Magis Gontor

Di warung yang menjual nasi pecel, sop ayam, dan tahu-tempe, sekitar seratus meter dari tempat dibacakannya pengumuman hasil tes masuk Gontor; saya bertemu seorang bapak yang juga menemani anaknya tes ke Gontor.

Dari pembicaraannnya dengan mbak pemilik warung, saya tahu bahwa orangtua ini berasal dari Jawa juga.

“Maaf, Bapak dari mana?” ia bertanya kepada saya.

“Dari Bogor, Pak?”

“Kalau Bapak?”

“Saya dari Bengkulu.”

“Dari logat bicaranya, tadinya saya menduga Bapak orang Jawa.”

“Aslinya Purbalingga, tapi sudah dua puluh lima tahun hidup di Bengkulu. Anak-anak saya semua dilahirkan di Bengkulu.”


Seorang lelaki dan wanita setengah baya masuk kedai itu. “Pesan soto ayam dua, Mbak.”

Setelah pasangan tersebut menempati tempat duduknya, bapak yang dari Bengkulu bertanya kepada tamu yang baru datang.

“Sampeyan dari mana?”

“Dari Bengkulu.”

“Oh, sama saya juga dari sana. Bengkulunya mana, Pak?”

“Curup.”

“Saya pun dari Bengkulu dan dari Curup juga. Saya di Gang Guru-guru. Bapak suka datang ke rumah Pak Haji Anwar?”

“Ya.”

“Nah, kediaman saya sebelah rumah beliau.”

Mereka saling berkenalan.

“Bapak yang dari Bogor, siapa namanya?”

“Saya Jonih Rahmat, Pak.”

“Bapak?”

“Saya Ali Imron. Saya guru SMA di Bengkulu.”

“Maaf, kalau Bapak?” saya melirik kepada suami-istri yang barusan bergabung di warung.

“Nama saya Ibnu?” Ibnu artinya anak laki-laki. Jadi, pasti ada nama belakangnya. Karenanya, saya melanjutkan pertanyaan.

“Ibnu apa, Pak?”

“Ibnu Syueb.”

“Bapak asalnya dari Jawa juga?”

“Tidak, saya asli Bengkulu. Tapi teman-teman saya sangat banyak orang Jawa. Jadi, sehari-hari saya sering berbahasa Jawa.”

“Kalau saya memang asal Jawa.” Pak Ali Imron menyela. “Tepatnya,  dari Cilapar, Kaligodang, Purbalingga.”

“Saya dari Pasar Atas, Curup, Bengkulu,” Pak Ibnu menjelaskan.

Sebelum Pak Ali Imron bertanya hal pekerjaan, saya bilang, “Saya penulis buku.”

“Buku apa?”

“Buku pertama berjudul Malaikat Cinta; kedua Buku tentang Kebaikan. Keduanya diterbitkan Gramedia.

Buku ketiga, Bahagiakan Dirimu dengan Membahagiakan Orang Lain, mudah-mudahan kelar akhir tahun ini. Sekarang saya sedang menulis buku kelima.”

Pak guru tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Ia menyerahkan ponsel-nya kepada Pak Ibnu. “Tolong aku difotokan dengan Pak Jonih!”

“Oh dia guru, makanya ingin berfoto dengan penulis,” seru Pak Ibnu.

“Bagi guru mah menulis buku itu fardhu ‘ain. Suatu keharusan.

Kan, sehari-hari berhadapan dengan para murid dengan berpegang pada buku yang diajarkan!” sambil tersenyum saya merespons kata-kata Pak Ibnu untuk Pak Ali Imron.

Pak Ali dan keluarga Pak Ibnu bercerita bahwa di antara para pendaftar ke  Pesantren Gontor, terdapat beberapa orang yang telah lulus SMA.

Mereka, sebenarnya, secara jenjang pendidikan setingkat dengan yang telah menyelesaikan pelajaran di pesantren.

Tetapi, mengapa lulusan SLTA itu mendaftar lagi ke pendidilan setingkat lulusan SMP? Bukankah mereka kehilangan waktu tiga hingga empat tahun?

“Saya dengar, malah, ada dua sarjana yang juga mengikuti tes masuk,” Pak Ali menjelaskan.

Ahmad Fuadi dalam buku Negeri 5 Menara menulis bahwa salah seorang dari enam sekawan yang sama-sama diterima di Gontor bersama dia adalah lulusan SMA.

Tampaknya,  ada saja orang-orang yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan SLTA, mendaftar lagi sebagai santri Gontor.

Orang-orang itu biasanya sengaja mengambil pendidikan pesantren, walau telah lulus SMA karena mau menimba ilmu agama untuk bekal mengurus lembaga pendidikan keagamaan yang dirintis orangtua mereka.

Dulu, anak-anak itu telanjur masuk pendidikan umum hingga tingkat SLTA, bukan ke pesantren.

Lalu, mengapa pula mereka memilih Gontor; bukan pesantren lainnya.

Sebenarnya, bisa saja para santri itu belajar di pesantren lain, hanya kita tidak tahu informasinya. Tapi Gontor, memang punya karisma dan daya tarik luar biasa.


******


Menjelang kelulusan SMP di Pesantren Daar el Qolam, Gintung, Tangerang; Muhammad Fikri Dzikri Rahmat atau biasa dipanggil dengan Iki, anak ketiga kami, menyampaikan bahwa untuk tingkat SMA-nya, ia ingin melanjutkan ke Pesantren Gontor.

“Mengapa harus ke Gontor? Kan, di sini juga sistem pendidikannya sama dengan Gontor!”

Oh ya, Pesantren Daar el Qolam didirikan oleh K.H. Arief Rifai.

Beliau adalah alumnus Gontor.

Semasa nyantri di pondok, karena akhlak dan prestasinya menonjol, Arief menjadi murid kesayangan Kiai Zarkasy.

Oleh sebab itu, ketika ia menyelesaikan pendidikan enam tahunnya dan dilanjutkan dengan pengabdian satu tahun, Kiai Zarkasy memperpanjang masa pengabdian Rifai menjadi dua tahun.

Alumnus baru ini pun diangkat menjadi asisten pribadi kiai. 

Ia kemudian, seperti banyak alumni Gontor lainnya, mendirikan pesantren dengan sistem pendidikan yang sama dengan Gontor.

“Iki mau ke pesantren yang tantangannya lebih dari yang sekarang.”

“Perlu dipertimbangkan lebih matang, kalau pindah ke Gontor.”

“Mengapa?”

“Pertama, jarak dari pondok ke rumah di Bogor.

Di Darqo, kalau ada keperluan mendadak, bisa telepon.

Bapak/Ibu bisa segera datang.

Kemudian, dua minggu atau sebulan sekali, Ibu bisa menemui Iki.

Kalau di sana, kan, jauh sekali. Ibu bisa berkunjung, mungkin hanya enam bulan sekali?” Ibu anak itu menjelaskan.

“Tidak apa-apa.”

“Kedua, masa penerimaan santri baru tidak sama dengan lembaga pendidikan lain.

Kalau sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren di luar Gontor menerima murid baru sesuai masa penerimaan sekolah pada umumnya, yakni menyambung dengan saat kelulusan jenjang sekolah sebelumnya.

Di Gontor, masa penerimaan pada bulan Syawal. Jadi, berpotensi kehilangan waktu enam bulan atau setahun.

“Tidak masalah!”

“Ketiga, Gontor menerima lulusan SMP/setingkat, tetapi masa belajarnya menjadi empat tahun, bukan tiga tahun.

Satu tahun tambahan digunakan untuk menyesuaikan dengan yang lulusan tingkat SMP Gontor. Jadi, tambah lagi satu tahun”

“Enggak apa-apa.”

“Keempat, di Daar el Qolam, masa pengabdian bersifat opsional, pilihan.

Boleh diambil, boleh tidak.

Jadi, total pendidikan pesantren di sini enam tahun.

Di Gontor, semua lulusan wajib mengabdi, minimal satu tahun.”

“Iki tahu itu. Tidak apa-apa.”

“Juga, karena yang daftar datang dari mana-mana, ribuan; Iki belum tentu lulus tes. Jika gagal diterima, mau bagaimana?

Kembali ke sini akan malu; dan mungkin tidak diterima lagi.”

Anak itu terdiam sejenak. Ia, lalu, berkata lagi, “Tapi Iki ingin ke Gontor!”

“Kalau tidak lulus, Iki harus nurut sama Bapak/Ibu, disekolahkan ke mana pun?” Iki mengangguk.

“Iki mau jadi kiai?” saya bertanya

“Enggak. Mau jadi pelukis.”

“Nah, ini dia! Mau melukis mah tak usah ke Gontor, atuh!”

“Iki mau ke Gontor!”

“Setelah lulus dari Gontor, nanti, kalau diterima; mau meneruskan kuliah ke Timur Tengah?”

“Ingin kuliah di Jepang?”

“Wah, ieu mah rada lieur!”

“Kalau mau ke Jepang, sekolah di SMA saja.

Terus, dari kelas satu, sepulang sekolah kamu ambil kursus bahasa negeri matahari terbit itu!”

“Tapi, Iki mau ke Gontor!”

Saya saling lirik dengan istri. “Iki tahu bagaimana ketatnya disiplin di Gontor?”

“Sudah baca di buku Negeri 5 Menara.”

“Iki sudah siap?”

“Insya Allah.”

“Kalau begitu, silakan. Bapak dan Ibu mendukung keinginan Iki. Siapkan segala sesuatunya!”


Kawan-kawan, sebegitu kuat magis Gontor menarik minat calon-calon santrinya. Para peminat itu berasal dari berbagai penjuru tanah air.

Jauh-jauh mereka datang ke Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, luar kota Ponorogo.

Padahal, di kota-kota mereka berasal, pesantren, bertebaran. Pantas kalau tiap bertemu orangtua murid, pertanyaan pertama yang muncul, pasti, “Dari mana?”

Itulah Gontor! Dia punya daya tarik luar biasa: Magis Gontor!



Stasiun Balapan, 11 Agustus menjelang tengah malam;  dan dalam Kereta Mutiara Selatan Solo-Bandung, 21 Agustus 2014, dini hari.

Tinggalkan komentar