Maulid Nabi, Bagian 3

Abu Nu’aim dalam Dala’il Al-Nubuwah, mengisahkan sebagai berikut:
 
Pada malam kelahiran Nabi, seluruh ternak Quraisy saling bercakap-cakap di antara mereka tentang telah lahirnya pemimpin umat.
 
Aminah diperintahkan untuk memberi nama anak itu Muhammad atau Ahmad. Ketika mengandung, Aminah sama sekali tidak mengalami kesulitan. Namun ketika tiba saat dia melahirkan, hal-hal aneh terjadi.
 
Dan sementara kandunganku semakin berat dan aku mendengar kegaduhan yang semakin kuat, sebuah kain sutera putih terhampar antara langit dan bumi.
 
Dan aku mendengar sebuah suara berkata, “Biarlah ia sirna dari pandangan orang!”
 Aku melihat orang-orang berdiri di udara memegang guci-guci perak.
 
Peluh yang menetes dariku bagai butir-butir mutiara dan lebih harum semerbak daripada kesturi, dan aku berseru,
 
“Duhai Abdul Muthalib, hendaklah datang kepadaku! Celakalah andaikata Abdul Muthalib jauh dariku!”
 
Lalu aku melihat kawanan-kawanan burung turun ke arahku dan hinggap memenuhi pangkuanku; paruh-paruh mereka dari zamrud, dan sayap-sayap mereka dari bunga.
 
Dan Allah menyibakkan tabir dari kedua belah mataku. Lalu aku melihat bumi di timur dan di barat. Aku melihat tiga bendera berkibar. Satu di timur, satu di barat, dan satu di atap Ka’bah.
 
Aku merasakan sakit, dan ini menyulitkanku….Maka aku melahirkan Muhammad, lalu aku berpaling kepadanya untuk melihatnya.
 
Dan aduhai, dia terbaring dengan kedua tangannya mengangkat ke langit seperti orang sedang berdoa.
 
Lalu aku melihat awan turun dari langit menyelumutiku sehingga dia tidak tampak lagi olehku, dan aku mendengar sebuah seruan:
 
“Pandulah dia mengelilingi bumi timur dan barat, dan pandulah dia ke samudera supaya mereka mengenal nama, sosok, dan sifat-sifatnya; dan supaya mereka tahu bahwa akan disebut-sebut di samudera-samudera Al-Mahdi (Yang menghapus) sebab dia akan menghapus segala kesyirikan.”
 
Lalu awan itu tiba-tiba lenyap, dan aduhai, dia dalam keadaan berbaring dengan berbusana bulu domba putih, dan di bawahnya terhampar alas hijau dari sutera.
 
Dia memegang tiga kunci dari mutiara-mutiara putih, dan seseorang berseru,“Lihatlah, di tangan Muhammad tergenggam kunci kemenangan, kunci pertumpahan darah, dan kunci kenabian.”
 
Muhammad dilahirkan dalam keadaan bebas dari segala kotoran jasmani. Dia lahir dalam keadaan tersunat.
 
Suleyman Chelebi, penyair Turki termashur, melukiskan tentang kelahiran Muhammad dengan penuh ketakjuban:
 
Aminah Khatun, ibu Muhammad tercinta
Dari tiram ini keluar mutiara kemilau itu.
 
Setelah menikah dengan Abdullah
Tiba masa kehamilan, berhari-hari, berminggu-minggu.
 
Kala kian dekat saat kelahiran Muhammad
Maujud banyak tanda kedatangannya!
 
Pada bulan Rabiul Awwal,
Pada hari kedua belas, malam Senin,
 
Ketika lahir sebaik-baik insan
Betapa keajaiban-keajaiban disaksikan ibunya!
 
Tutur ibu sahabat itu: Kulihat
Sebuah Cahaya nan luar biasa;
 
 mentari bak ngengatnya.
Mendadak sontak mencuat dari rumahku
 
Menerangi alam hingga ke langit.
Langit terbuka, sirnalah kegelapan
 
Dan kulihat tiga malaikat membawa bendera.
Satu di timur, satu di barat
Satu berdiri tegak di atas Ka’bah.
 
Barisan malaikat turun dari langit
Mengelilingi segenap penjuru rumahku
 
Turun para bidadari berkelompok-kelompok
Cahaya dari wajah-wajah mereka membuat rumahku terang benderang!
 
Dan kain terhampar di udara
Kain sutera berlungsing emas – dihamparkan satu malaikat.
 
Kala peristiwa-peristiwa ini demikian jelas kulihat
Bingung aku.
 
Mendadak sontak dinding-dinding terbelah
 
Dan tiga bidadari masuk ke dalam kamarku.
Sebagian bertutur bahwa di antara ketiganya, yang mempesona,
 
Adalah Asiyah yang berparas bagai rembulan,
Yang satu sungguh Maryam,
Dan yang ketiga, bidadari nan cantik.
 
Lalu ketiganya yang berparas bagai rembulan mendekat perlahan-lahan
Dan di sini mereka menyalamiku dengan ramah
 
Lalu mereka duduk di sekelilingku, dan menyampaikan
Berita-berita gembira tentang kelahiran Muhammad
 
Tutur mereka, “Seorang putra seperti putramu ini
Belum pernah lahir semenjak Allah menciptatkan alam ini
 
Dan Yang Mahakuasa tidak pernah mengaruniai
Seorang putra tampak seperti itu seperti putramu.
 
Telah kaudapatkan kebahagiaan luar biasa, Duhai nan tercinta
Sebab darimu lahir sang bajik itu!
 
Dia Raja pengetahuan nan mulia makrifat dan tauhidku.
Karena mencintainya langit berputar
 
Manusia dan jin  merindukan wajahnya.
 
Malam ini malam dia
Akan menerangi alam semesta dengan cahaya berseri-seri!
 
Malam ini bumi jadi surga
Malam ini yang berhati bersuka ria
 
Malam ini menganugerahi para pecinta kehidupan baru.
Bagi alam semesta musthafa,
 
Yang memohonkan ampunan bagi pendosa: Musthafa!
 
Beginilah mereka melukiskannya kepadaku
Bergeloralah kerinduanku akan cahaya barakah itu.”
 
Tutur Aminah, “Kala sudah tiba masanya
Sebaik-baik insan lahir,
 
Aku jadi sedemikian haus lantaran panas itu
 
Lalu mereka memberiku segelas serbat
Kala mereguknya aku tenggelam dalam cahaya.
 
Lalu datang seekor angsa putih bersayap besar nan lembut
Menyentuh tubuhku dengan lembut.
 
Dan lahirlah malam itu Raja Iman:
Bumi dan langit tenggelam dalam cahaya!”
 
 
Lalu mulailah Selamat Datang besar dari alam semesta kepada Nabi yang baru lahir, yang kehadirannya telah mereka nanti-nantikan dengan kerinduan semacam itu, suatu selamat datang kepada kekasih Allah, yang kepada keperantaraannya pada Hari Kiamat semua mempercayakan:
 
Selamat datang, Duhai pangeran nan mulia, selamat datang!
Selamat datang, Duhai kearifanku, selamat datang!
 
Selamat datang, duhai rahasia kitab, selamat datang!
Selamat datang, duhai obat bagi penyakit, selamat datang!
 
Selamat datang, duhai cahaya mentari dan cahaya rembulan Allah!
Selamat datang, duhai yang tak terpisah dari Allah, selamat datang!
 
Selamat datang, duhai burung bulbul Taman Keindahan!
Selamat datang, duhai sahabat yang Mahakuasa!
 
Selamat datang, duhai tempat bernaung umat!
Selamat datang, duhai penolong fakir miskin dan si lemah!
 
Selamat datang, duhai ruh nan abadi, selamat datang!
Selamat datang, duhai pembawa cangkir bagi pecinta, selamat datang!
 
Selamat datang, duhai kinasih Yang tercinta!
Selamat datang, duhai yang paling dicintai Tuhan!
 
Selamat datang, duhai pemohon ampun bagi si pendosa!
Hanya demi dikaulah waktu dan ruang diciptakan…
 
Demikian Yunus Emre.
 
Al Barzanji menghabiskan waktunya untuk menulis sejarah nabi dalam bentuk syair, yang juga dikenal sebagai syair Albarzanji.
Ketika seorang anak lahir, seperti halnya juga keempat anak-anak kami, kitab ini, dibacakan sebagai ucapan selamat datang.
 
 
Pesan moral-28:
Salah satu bukti cinta kepada Nabi saw. adalah dengan memperingati hal-hal yang berkaitan dengannya, salah satunya adalah memperingati  hari kelahirannya: Maulid Nabi saw.

Tinggalkan komentar