Makna Minal’Aidin Wal Faizin

Pak Haji, “Minal aidin, ya!” seorang teman yang biasa membersihkan dan merapikan ruangan para pekerja, mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.

“Wah, saya belum minal aidin! Kemarin kita tidak bertemu,” seru kawan yang lain.

“Pak Jonih, tolong berikan pencerahan mengenai arti “minal ‘aidin wal faizin”.

Penjelasannya agar ditulis di milist kita,” pinta Mas Winarto, sahabat senior di Pertamina EP-goweser tangguh, berbadan tegap -melalui pesan pendek.

Sebelum kita berbicara mengenai arti atau asal muasal “minal ‘aidin wal faizin”, perlu kiranya membahas hal definisi mengenai apa yang dimaksud kalimat, khususnya, dalam bahasa Arab.

Mengapa?

Sebab, materi yang akan kita kupas adalah berasal dari “kalimat” dalam bahasa Arab.

Kendatipun kata “kalimat” ditulis sesuai dengan bahasa aslinya, akan tetapi pengertiannya “kalimat” dalam bahasa Arab berbeda dengan lema “kalimat” dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Arab yang dimaksud “kalimat” adalah sama dengan “kata” dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan kalimat yang kita pahami dalam bahasa Indonesia, orang Arab menyebutkannya sebagai “jumlah mufidah” atau “kalam”.

Jadi, kalau kita berkata “Mohon maaf lahir dan batin” adalah merupakan satu kalimat; orang Arab menyebutnya lima “kalimat” atau satu jumlah mufidah.

“Minal ‘aidin wal faizin” walau itu bukan kalimat sempurna, karena ada kata yang hilang, yang seharusnya mendahului kata-kata tersebut; kita mengenalnya sebagai satu kalimat.

Orang-orang berserban menyebut susunan kata-kata itu terdiri atas empat kalimat.

Penjelasan di atas, sekadar info sajalah. Dalam pembicaraan selanjutnya, “kalimat” yang bahasa Arab itu, kita sebut “kata” saja, biar lebih familier.

Sekarang kita mulai akan masuk ke pokok bahasan: مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ

Ada dua kata utama dalam “kalimat” di atas, yakni: ‘Aaidiin dan Faaiziin.

Kedua kata itu “diindonesiakan” menjadi “Aidin wal faizin” (bunyi panjangnya diabaikan dan tanda petik satu yang membedakan bunyi untuk ‘ain dan hamzah, dihilangkan)

Kata ’Aaidin (bunyi ‘a-nya panjang) berasal dari: ‘Aada – ya’uudu – ‘audan – ‘auudatan mempunyai arti yang sama dengan raja’a – yarji’u – rujuu’an, yaitu kembali.

Bisa juga berasal dari: ‘Aada – ya’uudu – ‘audan – ‘iyaadan – ‘iyaadatan, artinya menjenguk.

Dalam konteks kalimat di atas, arti pertama lebih mengena daripada yang kedua.

‘Aaidin bentuk asalnya adalah ‘Aaiduun. Akan tetapi karena didahului oleh huruf jar “min”, maka berubah menjadi ‘Aaidiin.

Kata ini “diindonesiakan” menjadi Aidin (bunyi panjang dan tanda petik satu dihilangkan). Ia adalah bentuk jamak dari ‘Aaid atau Aid, artinya orang yang kembali (ism fail/pelaku). “Min” artinya dari

Jadi, Minal Aidin artinya adalah “…dari orang-orang yang kembali

Selanjutnya, mari kita lihat kata kunci kedua: Faaiziin atau Faizin

Ejaan asli dari Faizin adalah Faaiziin (bunyi “a” pada “fa” dan “i” pada “zi”-nya panjang).

Faaiziin semula bentuknya Faaizuun. Ia menjadi kasrah karena ada “min” yang mendahuluinya, yakni sebelum kata “Aaidiin” di atas.

Kedua kata ini (Aaidiin dan Faaiziin) dihubungkan oleh Wau Athaf yang “menyeragamkan” baris atau bunyi vokal dengan di depannya.

Faaiziin berasal dari kata:

Faaza – Yafuuzu – Fauzan, artinya menang, sukses, kemenangan.

Ism fail dari Faaza adalah Faaiz, kalau tunggal; Faaizuun, jika jamak (lebih dari dua).

Artinya adalah orang yang menang (Faaiz) atau orang-orang yang menang (Faaizuun).

Dalam bahasa Arab, selain bentuk tunggal (mufrad) dan jamak (jama’); ada juga bentuk dua (mutsanna).

Seperti ‘Aaidiin yang ditulis Aidin, Faaiziin pun “disederhanakan” menjadi Faizin.

Perlu diperhatikan, selain ada perubahan panjang pendek bacaan dan hilangnya tanda petik tungggal, adalah penggunaaan huruf “d” pada Aidin dan “z” pada Faizin.

Huruf Arab yang dipakai pada “Aidin” adalah “dal” yang padanan bahasa Indonesianya adalah “d”.

Sedangkan pada “Faizin” yang digunanakan adalah “zay” yang padanan bunyi dalam huruf latinnya adalah “z”.

Jadi, penulisan yang sesuai dengan huruf aslinya adalah MINAL AIDIN WAL FAIZIN.

Sekali lagi:

Kata pertama Aidin, bukan Aizin, bukan pula Aidzin.

Kata kedua Faizin, bukan Faidin, buka juga Faidzin.

Akan lebih baik kalau pada huruf “A” pada “Aidin”: didahului dengan tanda petik (‘Aidin) untuk menunjukan bahwa itu bunyi “ain”, bukan “hamzah”

Dengan demikian Minal Aidin Wal Faizin, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “…dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang”.

Apa maksudnya? Ada beberapa pemahaman. Kabarnya, serombongan orang kembali dari Perang Badar.

Di antara anggota pasukan ada yang gugur di medan perang, dan terdapat pula yang bisa kembali ke Madinah, bertemu keluarganya.

Saat pasukan kaum muslimin yang menang dalam Perang Badar mendekati Madinah, penduduk kota berbondong-bondong menyambut mereka.

Para pahlawan itu berkata bahwa mereka baru kembali dari perang dan mereka mendapat kemenangan.

Mereka adalah bagian dari yang kembali (dari medan perang) dan mereka adalah orang-orang yang menang.

Apa kaitannya pengucapan Minal Aidin Wal Faizin dengan berakhirnya bulan puasa dan memasuki Hari Raya Idul Fitri?

Orang-orang yang berpuasa adalah orang yang berperang melawan hawa nafsu dengan menahan makan, minum, dan hubungan suami istri.

Di samping itu juga mereka harus berakhlak baik kepada sesama makhluk Tuhan.

Tidak ada puasa bagi manusia yang dalam puasanya menzalimi orang lain.

Sekadar mencaci, berkata kotor, kasar, dan dusta; sia-sialah puasa seseorang. Apalagi kalau ditambah tindakan fisik.

Orang-orang yang berpuasa dinilai sebagai para mujahid dan mujahidah yang telah berjuang selama sebulan menjalankan puasa.

Mereka adalah orang-orang yang kembali ke dalam fitrah.

Fitrah artinya berbuka. Sesudah sebulan tidak makan, minum, dan berhubungan suami-istri di siang hari, maka pada hari raya mereka kembali berbuka.

Secara bahasa, Idul Fitri (عِيدُ الفِطْرِ) memiliki makna kembali berbuka, atau kembali makan (setelah sebulan penuh berpuasa).

Jadi, Idul Fitri berarti Hari Raya Berbuka.

Ada juga yang mengartikan bahwa potongan kalimat Minal Aidin Wal Faizin adalah sebuah harapan atau doa agar kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang kembali (ke dalam kesucian) dan orang-orang yang meraih kemenangan.

Jika kita hanya mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, itu bukan kalimat sempurna.

Ia menggantung di bagian awalnya. Dia bukan jumlah mufidah.

Agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang utuh, para ulama menambahnya “satu” kata (sebenarnya tiga kata atau tiga kalimah: ja’ala + nahnu + Allah)) di depannya :

“ja’alanallaahu”,

sehingga menjadi

جَعَلَنَا اللهُ مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ,

Ja’alanallahu Minal Aidin Wal Faizin.

“Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (ke dalam kesucian) dan orang-orang yang meraih kemenangan.

Dalam kartu-kartu lebaran (zaman dahulu, sebelum ada hp), atau pada ucapan-ucapan selamat lebaran dalam berbagai bentuk, potongan kalimat Minal Aidin Wal Faizin biasa disandingkan dengan kalimat Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Seolah-olah kalimat bahasa Indonesia itu terjemahan dari teks Arab yang mendahuluinya.

Demikian juga dalam praktik sehari-hari kebanyakan kita, seperti pada dua kalimat pembuka di awal tulisan ini. Padahal, arti Minal Aidin Wal Faizin adalah seperti diterangkan di atas.

Ungkapan selamat berlebaran dengan mengucapkan atau menuliskan Minal Aidin Wal Faizin, menurut kawan-kawan yang lama bermukim di negara-negara yang berbahasa Arab, tidak lazim digunakan di masyarakat sana.

Di Timur Tengah dan pada masyarakat yang agamais ungkapan selamat beridulfitri yang sering disampaikan adalah Eid Mubarak (Hari Raya yang Diberkati) atau Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum.

Kalimat itu bermakna, “Semoga Allah menerima ibadah kami dan ibadah kamu.”

Dalam banyak kitab Fikih disebutkan bahwa para shahabat apabila mereka bertemu pada hari raya Idul Fitri, mereka saling mengucapkan

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

Beberapa shahabat lainnya menambahkan ucapan Shiyaamanaa wa Shiyaamakum, yang artinya puasa kami dan puasa kamu.

Biasanya, ketika seorang muslim berjumpa temannya, pada hari-hari lebaran, ia mengucapkan Taqobbalallaahu Minnaa wa Minkum; kawannya akan menyahut dengan Shiyaamana wa Shiyaamakum.

“Jadi, ucapan Minal Aidin Wal Faizin, itu salah?”

“Tidak perlu menyalahkannya. Kita bisa menambahkan kata ja’alanallaahu pada awal kalimat.

Niatkanlah apa yang kita ucapkan itu sebagai doa sesuai pemahaman kita akan teks tersebut.

Dan, karena ketidaktahuan, kita beranggapan bahwa ketika mengucapkan “minal ‘aidin wal faizin”, maksud kita adalah mohon maaf lahir dan batin; selama orang yang kita salami itu ikhlas menerimanya, saya kira Tuhan akan perkenankan doa kita.

Insya Allah. Bukankah Tuhan akan menilai seseorang sesuai dengan kadar kemampuan orang tersebut? Ya, Apabila Anda tahu makna yang sebenarnya, itu lebih baik.

Bahkan, kita bisa merangkai sendiri kata-kata ucapan selamat hari raya atau hari-hari lainnya, kalau bisa.”

Wallaahu a’lam bishshawaab.

Ciomas, beberapa menit menjelang waktu berbuka, 07 Agustus; dan 19 Agustus 2013; di-share- kembali @ 19 Matet 2026

Salam, Jr.

Tinggalkan komentar