Maulid Nabi, Bagian-2

Al-Tsalabi, ketika mengisahkan Nabi Yusuf as. yang sedang berada di dalam sumur, menuturkan sebagai berikut.
 
“Pada hari keempat datanglah Jibril dan berkata, ‘Hai anak, siapa yang melemparkan kamu ke sini ke dalam sumur?’
 
Yusuf menjawab, ‘Saudara-saudaraku seayah.
 
Jibril bertanya, ‘Mengapa?’
 
Yusuf menjawab, ‘Mereka dengki kepadaku karena kedudukanku di depan ayahku.’
 
Jibril berkata, ‘Maukah engkau keluar dari sini?’ Ia menjawab, ‘Tentu.’
 
Jibril berkata, ‘Ucapkanlah,
 
“Wahai Pencipta segala yang tercipta
Wahai Penyembuh segala yang terluka
Wahai Yang Menyertai segala kumpulan
Wahai Yang Menyaksikan segala bisikan
 
Wahai Yang Dekat dan tidak berjauhan
Wahai Yang Menemani semua yang sendirian
 
Wahai Penakluk yang tak tertaklukkan
Wahai Yang Mengetahui segala yang gaib
 
Wahai Yang Hidup dan tak pernah mati
Wahai Yang Menghidupkan yang mati
 
Tiada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau
Aku bermohon kepada-Mu Yang Empunya Pujian
 
Wahai Pencipta langit dan bumi
Wahai Pemilik Kerajaan
 
Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
Aku bermohon agar Engkau sampaikan selawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad.
 
Berilah jalan keluar dan penyelesaian dalam segala urusan dan dari segala kesempitan
Berilah rezeki dari tempat yang aku duga dan dari tempat yang tak aku duga”
 
Yusuf lalu mengucapkan doa itu. Allah mengeluarkannya dari dalam sumur, menyelamatkannya dari reka-perdaya saudara-saudaranya. Kerajaan Mesir didatangkan kepadanya dari tempat yang tidak diduganya” (Al-Tsalabi dalam Rakhmat, J., 1994).
 
Saya ingin berceritera agak panjang tentang selawat, tetapi nanti sajalah di bahasan terpisah. Marilah kita kembali saja ke bahasan semula: Maulid Nabi.
 
Saya buka kitab-kitab tarikh Nabi yang ada di pustaka keluarga. Dan, Annemarie Schimmel, mendiang professor Harvard University, pengagum Rumi dan Iqbal ini, mengajak saya untuk kembali membuka buku lamanya yang tak pernah saya bosan membacanya itu:
 
And Muhammad is His Messenger (Dan Muhammad adalah Utusan Allah). Saya ingin memulai penulisan saat-saat kelahiran manusia tercinta ini dengan mengutip buku yang unik ini.
 
Pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi lahirlah ke dunia ini seorang insan yang kelak mengubah sejarah dunia.
 
Para sastrawan menyambut kedatangan bakal nabi terakhir ini dengan menuliskan kisah-kisah menawan.
 
Thaha Husain mengisahkan tentang saat-saat kelahiran Muhammad, antara lain:
 
…bahwa kawanan-kawanan  burung dan ternak saling berlomba satu sama lain, setelah kelahiran Nabi, untuk dapat mengasuhnya, tetapi tertolak sebab sudah ditakdirkan bahwa Nabi harus diasuh oleh Halimah.
 
Dan bahwa … jin, manusia, binatang, dan bintang saling mengucapkan selamat satu sama lain pada saat kelahiran Nabi.
 
Dan, bahwa pohon-pohon menumbuhkan dedaunan mereka pada saat kelahirannya, dan bahwa taman-taman menjadi berbunga begitu ia tiba di muka bumi.
Dan, bahwa langit menjadi dekat dengan bumi, ketika tubuhnya yang mulia menyentuh bumi.
 
Tepatnya adanya keajaiban-keajaibanlah yang disebut-sebut telah terjadi pada saat kelahiran Nabi yang sedemikian menggembirakan.
 
Meninggikan derajat para saleh, dan menggugah para penyair dan teolog untuk melukiskan kelahiran insan terbaik dalam gambar-gambar yang senantiasa baru, dan senantiasa kian berbinar.
 
Annemarie Schimmel mengutip literatur paling awal tentang kelahiran Sang Nabi dan mengatakan bahwa suatu cahaya terpancar dari rahim Aminah dengan datangnya Nabi yang baru dilahirkan itu.
 
Hasan bin Tsabit melukiskan saat-saat kelahiran Nabi dengan menyenandungkan bahwa Aminah telah melahirkannya pada saat yang berbahagia, yang pada saat itu bersinar cahaya menerangi segenap penjuru dunia. Yunus Emre, melantunkan syair:
 
Dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya
Pada malam kelahiran Muhammad.
 
Ibnu al-Jauzi, dalam kitab maulidnya menulis,
 
“Ketika Muhammad lahir, para malaikat memaklumkannya dengan nada tinggi dan rendah. Jibril datang membawa kabar baik, dan Tahta pun bergetar.
 
Para bidadari keluar dari istana-istana mereka, dan bertebaranlah wewangian. Ridhwan (malaikat penjaga gerbang surga) mendapat perintah:
 
‘Hiasilah surga tertinggi, singkapkanlah tirai dari tempatnya, kerahkan sekawanan burung Aden ke rumah Aminah supaya mereka menaburkan mutiara dari paruh-paruh mereka.’”
 
“Dan ketika Muhhammad lahir, Aminah melihat sebuah cahaya, yang menerangi istana-istana Bostra. Para malaikat mengerumuninya dan membentangkan sayap-sayap mereka. Barisan malaikat, yang memanjatkan puji-pujian, turun memenuhi bukit-bukit serta lembah-lembah.”
 
 
Menurut kitab-kitab tarikh, sebuah cahaya bersinar dari dahi Abdullah, ayah Muhammad, dan meskipun beberapa wanita berupaya keras meminangnya demi cahaya ini, dia menikah dengan Aminah, yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi ibu Nabi.
 
Cahaya tersebut terbawa di dalam rahimnya.
 
 
……………… Bersambung

Tinggalkan komentar