
“Untuk pengumuman kelulusan yang akan disebutkan adalah nomor ujiannya saja. Nama calon pelajar, tidak disebutkan. Dan, tidak ada pengulangan.”
Panitia pada acara pengumuman kelulusan calon pelajar Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, melalui pengeras suara menyampaikan dengan jelas.
“Bagi yang disebutkan nomor ujiannya, dimohon tetap tertib; tidak berteriak, tidak berdiri, serta tidak menoleh ke kanan dan ke kiri.
Sujud syukurnya, nanti saja sekalian, setelah selesai acara, di dalam masjid,” MC menambahkan.
Ribuan orangtua dan ribuan calon santri baru memenuhi pekarangan tengah yang luas Pondok Modern Gontor di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo.
“Nomor ujian yang disebutkan, akan mulai dari yang diterima di Gontor Pusat; lalu Gontor Dua, Gontor Tiga, hingga Gontor Enam.
Calon santri dan orangtua yang datang dari berbagai penjuru negeri itu, harap-harap cemas kalau-kalau nomor ujian masuk mereka tidak termasuk yang dipanggil.
Setelah sejak dua minggu lalu masuk area pesantren, melakukan pendaftaran, dan mengikuti serangkaian tes, para calon santri tinggal di pondok.
Orangtua mereka menunggu di sekitar kompleks tempat menuntut ilmu tersebut.
Sebagian dari mereka menginap di hotel, yang lainnya menumpang di rumah-rumah penduduk, ada juga yang membawa tenda.
Tidak sedikit yang bergelimpangan di teras-teras rumah dan warung yang tersebar di dekat pesantren.
Area parkir disesaki mobil-mobil dengan nomor polisi yang menunjukan banyak kota dari mana kendaraan-kendaraan itu berasal.
Ketika panitia menyebutkan angka-angka sembilan ratusan, menuju seribu; dan selanjutnya mendekati angka seribu seratusan; entah mengapa hati saya dipenuhi rasa haru.
Angka ujian anak kami sebentar lagi tersentuh atau terlewati
Saya teringat Ummi, wanita salehah asal Kampung Pasekon, Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi.
Beliau, dahulu, ingin sekali anaknya belajar di pesantren, seperti yang ia dapatkan. Ummi sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sekolah Dasar, sekali pun!
Para orangtua di kampung-kampung, di pedalaman Sukabumi, tidak terlalu menginginkan anak-anak mereka belajar di sekolah umum.
Mereka lebih tertarik mengirim anak-anaknya ke pesantren.
Akan menjadi malu bagi orang kampung, kalau anak-anaknya tidak pintar ilmu agama atau tak bisa mengaji.
Namun, tidak semua orangtua bisa menyekolahkan anaknya ke pondok.
Bagaimana pun juga perlu biaya tambahan.
Memang, para santri atau santriwati itu, umumnya, berasal dari keluarga relatif berada.
Di desa, suasana keagamaan sangat kental, terasa.
Anak-anak yang karena satu dan lain hal tidak mesantren, mengaji di langgar-langgar.
Mereka yang masih usia SD, kebanyakan sudah khatam, tamat membaca Al-Quran tiga puluh juz, beberapa kali.
Tidak belajar di sekolah formal adalah hal umum.
Tetapi, tidak pergi ke pesantren, apalagi tidak mampu membaca kitab suci, bagi orang-orang desa, adalah aib!
Ummi, walau termasuk berasal dari keluarga berada; tidak bersekolah umum.
Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di pesantren.
Beliau tidak bisa menulis dan membaca huruf latin; tetapi menulis Arabnya ngebut!
Selepas saya lulus dari Sekolah Dasar, Ummi ingin anaknya ini menuntut ilmu di pesantren.
Namun, Bapak memutuskan agar saya belajar di sekolah umum.
“Belajar mengaji mah di rumah saja,” kata Bapak.
Selain pergi ke madrasah –sepulang sekolah dan nyantri kalong di pesantren dekat rumah; setiap malam, saya belajar mengaji kepada Ummi.
Saat dulu mendengar seorang cucunya masuk Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Ummi terlihat gembira.
Kini, cucunya yang lain, kembali masuk pesantren. Dia, di alam sana, pasti senang sekali mendengar berita ini.
“Seribu dua ratus …,” suara panitia terdengar.
Saya melirik kepada istri, “Enggak masuk!”
“Ya, tidak masuk. Mudah-mudahan masuk ke Gontor II, atau Gontor lainnya.
”Nomor ujian anak kami ada di angka seribu seratusan. Sudah terlewat.
Tidak lama kemudian, “Seribu seratus …” pembaca pengumuman menyebut beberapa nomor seribu seratusan.
Mungkin, tadi ada satu kolom yang terloncati membacanya. Atau, kami salah dengar?
“Seribu seratus tujuh puluh…; Seribu seratus delapan puluh …” saya berdiri dan memusatkan pendengaran ke arah pusat suara.
“Seribu seratus sembilan puluh dua!” terdengar angka itu di pengeras suara.
“Iki!” saya menoleh ke samping kiri. Istri menatap wajah saya.
“Alhamdulillah!”
Saya keluar dari barisan bangku-bangku di antara ribuan orangtua yang menanti nomor ujian anaknya disebut.
Kepala saya merunduk ke lantai; dahi menempel ke tanah.
Saya bersujud, sementara airmata bercucuran.
“Alhamdulillah, Gusti, anak kami lulus tes masuk. Ia diterima di Gontor!”
Khawatir suara tangisan mengganggu orang lain, saya lari ke arah bangunan besar.
Di dalam masjid yang luas tanpa karpet, di atas lantai yang dingin, saya kembali tersungkur, bersujud; memanjatkan rasa syukur kepada ilahi rabbi, air mata membasahi pipi.
“Tuhan, Kau perkenankan anak kami menuntut ilmu di tempat orang-orang berilmu tinggi! Alhamdulillah, segala puja dan puji milik-Mu semata.”
Di dalam sujud, saya terkenang wajah-wajah alumni Gontor -yang menghiasi ini negeri, dari Cak Nur hingga Ahmad Fuadi.
“Gusti, jadikan anak kami, orang yang berilmu tinggi, beramal banyak, berakhlak mulia, dan hidup sehat-sejahtera, serta bermanfaat bagi sesama!”
Saya tahu, kelulusan itu tidak semata usaha dia.
Banyak orang punya peran serta. Kami berterima kasih kepada teman-teman yang telah ikut mendoakan.
Selesai pembawa acara membacakan nomor-nomor ujian yang diterima, dari Gontor Satu hingga Gontor Enam, seorang ibu dan anaknya yang duduk tepat di belakang kami, saling menatap.
Lalu, keduanya berangkulan, menangis. Anak ibu itu tidak dipanggil nomornya.
Mereka harus mencari pesantren atau sekolah lain.
Dua orang, anak dan bapak, berjalan menuju arah luar kompleks pesantren sambil menundukkan kepala.
Terdengar suara terisak-isak. Sambil mengusap kepala pujaan hatinya, sang ayah menenangkan.
“Kalau masih penasaran, belajar lebih rajin! Nanti kita daftar lagi.” Anak itu termasuk kelompok yang segera akan meninggalkan pondok. Ia tidak lulus ujian masuk.
Di teras masjid berjajar panitia-panitia penerimaan santri baru dari berbagai pesantren.
Beberapa stan itu dikerubuti pendaftar, lainnya dikunjungi beberpa orang saja.
Ada juga yang sepi calon santri.
Pesantren-pesantren itu menampung para calon santri yang di Gontor tak lulus seleksi.
Sekelompok besar santri baru, dengan membawa kopor-kopor besar, naik ke atas truk.
Kendaraan bak terbuka itu berjalan menuju Gontor -2 di Ponorogo kota.
Tidak lama kemudian, beberapa bus meninggalkan pesantren.
Mobil besar yang dipenuhi para santri baru itu berangkat ke Kediri dan Magelang.
Mereka adalah yang diterima di Gontor-3 dan Gontor-6.
Rombongan ke Banyuwangi, Gontor-5; akan berangkat pukul sembilan malam.
Anak-anak yang diterima di Gontor Pusat, dikumpulkan di ruang Aula.
Mereka mendapat pengarahan dan pembagian kamar.
Saya menyelusup ke tempat panitia. *Muhammad Fikri Dzkri Rahmat*, nama lengkap Iki, ada di Ruang Aligarh, lantai-1, kamar 5.
Saya menjauh dari kerumunan itu, hendak mencari lokasi Aligarh, lantai-1, kamar-5. Di pekarangan ratusan orangtua membuat antrean yang mengular.
“Antrean apa ini?” saya bertanya kepada salah seorang di antara mereka.
“Daftar untuk beli lemari, Pak.”
“Berapa harganya?”
“Yang baru dua ratus delapan puluh ribu rupiah; yang bekas seratus delapan puluh ribu rupiah.”
Baru saja saya bergabung di urutan paling belakang, dalam antrean panjang itu, azan Zuhur berkumandang.
“Tutup dulu, nanti disambung bakda Zuhur. Penjualan lemari, nanti, pindah ke dalam,” panitia berkata.
“Ustaz, saya minta kartunya saja!”
Beberapa pengantre yang sudah sejak lama dalam barisan, dan posisinya sudah mendekati meja panitia mendesak agar diberikan kartu tanda pendaftaran.
Sambil berdiri, meninggalkan meja, dan menjauhi barisan panjang itu, panitia menjawab, “Iya, nanti dilanjutkan selepas shalat Zuhur.”
“Kirain santri saja yang suka disuruh antre, kita pun, orangtuanya disuruh berbaris juga,” seorang asal Medan berkata.
Setelah Zuhur, saya sudah menempati bagian depan dalam jajaran manusia yang memanjang di ruang Balai Pertemuan Pondok Modern atau lebih sering disebut dengan BPPM saja.
Semakin lama, semakin panjang orang berbanjar di belakang saya. Padahal, panitia belum seorang pun yang muncul. Para orangtua berbicara satu sama lain.
Pertanyaan paling sering saya dengar di antara mereka, dan juga kepada saya, “Dari mana?” Maksudnya dari kota mana berasal.
Gontor, laksana ITB dan perguruan-perguruan tinggi terkemuka lainnya, sebagian besar santrinya berasal dari luar kota.
Banyak yang datang dari Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya.
“Brusut…” tiba-tiba sekelompok besar orang keluar dari barisan, berlarian menuju arah utara gedung.
Dua-tiga orang panitia masuk ruangan, dan menuju ke bagian utara.
Antrean tempat saya berdiam, bubar.
Semua berlarian mengejar pantia.
Sebab termasuk yang tidak pandai berebut tempat, posisi saya pindah jauh ke bagian belakang.
Panitia yang mencatat dan memberikan kwitansi melayani satu persatu pembeli, para orangtua santri.
Kendatipun satu orang-satu orang yang dipanggil; yang antre membentuk tiga barisan sejajar.
Mirip lubang botol yang mengecil ke arah luar. Macetlah, sudah!
Kemudian, dari kiri-kanan, di bagian depan, para pendatang baru meringsek.
Barisan menjadi lima; sedangkan yang melayani di depan tetap untuk satu orang.
Sangat lamalah kami mengantre.
Setelah berjam-jam berdiri, panitia mengumumkan bahwa lemari baru habis dan yang masih tersedia hanya yang bekas.
“Kalau mau yang baru, silakan pindah ke ruang olah raga.”
“Wah, sudah capai-capai kita ngantre di sini, disuruh pindah lagi!” banyak orangtua menggerutu.
Saya merasa beruntung, sejak dahulu senang membaca.
Kemana pun pergi, biasanya membawa bahan bacaan.
Buku-buku itu menemani saya ketika antre karcis kereta, saat kendaraan terjebak macet dan majunya perlahan-lahan, atau apabila sulit tidur di dalam penerbangan.
Kebiasaan membaca itu, kini, beranjut dengan kesukaan menulis.
Maka, sejak awal berdiri di dalam barisan, saya tidak melihat ke kiri dan ke kanan, atau sesekali menengok ke belakang, melihat barisan yang semakin memanjang.
Yang saya perhatikan adalah bapak/ibu yang posisinya tepat di depan saya, apakah ia sudah dekat meja panitia atau masih jauh.
Saya sendiri menyibukkan diri dengan _Blackberry_ menulis artikel ini, hingga tiba di meja panitia.
Alhamdulillah, waktu antre yang lama itu, tidak begitu terasa.
Gontor menerapkan disiplin tinggi untuk santri; tetapi tamu-tamunya, para orangtua santri, mesti belajar banyak tentang perlunya antre.
Jangan-jangan, mereka, perlu nyantri juga!
Gontor, 11 Agustus 2014, bakda Ashar. Salam, Jr
Tinggalkan komentar