Haji adalah cita-cita utama seorang muslim. Haji hanya diwajibkan kepada orang-orang yang mampu saja. Mampu secara finansial; mampu secara fisikal. Namun, tidak sedikit orang yang secara finansial tidak mampu, atas kehendak-Nya –melalui pelbagai cara- bisa pergi haji.
Dalam sejarah, syariat haji, lebih populer sebagai warisan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya. Syariat itu sampai kepada kita melalui Nabi Muhammad saw.
Berbicara tentang syariat Islam, semestinyalah kita membaca tentang sang pembawa ajaran ini: Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Saya hanya ingin menyampaikan kelahirannya saja, Maulid Nabi saw., secara ringkas.
Hari ini, ketika aku menulis tentang kelahiran Nabi, adalah Jumat, tanggal 12 Rabiul Awwal 1425H Penanggalan di almanak menunjukan, ini adalah hari libur.
Hampir setiap hari libur, pagi hari, sekitar pukul 05.30 atau pukul 06.00, kami (saya, istri dan anak-anak) jalan-jalan santai ke perkampungan atau ke pinggiran sungai, atau ke daerah pesawahan; kemudian mengambil sarapan di warung kecil atau jajan bubur ayam di pinggir jalan desa.
Kulihat banyak anak-anak keluar dari gang-gang kecil, dari rumah-rumah mereka, tangannya menjinjing sesuatu. Mereka kemudian masuk ke masjid-masjid, musala-musala, dan madrasah-madrasah.
Mereka membawa -apa yang orang Jawa Barat sebut- bongsang. Bonsang adalah sejenis kantong terbuat dari kulit atau daging bambu yang diserut tipis dan dianyam, biasanya diisi makanan. Ringan…atau berat.
Kehadiran bongsang biasanya dikaitkan dengan perayaan-perayaan di desa (Orang Jawa Barat bagian kota -kalau tidak semua- sebagian besar, dapat dipastikan, tidak mengenal bongsang); baik perayaan pernikahan, khitanan, atau perayaaan yang lebih berbau keagamaan seperti Maulid Nabi.
Dan, hari ini adalah hari raya bagi kebanyakan orang desa, seperti saya. Ini adalah hari tatkala seorang manusia besar terlahir ke dunia ini. Hari ini adalah hari Maulid Rasululah saw.
Kami terus berjalan santai sambil mencari di mana ada warung kecil yang menjual bubur kacang hijau (pagi itu kami ingin sarapan bubur kacang yang panas mengepul, nikmat).
Dua anak kami yang mendahului berjalan jauh di depan, terhenti dan menengok ke belakang. Mungkin capek atau takut kami kehilangan jejaknya, mereka berhenti di depan sebuah warung baru. Nampaknya masih indreyen, itu warung.
“Mau sarapan di sini?” tanya saya. Mereka menganggukkan kepala. Akhirnya kami sarapan di warteg yang baru buka seminggu lalu itu.
Sementara istri menemani anak-anak menyelesaikan sarapan paginya, saya jalan dan masuk ke gang kecil, tak jauh dari situ.
Di sebuah mushala terdengar suara seorang ustaz sedang ceramah tentang keutamaan peringatan maulid. Saya terus berjalan pelan.
Dan…di sebuah majelis taklim dan pesantren Alquran, saya kembali mendengar orang-orang membaca selawat atas Nabi.
Mereka sedang –lagi-lagi–memperingati Maulid Nabi. Mereka semua sedang memperingati hari kelahiran seorang yang dicintainya. Peringatan maulid adalah salah satu cara mengekspresikan kecintaan kepada Rasululah saw.
Kami kembali ke rumah. Sehabis mengaji di malam hari, beberapa anak yatim yang tinggal bersama kami, dan anak tetangga yang mengaji, datang menghampiri:
“Pak kami ingin muludan (muludan adalah bahasa Sunda untuk peringatan maulid Nabi saw.) malam minggu nanti. Ini daftar acaranya!” Saya ambil kertas itu.
Di antara daftar acara terdapat tulisan santapan rohani dua kali. “Lo, kok, santapan rohaninya dua kali?” tanya saya.
“Yang terakhir, maksudnya jasmani, Pak, bukan rohani,” mereka menjelaskan sambil tersenyum, agak malu-malu.
“Dari mana dan apa santapan jasmaninya?”
“Kami sudah urunan 1 orang, 1 ribu rupiah. Kami mau makan nasi uduk saja,” seru mereka bersemangat.
Lazimnya, pada peringatan maulid, baik yang diselenggarakan di masjid, madrasah, atau pesantren: makanan berlimpah! Makanan datang dari rumah-rumah, dikirim ke tempat penyelenggaraan itu. Di sini, tidak. Karena, donaturnya, sesama anak-anak sendiri.
Sabtu malam, bakda isya, di halaman rumah, saya sekadar menyampaikan pembukaan; anak-anak yatim, sepenuhnya mengisi acara.
Dua orang anak tampil memberikan ceramah, seperti laiknya penceramah betulan. Yang satu sepenuhnya membaca teks; lainnya yang mengenakan sorban mirip Aa Gyms, berceramah tanpa teks.
Tapi, di tengah perjalanan dia lupa harus melanjutkan bicara apa. Untung teksnya dia sakuin. Amanlah.
Selain ceramah ada juga yang mendendangkan nasyid. Tetapi sebagian besar acara diisi dengan pembacaan selawat.
Anak-anak yatim dan anak-anak miskin itu berakapela dan membacakan beberapa macam selawat. Saya tak tahu kapan mereka menghapal dan berlatih.
Mungkin malam menjelang tidur. Mereka begitu mempesona.
Mendengar anak-anak bergemuruh membacakan selawat, saya tak mampu menahan air mata. Hati berbisik, “Aku rindu padamu, ya Rasul!”
Pembacaan selawat adalah merupakan salah satu bukti kecintaan kepada Rasulullah saw. Lagi pula, membaca atau mendengarnya adalah merupakan suatu kenikmatan tersendiri.
Suatu hari, setelah Rasulullah tiada, Bilal diminta mengumandangkan azan. Orang-orang rindu pada suara Bilal. Semula Bilal menolak. Memang, sejak kepergian Nabi, Bilal tak mau lagi azan.
Setelah para shahabat mendesaknya, barulah ia mengabulkannya. Namun ketika ia sampai pada bacaan “wa asyhadu anna Muhammad…,” ia terdiam…tak mampu meneruskannya.
Bilal menangis keras. Nama Muhammad, kekasih yang telah pergi, menggetarkan jantung Bilal.
Nama itu mengingatkannya pada suatu kehilangan besar yang menimpanya; juga seluruh kaum muslimin. Karena cintanya pada Rasululah, namanya sering disebut dan dilagukan.
Dan ketika menyebutnya dengan suara lepas di dalam azan, hatinya menjerit, merindukan sang Nabi.
Untuk mewujudkan cintanya pada rasul, banyak orang kemudian menggubah syair-syair selawat. Salah satu di antaranya yang sering dibacakan pada berbagai kesempatan adalah:
Yaa Nabii salaam ‘alaika
Wahai Nabi, semoga kesejahteraan tetap melimpah kepadamu
Yaa Rasuul salaam ‘alaika
Wahai Rasul, semoga kesejahteraan tetap melimpah kepadamu
Yaa habieb salaam ‘alaika
Wahai kekasih, semoga kesejahteraan tetap melimpah kepadamu
Shalawaatullahi ‘alaika
Rahmat Allah semoga tetap tercurah kepadamu
Imam Syafei pernah bersyair:
Wahai keluarga Rasulullah,
Cinta kepadamu itu termasuk kewajiban dari Allah
Di dalam Alquran yang diturunkan-Nya.
Cukuplah kehormatan yang besar bagimu,
Bahwa orang yang tidak mengucapkan selawat atasmu
Tidak ada salat baginya
………BERSAMBUNG
Tinggalkan komentar