Pagi ini, seorang kawan lama di Bandung, mengirim pertanyaan:
“Kang, mau tanya. Ada ustaz menyarankan agar saat bulan puasa ini, kita usahakan membaca Qur’an sebanyak-banyaknya hingga khatam, karena pahalanya yang begitu besar.
Yang mau saya tanyakan, seandainya selama bulan Ramadhan, kita tidak mengejar target khatam, tapi belajar Quran dengan membacanya secara tartil. Lalu, belajar tafsirnya.
Kegiatan ini akan memakan waktu yang panjang, sehingga untuk khatam satu kali pun, dalam sebulan ini, mungkin tak tercapai..
Mana yang lebih baik, berusaha khatam berkali-kali atau hanya sempat membacanya beberapa juz atau surah saja, tapi dengan bacaan yang bagus, berusaha memahami artinya, serta belajar tafsirnya?”
“Ada yang terlihat mata, ada yang mendapat makna. Ada syariat, ada hakikat.
Secara kasat mata dan secara syariat, membaca sebanyak-banyaknya kitab suci di bulan suci, disukai oleh yang di langit tinggi; dan akan “tampak” meraup sangat banyak pahala. Bagus sekali!
Secara makna dan secara hakikat, membaca Qur’an dengan tartil, berusaha memahami arti, dan belajar tafsirnya -kendatipun hanya beberapa ayat- adalah lebih utama.
Allah Mahatahu dan Mahabijaksana.” _Wallahu a’lam_.
Ciomas, 7 Maret 2025; menjelang jumatan. Salam, Jr.
Tinggalkan komentar