April 2012, Yayasan Ar-Rahmah mendapat silaturahmi sebuah keluarga besar dari Jakarta. Rombongan tamu mengadakan syukuran bertambah usia bagi kepala keluarganya.
Sehari sebelumnya, area Ar-Rahmah dibersihkan dan dirias, sehingga menjadi lebih bersih dan tambah indah
Ada ceramah dari ustaz cilik –yang kata orang, suka muncul di televisi.
Dihadirkan pula beberapa orang yang membuat ceria suasana. Masih kata mereka, para penghibur ini sering terlihat di tivi.
Ibu Dermawati berkata kepada saya, “Pak Jonih, anak-anak mau kami kasih _quiz_. Siapa yang bisa menjawab dengan tepat, akan dapat hadiah umrah.”
“Silakan, Bu.”
Pertanyaannya sederhana; pengetahuan-umum saja. Dua anak Yusuf dan Ade terpilih.
Waktu itu, di tempat kami, ada anak bernama Ade dan Dede. Yang terakhir pintar mengaji, sering jadi imam shalat.
Bakda Magrib, Dede mengajar baca Quran teman-temannya.
Ade, salah satu anak yang akan medapat hadiah umrah, menghampiri.
Ia berkata, “Pak, si Dede kan hari-harinya mengajar mengaji; saya mah tidak. Boleh enggak hadiah umrahnya untuk Dede saja, saya tidak usah?”
Sambil mengarahkan kepada Ibu dermawati itu, saya jawab, “Kamu Tanya Ibu, boleh tidaknya hadiah ini diover ke yang lain!”
Ade menerangkan kepada penderma. Ibu baik hati itu memutuskan, “Sudah, tiga-tiganya saja berangkat!”
Yang akan memberangkatkan umrah tersebut, menyampaikan kepada saya dan istri, “Pak Jonih, Bu Jonih, tolong anak-anak ini ditemani ke tanah suci.”
Dua hari sebelum keberangkatan, keluarga dermawan/dermawati tersebut, datang lagi kepada kami di Ciomas.
“Ini dolar, real, dan rupiah untuk Bapak dan Ibu Jonih; ini untuk anak-anak bertiga.”
Kepada 3 anak itu, beliau berkatan, “Kalian, jangan ganggu Bapak dan Ibu Jonh, ya. Masing-masing sudah ada bekal sendiri-sendiri!”
Segala dokumen, perbekalan, dan keperluan lainnya, sudah disiapkan. Kami didaftarkan pada sebuah biro perjalanan haji dan umrah, Holy Land, namanya.
Ditemani 1 orang dari pihak pemberi rezeki, tangga 23 April 2012, kami pun berangkat umrah.
Alhamdulillah, enak juga hidup ini. Banyak yang gratis-gratis!
Dulu, Januari 2005, kami pergi haji atas biaya urunan dari teman-teman kerja, sehingga. ONH-nya gratis, tis…tis…tis!
Umrah, ada yang membiayai. Gratis lagi!
Zaman masih mahasiswa, dapat beasiswa. Bukan karena pintar –prestasi akademik tak istimewa, datar-datar saja; tapi sebab kekurangan biaya, saya mencari bantuan..
Disuratilah perusahaan/lembaga yang sekiranya bisa membantu pembiayaan, agar studi bisa selesai hingga lulus kuliah.
Dipanggil, diwawancarai; dikasihlah beasiswa. Jadi, kuliahnya seperti gratis.
Ketika masih bekerja, sering dinas ke banyak kota dan negara. Semuanya atas biaya kantor alias gratis, haratis tea!
Termasuk mengikuti kursus singkat, 3 bulan, di University of Tulsa, Tulsa City, Oklahoma, USA; atas beasiswa dari USAID -United State Agency for International Development.
Juga, 2 bulan pelatihan di Stavanger, Norwegia; _scholarship_ dari NORAD -The Norwegian Agency for Development Cooperation, Norwegian Ministry of Foreign Affairs.
Kita kembali ke perjalanan umrah. Pembimbing ibadah dari biro perjalanan adalah Ustaz Opan Abu Al-Ghifari.
Satu sore, bakda Ashar, dibimbing Ustaz Opan, kami pergi menuju lokasi Gua Hira.
Di kaki bukit, rombongan dari berbagai negeri, yang sedang turun dan akan naik ke gua, melihat kondisi fisik istri saya*, dengan suara keras-keras, mereka menasihati, agar tidak melanjutkan perjalanan.
*Waktu usia 2-3 tahun, Sri, terkena polio. Kaki kanannya lebih kecil dan lebih pendek dari yang kiri. Ia pincang. Kalau berjalan, pakai tongkat.
“Kasihan, tidak akan kuat!” mereka berkata-kata.
Kakinya, memang ada kekurangan; tapi mentalnya, mengalahkan banyak orang yang fisiknya normal.
Saat masih muda, ia pernah mengikuti Bandung Lautan Api, berjalan kaki 50 km, mengelilingi bibir kota Bandung, tanpa berhenti sama sekali. Nonstop!
Belum begitu lama, 2 tahun lalu; kami ke Nusa Tenggara Timur. Ketika naik Gunung Padar di Labuan Bajo, ia tiba lebih dahulu dibanding suaminya yang _ngos-ngosan_, di belakangnya.
Walau jalannya pelan, Sri pun sangat bersemangat ketika mendaki menuju perkampungan tradisional di puncak bukit: Wae Rebo.
Di Bogor dan sekitarnya, dia terbiasa naik turun area perbukitan-perlembahan.
Kendati sudah tidak muda lagi, tapi lantaran sangat sering dan senang sekali jalan-jalan ke area pegunungan, wajahnya _fresh_ berseri!
Kembali ke tanah suci, dengan berjalan perlahan, tibalah kami di puncak bukit, di mana pada salah satu lerengnya, terdapat Gua Hira.
Jadi, gua tidak berada di posisi puncak, melainkan turun sedikit ke arah tepi bukit. Orang geologi menyebutnya titik ini dengan _flank_ , bukan _peak_
Pas di titik tertinggi, areanya tidak meruncing, tapi berupa dataran relatif luas, dan terdapat batu yang bisa digunakan untuk rebahan.
“Ada yang menarik di sini!”
“Apakah itu?”
Pada bagian paling atas dari bukit, seorang Pakistan buka warung; dan berjualan mie instan produksi Indonesia!
Kesempatan tak disia-siakan.
Sembari menikmati terang-benderangnya lampu-lampu yang menghiasi Kota Makkah, di atas batu besar itu; mie rebus, panas, dikasih sambal yang banyak, dan dikucuri kecap manis –yang menambah sedap itu makanan, kami sikat!
Selesai menghangatkan badan dengan mie instan, perjalanan dilanjutkan, menuju Gua –tempat Kanjeng Nabi ﷺ, dahulu, menyepi dan mendapatkan wahyu pertama.
Gua itu tidak luas, tapi cukup buat berdiri satu orang. Saya masuk ke bagian dalam gua, istri di terasnya. Kami shalat di Gua Hira.
Ustaz murah senyum dan rendah hati ini, membaca juga buku pertama saya, buku haji tapi dari sisi kemanusiannya: “MALAIKAT CINTA –Sisi Lain Ibadah Haji yang Menyentuh Hati”.
Walau tak banyak, dibuku itu, disinggung juga mengenai sejarah Kanjeng Nabi ﷺ dan para _shahabat_
“Saya baca di bukunya, Pak Jonih senang sejarah, ya?” ustaz bertanya.
“Kalau mau, kita bisa mengunjungi dua tempat bersejarah, Turbatusy-Syifa, dekat Makkah; dan Gua Uhud, di daerah Uhud.”
“Mau!”
Ustaz membawa kami ke sebuah area kebun kurma.
“Nah, dulu waktu Perang Badar, banyak _shahabat_ terluka. Nabi ﷺ usapkan tanah ini ke bagian yang sakit dari para _shahabat_. Dengan mukjizatnya, luka itu sembuh seketika.”
Kami, lalu, dibimbing menuju satu gua sempit, pada sebuah bukit batu tak berpohon sama sekali. Banyak domba dan kotorannya di permukaan bukit.
Saya masuk ke dalam gua.
“Dahulu, saat Nabi ﷺ bagian mulutnya ditombak pasukan Quraish hingga gerahamnya rontok, para _shahabat_ mengamankan beliau ke gua ini. Darah Rasulullah ﷺ bercucuran,” Ustaz Opan menerangkan.
Perang Uhud terjadi ratusan tahun silam. Tapi, ajaibnya, tetesan darah Kanjeng Nabi ﷺ masih meninggalkan wangi, hingga hari itu!
Tidak mungkin orang Arab atau pemerintah setempat menetes-neteskan minyak wangi ke batu-batu di gua itu. _Wong_, orang datang berziarah saja ke situ, dilarang!
Setelah merasa cukup di dalam gua, saya persilakan istri masuk. Tapi, baru saja ia mau melangkah ke arah dalam, terdengar bunyi sirine meraung-raung.
Rupanya, ada petugas Kemenag _sono_, di dalam mobil dinas, berteriak-teriak agar kami segera turun dan keluar dari tempat itu.
Bagi mereka, apa yang kami lakukan adalah perbuatan syirik!
Lantaran dikejar jeritan sirine, harus cepat-cepat keluar dari situ; agak panik, tak sempat saya _nge-plot_ lokasi gua bersejarah itu.
Sekian belas tahun telah berlalu. Kemarin siang, bakda Zuhur, ustaz pembimbing umrah itu, beserta anak dan adik iparnya, bersilaturahmi kepada kami.
Ustaz, walau banyak ilmunya, tetap rendah hati. Sudah dua kali beliau ke Ciomas.
Harusnya, kami sebagai bimbingannya yang datang ke rumah beliau. Eeeeh, ini malah guru yang mendatangi murid!.
Kedatangan tamu sumber ilmu, tentu senanglah kami.
Ciomas, 22 Juni 2025; waktu Dhuha. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar