Masjid Kursi – Pesantren Lansia Darun Naim, Jonggol

*MASJID KURSI*
*Pesantren Lansia Darun Naim, Jonggol*


Tadi pagi, saya, istri, seorang kakak ipar, bersiap-siap  berangkat ke arah Cianjur, untuk suatu keperluan.

Tapi, begitu mau keluar halaman yayasan, istri saya bilang, “Kita ke Jonggol saja.”

“Ke Jonggol, mau ketemu siapa?” saya bertanya.

“Ke Pondok Pesantren Darun-Naim, pesantren lansia.”

_Googlemap_, untuk mencapai lokasi, mengarahkan lewat Sentul, melalui jalan panjang, kecil, dan berliku.

Setelah sarapan di warung pinggir jalan; perjalanan dilanjutkan.

Masih jauh ke lokasi tujuan, waktu shalat tiba. Kami jumatan di sebuah masjid pinggir jalan aspal.

Pukul 14, sampailah ke area pesawahan yang sisi pandang sononya merupakan perbukitan.

Kompleks bangunan luas bercat hijau, ada di depan mata.

Ada tulisan; Pondok Pesantren Lansia Darun  Naim.

“Buat apa datang ke sini?”

“Mau tinggal di pesantren, mengisi waktu-waktu tersisa -dengan berbagai kegiatan ibadah, hingga saat kembali tiba?”

“Iya, tapi bukan untuk kami.”

“Buat orangtua? Tega amat!”

“Betul, untuk seorang yang sudah tua. Tapi, bukan ayah-ibu kami.”

Di tempat kami, di Ciomas, di satu  ruangan, antara sekretariat & dapur yayasan, kecuali hari libur, setiap hari, ada 1 orangtua, sudah ditinggal wafat suaminya, punya anak 5, 1 meninggal; jadi, anaknya yg ada saat ini 4 orang: 1 putra, 3 putri; tinggal seorang wanita berusia.

“Apa hubungannya dengan kamu. Kok, sampai mencarikan panti atau pesantren lansia segala?”

Di dunia ini, ada saja keanehan. Kecuali anak yg pria, para putri dari ibu ini, tidak mau mengurus orangtuanya.

Tak selesai di situ, anak2 yang dikandung, dilahirkan, disusui, dibesarkan, disekolahkan, khususnya yang wanita; selain tak bersedia merawat emaknya, sikap dan katanya juga, sebagaimana disampaikan sang ibu kepada kami, sering menyakitkan.

Sudah lebih dari setahun, untuk menemani pasien ini, kami pekerjakan seorang wanita yang juga sudah berusia, dengan “fee”, _mostly_ dari kami.

Setelah beberapa bulana, perawat itu mengundurkan diri. Kami kirim pekerja lain, tiap hari, dari pagi sampai sore ke rumah itu.

Sekian bulan terakhir, ibu itu diajak istri saya untuk tinggal di yayasan.

Seorang wanita salihah, ditugaskan untuk melayani segala keperluannya.

Salah 1 putri “pasien” ini, karena pekerjaan, tiap hari  melewati ibunya yang sedang berjemur atau melihat pemandangan, dari kursi roda.

Isal, anak kami, yang menyiapkan kursi roda itu, sebab yang bawaan dari rumahnya sudah tidak laik guna.

Kalau lewat, pandangan putrinya ini lurus ke depan, tidak mau menoleh ke ibunya.

Sri, ibu anak2 kami, bilang, “Daripada setiap hari hatinya tersakiti, bagaimana kalau kita tawarkan dia, untuk tinggal di pesantren lansia?”

“Kalau di yayasan kita, aktivitas hanya berjemur atau melihat pemandangan (untuk ke masjid pun susah, sebab kursi roda sulit melewati jalan berbatu).

Sementara anaknya, jangankan menyapa, menoleh pun, tidak!

Di Pesantren Lansia, akan bertemu teman2 sebaya dan diisi dengan berbagai kegiatan pengajian.”

“Untuk biayanya?”

“Kalau anak2nya nggak mau bayar, biar dari kita saja. Kita cari pesantren lansia yang biayanya terjangkau.”

Menunggu ustaz yang barusan habis jumatan beristirahat, saya masuk ke masjid.

Masjidnya, tidak besar, sedang saja ukurannya.  Tapi bersih.

Pun, ada yang beda dari sangat banyak masjid yang saya masuki, dalam berbagai perjalanan ke sana kemari.

“Apanya yang beda?”

Sebentar, bicara ke masjid2 lain dulu.

Bepergian ke sangat banyak tempat, tentu bertemu juga dg sangat banyak masjid.

Satu dua masjid, menyediakan kursi untuk jemaah yang kesulitan shalat dg berdiri. Tapi, pada umumnya, tak ada itu kursi di sebagian sangat besar masjid yang pernah kami kunjungi.

Istri saya, paling peka melihat ini. Karenanya, setiap selesai shalat di masjid2 itu, ia segera minta suaminya membelikan & menaruh kursi2 itu, paling tidak 2 buah, utk diletakkan, 1 di area pria, lainnya di tempat ibu2.

Nah, tadi, pas masuk masjid, saya lihat ada banyak kursi di dalamnya.

Yang terpasang saja, siap diduduki, ada 9. Sementara, kursi yang disusun di bagian pojok ruangan, dan siap dipasang -jika diperlukan, saya hitung, 15 jumlahnya.

“Beda ini masjid!” pikir saya.

Mengapa sangat banyak kursi tersedia di dalam ini masjid?

Karena memang, jamaahnya adalah para senior yang memerlukan alat bantu untuk nyamannya beribadah.

Kepada kawan2,  apabila bepergian ke banyak daerah atau ke mana pun; lalu, shalat di masjid2 itu, dan kebetulan tidak tersedia kursi di dalamnya, untuk kenyamanan shalat jemaah yang memerlukannya, bolehlah melengkapi masjid2 itu dg kursi, sesederhana apa pun.


Sempat mengobrol dengan beberapa penghuni pesantren. Mereka berpenampilan bersih, ceria, dan nyaman tinggal di pesantren.

“Di rumah, saya tak ada teman!” kata seorang nenek.

Para “santri” ini berasal dari Bogor, Cirebon, Kendal, Semarang, Ponorogo, Bali, dan kota2 lainnya.

Ibu2, bpk2, para lansia mulai masuk masjid untuk shalat Ashar.

Saya keluar sebentar untuk membaca tulisan alamat lengkap pesantren. Siapa tahu di antara teman2, ada yg memerlukannya.

Semoga anak2nya itu membaca tentang Al-qamah, seorang sahabat Nabi -yg sangat menderita menjelang ajalnya, lantaran pernah bermuka masam kepada ibunya. Lalu, smg mereka menjadi insaf & berbuat baik kepada orang yg melahirkannya.


Sambil masih menunggu untuk bisa bertemu ustaz pengurus pesantren, menjelang saat azan Ashar, Pesantren Darun Naim, Kp. Babakan, Cisewu, Desa Sukajaya, Kec. Jonggol, Kab. Bogor; 13 Juni 2025. Salam, Jr.

Tinggalkan komentar