanjut dengan obrolan lainnya.

“Saya rumah di Sukabumi.”

“Wah, jauh sekali! Di mana Sukabuminya?”

“Parungkuda.”

“Ooo…itu mah lebih dekat ke Bogor daripada ke kota Sukabumi.”

“Saya pernah ke Sukabumi dari depan Hotel Grand Savero, depan Kebun Raya, ke Alun-Alun Kota Sukabumi, 4 jam, dan hampir sepanjang perjalanan turun hujan,” saya bercerita.

Sabtu, pagi hari, saya mengisi acara di hotel tersebut; dan sorenya ada janji ketemuan di kota Sukabumi. Mengejar waktu, saya naik ojek motor.

“Saya mah pernah, Pak, dari Bogor antar penumpang ke Tasikmalaya.”

“Wah, jauh amat!”

Waktu itu sedang pandemi dan jalan banyak yang ditutup. Ada penumpang, seorang pembantu, dari Jakarta sudah sampai Bogor, mau mudik ke Tasik.

Tapi, kan, semua jalan ditutup, _lockdown_. Kata petugas, “Nggak bisa ke luar kota. Kamu mau pulang kembali ke Jakarta atau dikarantina di sini 2 minggu?”

Dia nangis. Katanya, “Sudah 2 tahun tidak pulang kampung.”

Saya berbisik sama dia, “Bilang saja mau kembali ke Jakarta; terus, kamu jalan ke arah belakang sana, nanti ketemu saya di situ.”

“Akhirnya, saya antar pakai motor ini.”

“Berapa jam, tuh?”

“Kami berangkat dari Bogor pk. 09, tiba di Rajapolah, Tasik, pk 06 esok harinya.”

“Lama sekaliiii!”

“Kan semua jalan ditutup. Saya masuk jalan-jalan kecil. Gang-gang di dalam kampung, sampai akhirnya tiba di Rajapolah. Dari situ, ke rumah dia, masih 1,5 jam lagi.”

“Seru banget!”

“Sore, pk. 4, dari Tasik saya berangkat lagi menuju Sukabumi, dan tiba di rumah pukul 5 pagi.”

“Berapa ongkos ojek Bogor-Tasik?”

“Saya tidak mematok tarif. Berapa saja saya mau terima. Tapi, dia ngasih 3,5 juta!”

“Guede buangeeeeet!”

“Alhamdulillah, si tetehnya baik sekali. Saya juga dibekali beras sekarung dan bermacam oleh-oleh kampung lainnya.”

“Benar-benar baik benar itu penumpang.”

“Ia sangat senang bisa pulang kampung; ayah-ibunya juga sama, bisa bertemu anak. Semua berterima kasih sama saya.”

“Dipakai apa uang sebanyak itu?”

“Waktu itu, kan, seminggu lagi lebaran. Beli pakaianlah buat istri dan anak-anak.”

“Eh, nama kamu siapa?”

“Qori. Pakai “qi” nulisnya.”

“Pintar ngaji, dong!”

“Alhamdulillah,” dengan _pede_ ia menjawab.

Mendapat perlakuan sopan dan sikap ramah, serta pembayaran ongkos ojek sedemikian besar dari penumpangnya, betapa senangnya itu supir ojek. Bahagia tak terkira!

Di sisi lain, penumpang yang rindu menggebu, ingin bertemu ayah-ibu, sebab sudah 2 tahun tidak bisa bertemu.

Kemudian, ada seorang sopir ojek yang berhasil “melarikan” dia  hingga tiba di kampung halaman, walau dengan perjuangan yang sangat melelahkan -21 jam bermotor ria.

Sebagai ungkapan terima kasih, kepada driver gojek hebat itu, si teteh ART menghadiahkan 3,5 juta rupiah! Jumlah yang sangat tidak kecil, apalagi bagi seorang pembantu. Sungguh kemurahan yang luar biasa!

Paling tidak, ada 2 pelajaran bisa kita petik dari pengojek dan pembantu ini:

Kesiap-sediaan membantu orang lain untuk mencapai tujuannya, walau dengan pengorbanan yang sangat besar -dari seorang tukang ojek

Kesadaran diri telah dibantu dan kepandaian berterima kasih atas jasa yang diterima -dari seorang yang secara status sosial (dan pendidikan), berada di tingkat, maaf, sangat rendah (tapi berkepribadian tinggi) –seorang ART.


Ciomas, 21 Januari 2025, bakda Isya. Salam hangat dari Ciomas, Jr.

.

Tinggalkan komentar